Kompas.com - 03/05/2021, 20:02 WIB
Saat cuaca cerah dan tak ada polusi cahaya, Milky Way atau Galaksi Bima Sakti bisa terlihat di langit dan difoto menggunakan kamera. Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.comSaat cuaca cerah dan tak ada polusi cahaya, Milky Way atau Galaksi Bima Sakti bisa terlihat di langit dan difoto menggunakan kamera.


KOMPAS.com- Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo mengungkapkan ada fenomena langit menarik yakni selempang galaksi Bima Sakti yang sayang sekali untuk dilewati sembari menemani Anda bersantap sahur.

Dijelaskan Marufin, selempang galaksai Bima Sakti adalah pemandangan langit memesona yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Pada saat santap sahur, manakala langit cerah dan Anda tidak berada di kota besar, maka selempang Bima Sakti akan terlihat jelas," ungkap Marufin, Selasa (20/4/2021). 

Apa itu selempang galaksi Bima Sakti?

Marufin yang juga Pembimbing dan Pendamping Forum Kajian Ilmu Falak (FKIK) Gombong dan Majelis Kajian Ilmu Falak (MKIF) Kebumen Jawa Tengah kembali menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksudkan dengan selempang galaksi Bima Sakti tersebut.

Baca juga: Selempang Galaksi Bima Sakti Hiasi Langit Ramadhan saat Sahur

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Selempang galaksi Bima Sakti adalah bagian dari galaksi Bima Sakti yang bisa disaksikan dari Bumi.

Bima Sakti adalah salah satu galaksi terbesar di jagat raya dan berbentuk cakram, serta merupakan sekumpulan miliaran bintang di alam semesta ini.

Bintang-bintang ini, sebagian besar yang menyusun galaksi Bima Sakti yang terlihat dari tepian galaksi. Galaksi ini mengandung sekitar 100 hingga 400 miliar bintang.

Matahari beserta segenap tata surya terletak di tepi Bima Sakti, sehingga memungkinkan untuk memandang ke sebagian besar struktur galaksi ini. 

"Disebut (fenomena) selempang Bima Sakti karena berbentuk mirip selendang halus yang membujur dari utara ke selatan dengan motif tertentu di bagian-bagiannya," jelasnya.

Baca juga: Mengagumkan, Peta Galaksi Bima Sakti Ini Ungkap Pergerakan Miliaran Bintang

Galaksi bima sakti terpotret tepat segaris dengan teleskop 64 meter di Parkes Observatory.Wayne England Galaksi bima sakti terpotret tepat segaris dengan teleskop 64 meter di Parkes Observatory.

Kapan waktu yang tepat mengamati Selempang galaksi Bima Sakti?

Marufin mengatakan, selempang galaksi Bima Sakti bisa disaksikan menjelang tengah malam hingga dini hari pada bulan April hingga September, sepanjang cuaca cerah. 

Namun, hanya bisa disaksikan di kawasan pedesaan atau kota kecil yang belum terpolusi cahaya (skala Bortle maksimum 3). 

"Selempang Bima Sakti hanya bisa dilihat di daerah yang gelap yang memiliki skala Bortle maksimum 3," jelas Marufin.

Pada skala Bortle maksimum 3, ketampakan selempang ini menjadi indikator apakah lingkungan setempat telah terpolusi cahaya atau belum. 

Baca juga: Gas Aneh Dekati Jantung Galaksi Bima Sakti, Mungkinkah Lubang Hitam?

 

Ketampakan selempang Bima Sakti juga mendatangkan perasaan kagum terutama karena hanya bisa dilihat di malam hari yang situasinya lebih tenang dan lebih sejuk. Sehingga bersifat esoteris. 

Pada waktu sahur, kata Marufin, selempang galaksi Bima Sakti ini akan tampak sangat jelas, membujur dari utara ke selatan.

"Seakan-akan (selempang galaksi Bima Sakti) sedang menyeberangi langit," ujarnya.

Tidak dibutuhkan alat bantu untuk melihatnya. Apabila hendak diabadikan atau difoto, dapat menggunakan kamera ponsel ataupun kamera lebih kompleks seperti DSLR. 

Syarat untuk memotret selempang galaksi Bima Sakti ini adalah pada kecepatan rana lebih dari 5 detik dan pada ISO lebih dari 2000.

 

Baca juga: Astronom Temukan Batas Tepi Galaksi Bima Sakti



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Abdala, Vaksin Covid-19 dari Kuba yang Efikasinya 92 Persen

Mengenal Abdala, Vaksin Covid-19 dari Kuba yang Efikasinya 92 Persen

Oh Begitu
Catat, Tips untuk Ibu Hamil saat Pandemi Covid-19

Catat, Tips untuk Ibu Hamil saat Pandemi Covid-19

Kita
Virus Corona Pernah Mewabah di Asia Timur 25 Ribu Tahun Lalu, Studi Baru Jelaskan

Virus Corona Pernah Mewabah di Asia Timur 25 Ribu Tahun Lalu, Studi Baru Jelaskan

Fenomena
Epidemiolog: Tes Antigen Tidak Digunakan untuk Menghitung Positivity Rate, Kecuali Kasus Tertentu

Epidemiolog: Tes Antigen Tidak Digunakan untuk Menghitung Positivity Rate, Kecuali Kasus Tertentu

Oh Begitu
Ilmuwan Sebut Virus Corona Mampu Beradaptasi Sangat Baik dalam Menginfeksi Manusia

Ilmuwan Sebut Virus Corona Mampu Beradaptasi Sangat Baik dalam Menginfeksi Manusia

Oh Begitu
24 Juni Positivity Rate Indonesia 44,37 Persen, Artinya 10 Kali Lipat Standar WHO

24 Juni Positivity Rate Indonesia 44,37 Persen, Artinya 10 Kali Lipat Standar WHO

Oh Begitu
Virusnya Terus Bermutasi, Ini Gejala Covid Terbaru Menurut Ahli

Virusnya Terus Bermutasi, Ini Gejala Covid Terbaru Menurut Ahli

Kita
Manusia Purba Jenis Baru Ditemukan di Israel, Diduga Nenek Moyang Neanderthal

Manusia Purba Jenis Baru Ditemukan di Israel, Diduga Nenek Moyang Neanderthal

Oh Begitu
Diare Bisa Jadi Gejala Covid-19, Begini Kata Peneliti

Diare Bisa Jadi Gejala Covid-19, Begini Kata Peneliti

Kita
Berukuran Jauh Lebih Kecil, Laba-laba Berbisa Sering Memangsa Ular

Berukuran Jauh Lebih Kecil, Laba-laba Berbisa Sering Memangsa Ular

Fenomena
Unta Bertahan Hidup Tanpa Minum, Apa Rahasianya?

Unta Bertahan Hidup Tanpa Minum, Apa Rahasianya?

Fenomena
Inilah Korban Serangan Hiu Tertua, Berasal dari 3.000 Tahun Lalu

Inilah Korban Serangan Hiu Tertua, Berasal dari 3.000 Tahun Lalu

Fenomena
Ilmuwan Amatir Temukan 2 Exoplanet Mengorbit Bintang Mirip Matahari, Apa Itu?

Ilmuwan Amatir Temukan 2 Exoplanet Mengorbit Bintang Mirip Matahari, Apa Itu?

Fenomena
Varian Delta Lebih Menular dan Berbahaya dari Virus Corona Dominan

Varian Delta Lebih Menular dan Berbahaya dari Virus Corona Dominan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Fenomena Bulan Purnama Stroberi | Kenapa Masih Hujan?

[POPULER SAINS] Fenomena Bulan Purnama Stroberi | Kenapa Masih Hujan?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X