Kompas.com - 02/05/2021, 10:00 WIB
Gambar yang diambil oleh satelit Aqua NASA saat melewati Indonesia, menangkap bukti adanya gelombang soliter internal atau internal solitary wave di area yang sama di mana kapal selam KRI Nanggala-402 menghilang awal bulan ini. Jeff Schmaltz/, MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC Gambar yang diambil oleh satelit Aqua NASA saat melewati Indonesia, menangkap bukti adanya gelombang soliter internal atau internal solitary wave di area yang sama di mana kapal selam KRI Nanggala-402 menghilang awal bulan ini.

KOMPAS.com - Belum ada penyebab resmi yang ditetapkan untuk insiden KRI Nanggala-402 yang mengakibatkan gugurnya 53 awak kapal selam di dalamnya.

Kendati demikian, ada beberapa spekulasi yang dikaitkan dengan KRI Nanggala-402.

Salah satunya, fenomena bawah laut yang telah dialami banyak kapal selam, setidaknya sejak Perang Dunia II.

Baca juga: Memahami Tekanan Hidrostatis dari Peristiwa KRI Nanggala-402

Dugaan faktor alam yang memengaruhi insiden KRI Nanggala-402

Diberitakan Kompas.com edisi Selasa (27/4/2021), Asisten Perencanaan dan Anggaran KSAL Laksamana Muda Muhammad Ali menyebut, tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 dapat dipengaruhi arus bawah laut.

"Masalah faktor alam, ini tentunya pada saat kapal selam di permukaan mungkin hampir sama dengan faktor alam yang dialami kapal atas air. Tapi pada saat kapal selam menyelam, mungkin yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut," kata Ali dalam konferensi pers, Selasa (27/4/2021).

Ali menjelaskan, arus bawah laut tersebut memiliki kondisi berbeda di masing-masing tempat.

Namun, kata dia, awak kapal selam pasti dibekali buku panduan untuk memahami kondisi perairan yang akan dilayari, baik dari faktor oseanografi maupun hidrografinya.

Ali melanjutkan, terkait faktor alam, ada juga yang disebut dengan internal solitary wave.

"Ada internal solitary wave ini juga berdasarkan beberapa pakar ahli oseanografi itu ada arus bawah laut yang cukup kuat yang bisa menarik secara vertikal," kata dia.

Akibatnya, kapal dapat 'jatuh' lebih cepat ke arah dasar laut dari biasanya. Untuk mengatasi itu, awak kapal selam mesti menggunakan tenaga pendorong yang lebih kuat dari biasanya.

Halaman:


Sumber NPR
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X