Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Akses Air Minum Indonesia sudah Layak, tapi Hanya 11,2 Persen yang Aman

Kompas.com - 01/05/2021, 12:02 WIB
Ellyvon Pranita,
Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Tim Redaksi


KOMPAS.com- Untuk mewujudkan masyarakat sehat, para ahli meyakini bahwa hal itu bisa diciptakan dengan memenuhi kebutuhan dasarnya, salah satunya adalah akses air minum yang berkualitas, layak dan aman di Indonesia.

Dengan demikian, seharusnya air minum yang bersih dan berkualitas harusnya bisa diakses dengan mudah oleh seluruh elemen atau lapisan masyarakat di mana pun berada.

Berdasarkan data Susenas BPS tahun 2019, 89 persen masyarakat di Indonesia sudah memiliki akses sumber air minum yang layak dan terlindungi.

Namun, berdasarkan data proyeksi nasional tahun 2019 berbasis studi UNICEF dan data BPS di Provinsi DI Yogyakarta, ternyata hanya 6,9 persen saja sumber air minum di masyarakat yang masuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi.

Hal ini dianggap mengkhawatirkan karena sumber air minum yang tidak aman bisa menjadi sumber dari berbagai penyakit bagi semua golongan usia mulai dari anak-anak hingga dewasa dan lansia.

Baca juga: Tubuh Manusia Telah Berevolusi, Hanya Butuh Sedikit Air Minum untuk Hidup

 

Terlebih lagi, Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Ir Doddy Izwardy MA mengatakan, 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari sarana yang terkontaminasi.

Dijelaskannya, sarana air minum itu banyak terkontaminasi oleh bakteri Escherichia coli (E. coli). Untuk diketahui, bakteri E. coli adalah bakteri yang hidup di dalam usus manusia untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Meski baik untuk menjaga kesehatan pencernaan, tetapi beberapa jenis bakteri E. coli justru menyebabkan penyakit infeksi seperti infeksi pada kantung empedu, saluran kemih, selaput otak, paru-paru dan saluran pencernaan.

Salah satu penyakit saluran pencernaan yang paling mudah terjadi akibat air minum yang tidak aman ini adalah diare. Padahal, diare adalah penyakit ketujuh yang banyak menyebabkan kematian, terlebih jika yang menderita adalah anak-anak.

Baca juga: Sering Pakai Ulang Botol Plastik Bekas Air Minum? Ini Bahayanya

 

Dampak berbahaya air minum yang tidak aman ini adalah anak mengalami stunting. Dengan demikian, kebutuhan kita sehari-hari bukanlah hanya melihat air minum itu layak atau tidak saja. Melainkan juga harus diketahui air tersebut aman atau tidak.

Akses air minum aman

Disampaikan Doddy, akses air minum aman dan layak di Indonesia mencapai rata-rata 93 persen. Untuk di perkotaan akses air minum layak mencapai 97,6 persen, dan di pedesaan sekitar 87,1 persen.

Akan tetapi, hal ini sedikit berbalik dengan pencapaian akses air minum aman yakni rata-rata hanya mencapai 11,9 persen saja.

Untuk di daerah perkotaan akses air minum aman terdata baru 15,3 persen. Sedangkan, di pedesaan akses air minum aman rumah tangga hanya sekitar 8,3 persen.

Baca juga: Teknologi Ramah Lingkungan Pasok Air Minum untuk Pengungsi Rohingya

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com