Covid-19 India Diprediksi Capai Puncak 500.000 Kasus Harian pada 2 Minggu Lagi

Kompas.com - 26/04/2021, 16:29 WIB
Seorang anggota keluarga memakai alat pelindung diri (APD) di sebelah jenazah seorang wanita, yang meninggal akibat terinfeksi virus corona (Covid-19) sebelum dikremasi, di krematorium, New Delhi, India, Sabtu (24/4/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/ADNAN ABIDISeorang anggota keluarga memakai alat pelindung diri (APD) di sebelah jenazah seorang wanita, yang meninggal akibat terinfeksi virus corona (Covid-19) sebelum dikremasi, di krematorium, New Delhi, India, Sabtu (24/4/2021).


KOMPAS.com - Kasus Covid-19 di India diprediksi akan mencapai puncaknya dua minggu lagi dengan rekor infeksi harian hingga 500.000 kasus.

Pejabat Delhi mengumumkan pada Minggu (25/4/2021), ibu kota India ini akan memperpanjang lockdown.

"Situasi (infeksi) virus corona semakin memburuk, itulah sebabnya kami memulai lockdown selama enam hari pada pekan lalu. Dengan kasus yang meningkat sangat cepat, kami perlu memulai lockdown. Itu senjata yang kami gunakan untuk melawan pandemi," kata Arvin Kejriwal, Kepala menteri Delhi kepada media.

"Mengingat kasus masih meningkat, kami telah berkonsultasi dengan masyarakat Delhi dan memutuskan untuk memperpanjang lockdown satu minggu lagi," imbuhnya
seperti dilansir dari The Independent, Senin (26/4/2021).

India mencatat ada 349.691 kasus baru Covid-19 dan 2.767 kematian dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Covid-19 di India, Benarkah Mutasi Virus Corona Tak Terdeteksi PCR?

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Dengan angka tersebut, India telah mencatat lonjakan kasus Covid-19 tertinggi di dunia selama empat hari berturut-turut.

Sebanyak 54 persen di antaranya, kasus Covid-19 terjadi paling banyak di lima negara bagian, yakni Maharashtra, Uttar Pradesh, Karnataka, Gujarat dan Kerala.

Lonjakan kasus Covid-19 di India diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Mei, dengan jumlah infeksi harian mencapai setengah juta kasus, menurut The Indian Express, mengutip penilaian internal pemerintah.

"Itulah yang disarankan oleh beberapa (permodelan) model virus," kata Shahid Jameel, direktur biosains di Ashoka University, dekat Delhi.

Kasus Covid-19 di India telah menyebabkan lonjakan penerimaan pasien di rumah sakit.

Baca juga: Picu Lonjakan Kasus India, Varian Mutasi Ganda Ada di 10 Negara Lain

Anggota keluarga berduka setelah Shayam Narayan dinyatakan meninggal dunia di luar bangsal penyakit virus korona (COVID-19) di rumah sakit Guru Teg Bahadur, di tengah penyebaran penyakit tersebut di New Delhi, India, Jumat (23/4/2021).ANTARA FOTO/REUTERS/DANISH SIDDIQUI Anggota keluarga berduka setelah Shayam Narayan dinyatakan meninggal dunia di luar bangsal penyakit virus korona (COVID-19) di rumah sakit Guru Teg Bahadur, di tengah penyebaran penyakit tersebut di New Delhi, India, Jumat (23/4/2021).

Bahkan, rumah sakit di negara ini mulai kehabisan pasokan oksigen, menekan harga persediaan oksigen yang tersisa.

Hal ini juga memungkinkan akses pasien ke perawatan rumah sakit swasta, yang berpotensi dapat menyelamatkan nyawa orang-orang.

Sementara itu, pasien yang tidak mampu sangat bergantung pada rumah sakit pemerintah dengan perawatan gratis.

Namun kini rumah sakit ini juga mulai penuh sesak, di mana tempat tidur hampir habis, menciptakan kondisi yang sangat kacau di pelayanan kesehatan milik pemerintah setempat.

Baca juga: Varian Mutasi Ganda Picu Lonjakan Kasus Covid-19 India, Ini Kata Ahli

 

Amerika Serikat dan Inggris menyatakan akan memberikan dukungan untuk membantu mengatasi krisis Covid-19 yang dialami India.

Sementara beberapa orang menyalahkan munculnya mutasi ganda dari varian baru virus corona India, yang menyebabkan 'tsunami Covid-19' di negara tersebut.

Namun, beberapa ahli menegaskan lonjakan kasus Covid-19 di India ini adalah sebagai akibat karena cepat berpuas diri.

"Bukan varian virus dan mutasi yang menjadi penyebab utama peningkatan infeksi (Covid-19 di India) saat ini. Ini adalah varian dari ketidakmampuan dan pengabaian pemikiran kesehatan masyarakat oleh pembuat keputusan," kata Dr Anant Bhan, pakar bioetika dan kesehatan global.

Baca juga: India Embargo Vaksin Covid-19, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X