Kompas.com - 24/04/2021, 09:11 WIB
Ilustrasi kanker. Penyebab kanker tidak hanya karena adanya faktor genetik, tetapi beberapa zat makanan juga dapat menjadi pemicu penyakit kanker. ShutterstockIlustrasi kanker. Penyebab kanker tidak hanya karena adanya faktor genetik, tetapi beberapa zat makanan juga dapat menjadi pemicu penyakit kanker.


KOMPAS.com- Kematian akibat kanker di seluruh dunia terus meningkat. Penyebab kanker tidak hanya dari faktor genetik, tetapi juga pola makan, bahkan beberapa zat makanan bisa menjadi pemicu penyakit ini.

Data menunjukkan bahwa angka kasus baru dan kematian akibat kanker di Indonesia meningkat sekitar 8,8 persen hanya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Data ini disimpulkan berdasarkan studi Global Burden of Cancer Study (Globocan) pada tahun 2018 dan 2020. 

Berdasarkan data Globocan, angka kejadian kanker di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari angka kasus baru maupun kematian akibat kanker.

Jika pada tahun 2018 angka kasus baru tercatat 348.809, maka kasus kanker di Indonesia 2020 menjadi 396.914 kasus. Sedangkan, angka kematian akibat kanker pada tahun 2018 sebesar 207.210 juga meningkat menjadi 234.511 kasus.

Dokter Spesialis Onkologi dari OMNi Hospital, Dr dr Denni Joko Purwanto mengatakan bahwa 43 persen kanker dapat dicegah. Serta, 30 persen penyakit kanker dapat dikontrol bila ditangani secara dini.

Baca juga: Kenali 3 Bahan Kimia Pemicu Kanker yang Ada di Makanan Anda

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Dikarenakan sebagian besar kanker dipengaruhi oleh faktor genetik atau keturunan, tetapi pola makan dan gaya hidup adalah faktor risiko kanker yang masih bisa diubah.

"Memang sebagian besar nutrisi makanan belum diketahui hubungannya secara jelas dapat menyebabkan penyakit tidak menular kanker," kata Denni dalam diskusi daring bertajuk Kalbe Integrasikan Layanan Deteksi Dini Kanker Melalui Klikdokter dan One Onco, Kamis (22/4/2021).

Akan tetapi, lanjut Denni, ada pula nutrisi atau zat di dalam makanan yang sudah diketahui memang bisa menjadi pemicu kanker adalah sebagai berikut.

Baca juga: Awas, Pemicu Kanker Paru Bukan Hanya Rokok!

 

1. Kontaminan logam berat

Ia menyebutkan setidaknya ada dua senyawa yang termasuk dalam kategori kontaminan logam berat dan memicu seseorang menderita tumor ganas atau kanker. Dua logam berat yang dimaksudkan adalah Kadmium dan Merkuri.

Pertama, Kadmium (Cd).

Kadmium (Cd) adalah logam non-esensial yang sering mencemari lingkungan dan mengakibatkan toksik atau racun pada hewan dan manusia.

Sifatnya yang mudah tertimbun dalam jaringan, menyebabkan Cd mudah mencemari pakan ternak baik hijauan maupun biji-bijian dan juga dalam jaringan lemak.

Ketika logam Cd ini masuk ke rantai pakan dan makanan, lalu zat ini dikonsumsi ternak dan manusia, maka bisa mengakibatkan keracunan, baik akut ataupun kronis kronis, sehingga dapat menurunkan kesehatan dan daya produksi ternak. Bahkan, menjadi pemicu penyakit kanker pada manusia.

Baca juga: Pilah Bahan Makanan Tepat untuk Hindari Pemicu Kanker, Ini Syaratnya

Ilustrasi sel kanker payudaraShutterstock Ilustrasi sel kanker payudara

Kedua, Merkuri.

Merkuri adalah salah satu jenis logam berat beracun, yang dilepaskan dalam bentuk uap dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. 

Seperti diketahui, senyawa merkuri lebih banyak dipakai dalam pembuatan produk kecantikan ilegal. Tetapi, ternyata zat berbahaya ini dapat menjadi pemicu penyakit kanker, apabila senyawa tersebut masuk ke dalam rantai makanan kita.

Hal ini terjadi ketika, pembakaran bahan bakar fosil dilakukan, udara yang dilepaskan tersebut mengandung senyawa Merkuri. Saat udara itu jatuh kembali ke Bumi, maka akan diserap ekosistem perairan.

Ekosistem perairan ini merupakan rantai makanan yang berkaitan dengan hewan-hewan pakan ikan dan lain sebagainya, beserta tumbuhan, dan akan berbahaya jika dikonsumsi oleh kita manusia.

Baca juga: Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

 

2. Hormon pertumbuhan

Selain senyawa Cd dan merkuri, pola makan yang juga bisa memicu penyakit kanker adalah hal-hal yang berkaitan dengan gangguan hormon pertumbuhan.

Beberapa diantaranya yang disebutkan adalah antibiotik, pestisida, BOA, dan phthalate. Dengan catatan, kata dia, senyawa atau zat yang termasuk kelompok hormon pertumbuhan ini juga masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, apakah benar memicu kanker yang diderita atau tidak.

"Phthalate ini bisa memicu secara tidak langsung karena termasuk hormone-like substance," ujar dia.

3. Garam (pengasinan)

Kelebihan memakan atau mengonsumsi makanan yang mengandung terlalu banyak garam juga dinyatakan dapat memicu berbagai jenis penyakit kanker.

Baca juga: Kasus Baru dan Kematian akibat Kanker di Indonesia Naik 8,8 Persen

 

Garam yang dimaksudkan tidak hanya berupa garam dapur saat Anda masak saja. Tetapi, produk panganan yang diolah dengan cara diasinkan juga berisiko meningkatkan potensi kanker.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Profesor DR Dr Aru W Yudoyo SpPD KHOM FINASIM FACP mengatakan, ikan asin menjadi salah satu bahan makanan yang dapat memicu kanker.

Pada dasarnya daging ikan memiliki protein yang baik bagi tubuh manusia. Namun, proses sampai daging ikan menjadi kering dan memiliki rasa yang asin itulah yang patut diperhatikan.

"Nah ikan asin, garamnya itu tinggi sekali. Garam dalam dosis tinggi itulah yang dapat memicu sel kanker. Meski daging ikannya awalnya tidak apa-apa," kata Aru seperti pemberitaan Kompas.com, (17/10/2019).

Konsumsi ikan asin tidak akan menjadi masalah jika tidak dilakukan secara berlebihan atau hanya sesekali jika benar-benar menginginkannya. Bahkan, di dalam ikan asin juga terkandung zat nitrosamin yang bersifat karsinogenik pemicu kanker.

Baca juga: Penyebab Kanker Serviks dan 5 Faktor Risikonya, Apa Saja?

Ilustrasi kanker usus besar yang berpotensi menyerang orang dewasa usia muda. SHUTTERSTOCK/crystal light Ilustrasi kanker usus besar yang berpotensi menyerang orang dewasa usia muda.

4. Senyawa nitrit

Asupan makanan pemicu kanker berikutnya adalah makanan yang mengandung senyawa nitrit. Senyawa nitrit adalah ion-ion anorganik alami, yang merupakan bagian dari siklus nitrogen.

Aktivitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang menganding nitrogen organik awalnya akan menjadi ammonia, kemudian dioksidasikan menjadi nitrit atau nitrat.

Senyawa yang satu ini berbahaya, tetapi seringkali digunakan dalam pengolahan daging. Jika daging ini dikonsumsi oleh manusia, maka akan meningkat pula konsentrasi nitrit di dalam darah.

Sebagai contoh, nitrit yang sering ditambahkan dalam daging kemasan seperti hot dog. Zat ini memperlambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya pada daging.

Baca juga: Belajar dari Kak Seto, Ketahui 4 Faktor Risiko Kanker Prostat

 

Menurut ahli nutrisi Atli Arnarson, zat tambahan itu akan mengubah daging menjadi kandungan tertentu yang terkait dengan kanker, baik saat pembuatan atau pemasakan.

International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga riset kanker di bawah WHO, mengelompokkan nitrat dan nitrit ke dalam "kemungkinan karsinogen pada manusia".

Sebab, saat daging yang memiliki kandungan zat itu digoreng atau dibakar di suhu tinggi, bisa berubah menjadi N-nitroso, seperti nitrosamin, yang memang bersifat karsinogen.

Berdasarkan penelitian, orang yang sering mengonsumsi daging yang diproses memiliki insiden kanker lambung, esofagus dan kanker usus lebih besar.

Baca juga: Mengenal Bakteri Penyebab Tukak Lambung Bisa Memicu Kanker

 

5. Senyawa Anilin (pewarna tekstil)

Anilin adalah bahan kimia yang dapat dibuat dari beberapa macam cara dan bahan, serta digunakan untuk membuat berbagai macam produk kimia.

Meskipun sudah ada larangan tegas dari pihak berwenang dalam penggunaan anilin. Akan tetapi, senyawa anilin di dalam pewarna tekstil masih seringkali dipergunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab sebagai pewarna dalam pembuatan makanan.

Padahal, Anilin memiliki karakteristik beracun bila terhirup, jika tekena kulit dan juga jika tertelan.

Adapun bahayanya yaitu dapat menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh, mulai dari kerusakan mata, reaksi alergi pada kulit hingga kanker jika terpapar dalam waktu yang lama dan berulang-ulang.

Baca juga: Kanker Serviks Kini Bisa Menyerang Kaum Milenial



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

Oh Begitu
Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Oh Begitu
5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

Kita
7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

Oh Begitu
Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Oh Begitu
Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Oh Begitu
4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

Kita
Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Oh Begitu
13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

Kita
Viral Matahari Terbit dari Utara di Jeneponto, Ahli Sebut Itu Kejadian Bingung Arah

Viral Matahari Terbit dari Utara di Jeneponto, Ahli Sebut Itu Kejadian Bingung Arah

Fenomena
Peneliti Ungkap Gejala Varian Delta yang Berbeda dari Gejala Klasik Covid-19

Peneliti Ungkap Gejala Varian Delta yang Berbeda dari Gejala Klasik Covid-19

Oh Begitu
7 Langkah Isolasi Mandiri di Rumah Agar Cepat Pulih

7 Langkah Isolasi Mandiri di Rumah Agar Cepat Pulih

Kita
Ikan dari Zaman Dinosaurus Ini Bisa Hidup Sampai 1 Abad, Hamil 5 Tahun

Ikan dari Zaman Dinosaurus Ini Bisa Hidup Sampai 1 Abad, Hamil 5 Tahun

Oh Begitu
Bisakah Kita Menghentikan Waktu? Ini Jawaban Para Ahli

Bisakah Kita Menghentikan Waktu? Ini Jawaban Para Ahli

Oh Begitu
komentar
Close Ads X