[POPULER SAINS] Sejarah Porang di Indonesia Berhubungan dengan Penjajah Jepang | Hari Bumi dan Perubahan Iklim Indonesia

Kompas.com - 23/04/2021, 06:02 WIB
Desa Rana Kulang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT menjadi pusat Tanaman porang. ribuan tanaman porang ditanam oleh petani dan juga ada petani milenial Porang di desa tersebut, Februari 2021. (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR) KOMPAS.COM/MARKUS MAKURDesa Rana Kulang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT menjadi pusat Tanaman porang. ribuan tanaman porang ditanam oleh petani dan juga ada petani milenial Porang di desa tersebut, Februari 2021. (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)

KOMPAS.com - Porang menjadi salah satu komoditas primadona bagi petani Indonesia saat ini. Ternyata, sejarah porang di Indonesia tak lepas dari peran penjajah Jepang saat menduduki Nusantara.

Ini adalah salah satu berita populer Sains edisi Kamis, 22 April 2021.

Selain porang, berita populer lainnya adalah temuan arena gladiator romawi yang ditemukan di Turki, 6 penyebab miss V gatal, hingga 10 dampak perubahan iklim di Indonesia dan hari Bumi.

Baca juga: [POPULER SAINS] Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur | Jenis Vaksin Covid-19

Berikut ulasan berita populer Sains:

1. Sejarah porang, berhubungan dengan penjajah Jepang di Indonesia

Guru Besar sekaligus Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Edi Santosa, S.P, M.Si mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada bukti sejarah yang pasti mengenai pemanfaat tanaman porang oleh masyarakat Indonesia.

Namun, menurut beberapa referensi dibacanya, porang pada awalnya merupakan tanaman hutan. Porang tidak pernah dibudidayakan jadi bahan pangan.

Diketahui, pemanfaatan porang atau iles-iles ini sudah dimulai sejak masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Sebelumnya, Jepang telah membudidayakan salah satu jenis Amorphophallus, tepatnya A. Konjac di negaranya.

Saat menjajah Indonesia, Jepang menemukan porang (A. muelleri) di Indonesia.

Karena mirip dengan A. Konjac, Jepang memanfaatkan porang sebagai logistik pangan selama menduduki Indonesia. Saat itu petani Indonesia belum tahu manfaat porang.

“Paling banyak yang dibawa itu adalah porang (iles-iles atau A. muelleri) dan acung (Walur atau A. Variabilis)," kata Edi kepada Kompas.com, Sabtu (4/4/2021).

Saat itu Jepang memanfaatkan kedua tanaman ini untuk logistik perang, terutama untuk sumber makanan.

Baca selengkapnya di sini:

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X