Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Kompas.com - 21/04/2021, 12:15 WIB
Bantuan berupa satu butir telur, sebungkus mie instan dan beras sekilo yang diperoleh Meidel Amtiran (46), warga RT 007 RW 004 Kelurahan Teunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT dari pemerintah setempat Dokumen Meidel AmtiranBantuan berupa satu butir telur, sebungkus mie instan dan beras sekilo yang diperoleh Meidel Amtiran (46), warga RT 007 RW 004 Kelurahan Teunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT dari pemerintah setempat

KOMPAS.com - Banjir bandang serta tanah longsor akibat siklon tropis seroja terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi NTT, pada Minggu (4/4/2021).

Banjir yang merendam ratusan rumah mengakibatkan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Umumnya, masyarakat yang berada di tempat pengungsian mendapatkan pasokan makanan dari para relawan dan pemerintah.

Baca juga: Kesal Dapat Bantuan 1 Butir Telur dan Sebungkus Mi Instan, Korban Bencana NTT: Ini Lelucon, Kami Dihina

Namun baru-baru ini, warga di Kelurahan Teunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), merasa kecewa dengan bantuan yang diberikan oleh Pemkab Kupang.

Pasalnya, bantuan yang mereka dapat hanya berupa satu butir telur, sebungkus mi instan, dan satu kilogram beras.

Sejumlah warga korban bencana menilai hal tersebut merupakan sebuah penghinaan terhadap mereka.

“Ini bantuan aneh. Kami merasa seperti diolok-olok oleh pemerintah dengan bantuan beras satu kilo dan telur sebutir, ditambah mie satu bungkus," kata Bureni saat dikonfirmasi, Selasa (20/4/2021).

Dalam pemberitaan Kompas.com sebelumnya (9/2/2021), ahli gizi mengingatkan bahwa makanan ultra proses, seperti mie, harus dihindari dalam respons tanggap darurat bencana.

Dokter, filsuf dan ahli gizi komunitas, Dr dr Tan Shot Yen M Hum menegaskan, konsumsi pangan untuk korban bencana yang harus tersedia bukanlah makanan yang sekadar bisa disediakan atau seadanya, tetapi harus aman untuk dikonsumsi para korban di pengungsian.

Hal ini penting, agar makanan hasil sumbangsih para sukarelawan dan pemerintah, yang dikonsumsi di pengungsian, tidak menjerumuskan para pengungsi korban bencana pada gangguan kesehatan di masa mendatang.

Menurutnya, jika ingin membantu para korban bencana, makanan yang dikirim harus kaya manfaat.

"Jangan membuat para pengungsi terpaksa mengonsumsi makanan yang dimasak dari hasil campuran produk makanan ultra-proses (UPF)," ujar dr.Tan kepada Kompas.com, Senin (8/2/2021) .

Baca juga: 4 Alasan Jangan Donasi Produk Susu untuk Korban Bencana di Pengungsian

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X