Kompas.com - 21/04/2021, 10:02 WIB
RA Kartini WIKIMEDIA COMMONS/GPL FDLRA Kartini

Dinas Layanan Medis Sipil pada 1809 mengeluarkan aturan, dokter-dokter di kota besar seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang ditugaskan melatih perempuan pribumi dan Eropa menjadi bidan. Tugas serupa juga dibebankan pada bidan-bidan Eropa mulai 1817.

Baca juga: Kisah Kartini yang Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun

Namun, keinginan Kartini tak tercapai. Untuk mewujudkan keinginannya bersekolah, Kartini memerlukan izin ayahnya.

“Stella, maafkanlah seorang ayah yang bimbang melepaskan anak-anaknya kepada nasib yang tidak tentu,” kata Kartini, yang juga dibebani oleh kondisi kesehatan ayahnya.

Kartini tak tega meninggalkan ayahnya dalam kondisi lemah.

“Saya tidak akan dapat tenang sekejap pun apabila saya tahu ayah menderita dan memerlukan pertolongan,” katanya.

Pada akhirnya, Kartini tak jadi memenuhi harapannya untuk melanjutkan sekolah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia meninggal pada 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya dengan bantuan dokter Ravesteijn.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X