Kompas.com - 18/04/2021, 18:29 WIB
Seorang petugas layanan kesehatan menunjukkan botol dan sekotak vaksin AstraZeneca, 19 Maret 2021. REUTERS/MASSIMO PINCA via VOA INDONESIASeorang petugas layanan kesehatan menunjukkan botol dan sekotak vaksin AstraZeneca, 19 Maret 2021.

KOMPAS.com - Belakangan ini ramai pembahasan tentang risiko pembekuan darah sebagai efek samping dari beberapa vaksin Covid-19, termasuk vaksin Oxford-AstraZeneca.

Risiko pembekuan darah setelah mendapatkan vaksin Covid-19 ini menimbulkan kontroversi dalam beberapa pekan terakhir.

Fokus utamanya adalah pada vaksin AstraZeneca, tetapi minggu ini AS rupanya juga menghentikan penggunaan vaksin Johnson & Johnson Janssen, setelah enam kasus pembekuan darah langka dilaporkan.

Baca juga: Terjadi Kasus Pembekuan Darah Langka, Vaksin Johnson & Johnson Kemungkinan Dihentikan Sementara di AS

Namun sebuah penelitian mengungkap, risiko pembekuan darah karena Covid-19 delapan kali lebih tinggi ketimbang risiko pembekuan darah yang mungkin muncul setelah menerima vaksin AstraZeneca.

Ilmuwan di Universitas Oxford membandingkan risiko pembekuan darah langka di otak, yang dikenal sebagai cerebral venous thrombosis (CVT) atau trombosis vena serebral setelah terinfeksi Covid-19 dengan risiko setelah vaksinasi, termasuk vaksin mRNA, seperti Pfizer dan Moderna, serta vaksin AstraZeneca- Oxford.

Temuan kuncinya adalah, bahwa risiko trombosis vena serebral (CVT) dari Covid-19 sekitar delapan kali lebih besar dibandingkan dengan vaksin AstraZeneca-Oxford, sedangkan risiko CVT dari Covid-19 sekitar 10 kali lebih besar dibandingkan dengan vaksin mRNA.

Ilustrasi virus corona menyebabkan pembekuan darah.SHUTTERSTOCK/Design_Cells Ilustrasi virus corona menyebabkan pembekuan darah.

Melansir IFL Science, dalam penelitian terhadap lebih dari 500.000 pasien Covid-19, CVT terjadi pada 39 dari 1 juta pasien.

Sementara di lebih dari 480.000 orang yang menerima vaksin Covid-19 mRNA (Pfizer atau Moderna), CVT terjadi pada 4 dari 1 juta orang.

Trombosis vena serebral (CVT) dilaporkan terjadi pada sekitar 5 dari 1 juta orang setelah dosis pertama vaksin Covid-19 AstraZeneca-Oxford.

Studi ini belum ditinjau oleh sejawat, tetapi karena sifat perdebatannya yang tepat waktu, studi tersebut telah diterbitkan sebagai makalah pracetak di Open Science Framework.

Sementara banyak perdebatan masih terus berlangsung, seputar apakah risiko vaksin Covid-19 lebih besar daripada manfaatnya, otoritas kesehatan Inggris dan Eropa menyimpulkan bahwa manfaat menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca jauh lebih besar daripada potensi risikonya bagi sebagian besar orang.

Baca juga: Ahli Jelaskan Mengapa Beberapa Vaksin Covid-19 Sebabkan Pembekuan Darah

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X