Kompas.com - 15/04/2021, 09:03 WIB
Ilustrasi virus corona menyebabkan pembekuan darah. SHUTTERSTOCK/Design_CellsIlustrasi virus corona menyebabkan pembekuan darah.

Penyebab pembekuan darah

Lantas sebenarnya apa yang menyebabkan pembekuan darah?

Dalam kasus Oxford / AstraZeneca, banyak dari mereka yang mengalami pembekuan darah telah dites positif untuk antibodi yang mengikat molekul yang dilepaskan oleh trombosit, yang disebut faktor trombosit 4 atau PF4.

Menurut Andreas Greinacher dari Universitas Greifswald, Jerman, vaksin entah bagaimana dapat memicu produksi antibodi tersebut, yang menyebabkan beberapa gumpalan kecil terbentuk di dalam darah dan dapat menggunakan trombosit.

“Ini menyerupai sindrom di mana antibodi serupa dapat dipicu oleh pengobatan pengencer darah heparin,” kata Greinacher, yang merupakan ahli dalam efek samping heparin.

Baca juga: 6 Tanda Terjadi Pembekuan Darah

Pedoman yang baru-baru ini dikeluarkan di beberapa negara menyarankan, tes untuk antibodi trombosit harus diberikan jika seseorang memiliki gejala yang menunjukkan sindrom pembekuan darah dalam dua minggu setelah mendapatkan vaksin Covid-19.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika positif, mereka harus mendapat perawatan yang sama, yang biasanya diberikan kepada orang-orang yang mengalami efek samping heparin yang langka, yang berbeda dengan yang diberikan untuk pembekuan darah biasa.

Greinacher mengatakan, penelitian sebelumnya pada tikus menunjukkan bahwa DNA dapat mengikat PF4, memicu pembentukan antibodi, dan meningkatkan pembekuan darah.

Dia kemudian berspekulasi, mungkin itu sebabnya, mengapa efek pembekuan darah hanya tampak pada vaksin berbasis adenovirus yang mengandung DNA.

Vaksin Oxford / AstraZeneca terdiri dari gen untuk protein lonjakan virus Corona yang dibawa dalam DNA adenovirus simpanse - virus flu yang tidak berbahaya.

Vaksin Johnson & Johnson bekerja dengan cara yang sama, tetapi menggunakan DNA dari adenovirus manusia.

Sedangkan vaksin Pfizer / BioNTech dan vaksin Moderna, di sisi lain, didasarkan pada mRNA, untaian materi genetik yang mengkode protein lonjakan, yang memberikan instruksi kepada sel-sel tubuh untuk membuat protein lonjakan.

Peter Marks dari Food and Drug Administration AS juga menyebitkan, tidak ada kasus CVST dengan trombosit rendah yang dilaporkan salah satu dari vaksin tersebut.

“Apa yang kami lihat dengan vaksin Johnson & Johnson terlihat sangat mirip dengan vaksin AstraZeneca,” kata Marks.

“Kami berspekulasi, kemungkinan penyebabnya adalah mekanisme serupa yang mungkin terjadi dengan vaksin vektor adenoviral lainnya.”

Namun menurut Greinacher, sindrom pembekuan darah sebenarnya jarang terjadi. Hal ini menunjukkan, bahwa mereka yang mengalaminya memiliki beberapa faktor lain yang membuat mereka rentan terhadapnya.

“Harus ada faktor pendamping individu untuk memicu ini. Jika tidak, kami akan melihat masalah ini pada lebih banyak individu, tetapi untungnya tidak demikian. "

Marks tidak mengatakan apakah enam kasus yang mengalami pembekuan darah setelah vaksin Johnson & Johnson, memiliki ciri khas antibodi terhadap trombosit.

Tetapi FDA mengatakan, satu alasan menghentikan penggunaan vaksin tersebut adalah untuk memberikan waktu bagi para dokter mempelajari cara mendiagnosis dan mengobati sindrom pembekuan darah yang tidak biasa, dengan tepat.

Baca juga: Kontrasepsi Estrogen dan Pembekuan Darah akibat Covid-19, Apa Hubungannya?

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X