Kompas.com - 14/04/2021, 06:02 WIB
Ilustrasi hujan besi di exoplanet WASP-76b oleh ESO (European Organisation for Astronomical Research). Exoplanet raksasa yang sangat panas dan memiliki suhu sangat ekstrem. Ilustrasi hujan besi di exoplanet WASP-76b oleh ESO (European Organisation for Astronomical Research). Exoplanet raksasa yang sangat panas dan memiliki suhu sangat ekstrem.

KOMPAS.com - Pada hari pertama puasa kemarin, ada 4 berita Populer Sains yang menarik untuk dibaca.

Mulai dari pembahasan kenapa durasi puasa di beberapa negara berbeda. Ada yang puasa sampai 20 jam seperti di Greenland, hingga yang tersingkat 11,5 jam.

Selain itu, penelitian terbaru telah membuktikan bahwa varian virus corona B.1.1.7 tidak menyebabkan Covid-19 parah. Varian yang pertama kali terdeteksi di Inggris itu beberapa waktu terakhir menjadi momok baru di masa pandemi.

Berita lain yang menarik adalah rupa hujan di planet lain. Mungkin ini salah satu fenomena yang menjadi pertanyaan kita, apa di planet lain juga ada hujan dan bagaimana bentuknya?

Terakhir, BMKG kemarin mengumumkan adalah bibit siklon tropis 94W di sekitar Pasifik Barat sebelah utara Papua. Siklon tropis ini bisa berdampak pada kondisi cuaca di Indonesia.

Berikut ulasannya:

1. Kenapa durasi puasa beda-beda?

Ilustrasi RamadhanPixabay/Chiplanay Ilustrasi Ramadhan

Waktu dan durasi puasa Ramadhan di setiap kota dan negara berbeda. Ada negara yang mengalami durasi sangat panjang, ada pula yang singkat.

Astronom amatir Marufin Sudibyo menjelaskan, puasa dimulai saat cahaya fajar astronomis muncul di kaki langit timur dan berakhir ketika piringan teratas Matahari meninggalkan garis kaki langit barat atau terbenam sempurna.

Namun, kedudukan Matahari berbeda-beda mengikuti gerak semu tahunannya, sehingga durasi puasa di seluruh dunia pun berbeda-beda, tergantung kedudukan garis lintangnya.

Indonesia yang berada di kawasan tropis mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh fenomena ini karena kedudukan Matahari yang mengalami gerak semu tahunan di antara garis balik utara (lintang 23,5 LU) hingga garis balik selatan (lintang 23,5 LS).

Namun, lain ceritanya dengan negara-negara di kawasan subtropis. Durasi puasa jadi berbeda-beda seiring peningkatan garis lintang.

Baca artikel selengkapnya di sini:

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X