Kompas.com - 13/04/2021, 12:05 WIB
Ilustrasi mutasi virus corona E484K. Varian ini diketahui merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7. SHUTTERSTOCK/PETERSCHREIBER MEDIAIlustrasi mutasi virus corona E484K. Varian ini diketahui merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7.

KOMPAS.com - Sebelumnya varian baru virus corona Inggris B.1.1.7 disebut bisa menyebabkan Covid-19 dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi dan bahkan risiko kematian yang lebih tinggi.

Namun, menurut penelitian baru, varian baru virus corona B.1.1.7 ini tak terbukti meningkatkan keparahan Covid-19.

Dalam dua penelitian yang diterbitkan di The Lancet Infectious Diseases dan di The Lancet Public Health, para ilmuwan memberikan berita baik terkait varian baru virus corona B.1.1.7 yang muncul dari Inggris pada Desember lalu.

Baca juga: Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Sejak saat itu, varian virus ini menjadi virus dominan di wilayah tersebut, mencakup hampir semua kasus baru Covid-19 di sana, bahkan baru-baru ini menyebabkan lonjakan kasus Covid-19 di beberapa bagian AS, serta di bagian lain dunia.

Pada awal Maret lalu, di Indonesia juga telah ditemukan kasus Covid-19 yang disebabkan oleh mutasi virus corona B.1.1.7.

Terkait hal tersebut para peneliti melaporkan, bahwa dari hasil penelitian, varian virus B.1.1.7 tidak berkaitan dengan penyakit Covid-19 yang lebih parah atau kematian.

Varian virus ini juga disebut tidak menyebabkan gejala yang berbeda (atau lebih banyak), di antara mereka yang terinfeksi, dibandingkan dengan jenis virus SARS-CoV-2 sebelumnya.

Namun mereka juga menekankan, bahwa temuan ini bukanlah hasil final tentang dampak varian.

Memang, hasil tersebut bertentangan dengan penelitian lain yang diterbitkan bulan lalu di Nature, yang menemukan hasil yang berlawanan di antara pasien yang dirawat di rumah sakit.

Dalam studi tersebut, varian B.1.1.7 dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dibandingkan dengan varian virus corona lain.

Tidak tampak keparahan dan risiko kematian yang lebih tinggi

Dalam studi yang diterbitkan di Lancet Infectious Diseases, para ilmuwan yang dipimpin oleh profesor infeksi, kekebalan dan peradangan di University College of London, Dr. Eleni Nastouli, mengurutkan virus yang diperoleh dari sampel dari 341 orang yang dites positif Covid-19 di dua rumah sakit di Inggris antara November hingga Desember 2020, tepat saat varian baru mulai menyebar di sana.

Baca juga: Fakta Mutasi Virus Corona B.1.1.7 di Indonesia, dari Penyebaran, Gejala, hingga Pencegahannya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X