Kompas.com - 12/04/2021, 19:34 WIB
Pengamatan hilal untuk penentuan 1 Ramadhan 1442 H dilaksanakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang. KOMPAS.com/RISKA FARASONALIAPengamatan hilal untuk penentuan 1 Ramadhan 1442 H dilaksanakan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang.

KOMPAS.com - Bagian terpenting dalam sidang isbat untuk menentukan bulan Ramadhan adalah pemantauan hilal.

Seperti telah diberitakan Kompas.com sebelumnya (22/4/2021), astronom amatir Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa hilal adalah bulan sabit tertipis yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat, dan sudah diamati tepat selepas terbenamnya Matahari.

“Jadi terbenamnya Matahari menjadi patokan. Hilal menjadi penentu bagi awal bulan kalender Hijriyyah karena sifatnya," kata Marufin kepada Kompas.com.

Baca juga: 3 Metode Melihat Hilal, dengan Mata Telanjang sampai Teleskop

Untuk memantau hilal tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebar pengamatan hilal di 21 titik di seluruh Indonesia.

“Dari BMKG Pusat, satu di Kebumen dan satu di Ancol,” kata Kepala Subbidang Analis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Dr. Suaidi Ahadi, ST, MT saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/4/2021).

Suaidi menjelaskan, secara ilmu pengetahuuan, hilal tidak mungkin terlihat di bawah 5 derajat. Karena, jika di bawah lima derajat, cahaya matahari saat terbenam akan mengalahkan cahaya hilal.

“Cahaya matahari terbenam antara horizon cahaya bumi dan gelap kan tipis sekali, jadi kalau cahaya matahari lebih terang, hilal tidak begitu tampak,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, tinggi hilal yang terlihat dari Jakarta sore tadi adalah tiga derajat 33 menit 54 detik.

Lebih lanjut Suaidi mengatakan, setidaknya ada empat faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan hilal. Berikut di antaranya:

1. Tinggi bulan

Tinggi bulan harus di atas nol derajat. Tinggi bulan ini dilihat dari piringan luar matahari sampai ke bulan.

“Tapi kalau MABIMS standarnya harus di atas 2 derajat,” ujarnya.

2. Umur bulan

Biasanya umur bulan yang sudah di atas 10 jam, membuat hilal lebih mudah terlihat. Sementara, jika umur bulan masih 8 jam, kecerlangannya masih agak redup.

“Kalau bulannya sudah cukup tua, hilal akan lebih terlihat.”

Baca juga: Mengenal Hilal, Penentu Awal Bulan Ramadhan dan Sabda Nabi SAW

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X