Kompas.com - 12/04/2021, 09:15 WIB
Vaksin Sinovac (Kompas.com/ALWI)Vaksin Sinovac

KOMPAS.com - Pejabat tertinggi pengendalian penyakit China mengaku, vaksin virus corona buatan China memiliki keefektifan yang rendah.

Pertimbangan untuk mencampurkan vaksin yang ada di China dengan vaksin lain berbasis mRNA pun muncul.

"Vaksin China tidak memiliki perlindungan yang sangat tinggi," kata direktur Pusat Pengendalian Penyakit China, Gao Fu pada konferensi pers yang dilakukan Sabtu (10/4/2021) di Chengdu.

Ini adalah pengakuan yang jarang terjadi terkait kelemahan vaksin yang diproduksi suatu negara.

Baca juga: Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Ragam Varian Baru Virus Corona

Dilansir AP News, Senin (12/4/2021), China telah mendistribusikan ratusan juta dosis vaksinnya ke luar negeri.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gia juga mempertanyakan keefektifan vaksin buatan Pfizer-BioNTech yang dibuat menggunakan mRNA.

"Sekarang kami mempertimbangkan, apakah harus menggunakan vaksin yang berbeda (mencampurkan vaksin) dari jalur teknis untuk imunisasi," kata Gao.

Dalam konferensi pers hari Minggu (11/4/2021), pejabat China tidak menanggapi secara langsung pernyataan Gao atau kemungkinan perubahan dalam jalur teknis imunisasi.

Namun, pejabat CDC lainnya mengatakan pengembang vaksin sedang mengerjakan vaksin berbasis mRNA.

Dilaporkan AP News, Gao tidak menanggapi panggilan telepon yang meminta komentar lebih lanjut.

"Vaksin mRNA yang dikembangkan di negara kami juga telah memasuki tahap uji klinis," kata pejabat lain Wang Huaqing.

Kendati sudah masuk tahap uji klinis, Huaqing tidak dapat memprediksi kapan vaksin berbasis mRNA yang dibuat akan dapat digunakan.

Para ahli mengatakan, mencampurkan vaksin atau imunisasi berurutan (dua vaksin berbeda) dapat meningkatkan efektivitas.

Para peneliti Inggris sedang mempelajari kemunginan kombinasi Pfizer-BioNTech dan vaksin AstraZeneca.

Industri obat China

Pandemi virus corona, yang dimulai di China pada akhir 2019, menandai pertama kalinya industri obat China berperan dalam menanggapi keadaan darurat kesehatan global.

Vaksin yang dibuat oleh Sinovac, sebuah perusahaan swasta, dan Sinopharm, sebuah perusahaan milik negara, telah mendistribusikan sebagian besar vaksin China ke belasan negara termasuk Meksiko, Turki, Indonesia, Hongaria, Brasil dan Turki.

Efektivitas vaksin Sinovac dalam mencegah infeksi gejala ditemukan serendah 50,4 persen oleh para peneliti di Brasil.

Ini mendekati ambang batas 50 persen, yang ditetapkan para ahli kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebagai perbandingan, vaksin Pfizer-BioNTech terbukti 97 persen efektif.

Pakar kesehatan mengatakan vaksin China kemungkinan tidak akan dijual ke Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Jepang karena kerumitan proses persetujuan.

Vaksin China dan mRNA

Juru bicara Sinovac, Liu Peicheng, mengakui berbagai tingkat keefektifan telah ditemukan. Dia berkata, hal ini disebabkan oleh faktor usia, jenis virus, dan faktor lainnya.

China belum menyetujui vaksin asing untuk digunakan di China.

Gao tidak memberikan rincian kemungkinan perubahan dalam strategi tetapi menyebut mRNA sebagai kemungkinan.

“Setiap orang harus mempertimbangkan manfaat vaksin mRNA bagi umat manusia,” kata Gao.

“Kita harus mengikutinya dengan hati-hati dan tidak mengabaikannya hanya karena kita sudah memiliki beberapa jenis vaksin.”

Baca juga: Studi: Varian Virus Corona Afrika Selatan Terobos Pertahanan Vaksin Pfizer

Gao sebelumnya mempertanyakan keamanan vaksin mRNA.

Dikutip dari Kantor Berita Xinhua, pada bulan Desember Gao mengatakan tidak dapat mengesampingkan efek samping negatif vaksin mRNA karena ini digunakan untuk pertama kalinya pada orang sehat.

Media pemerintah China dan blog kesehatan dan sains populer juga mempertanyakan keamanan dan efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech.

Pada 2 April, sekitar 34 juta orang di China telah menerima kedua dosis yang diperlukan untuk vaksin China dan sekitar 65 juta menerima satu dosis.

"Penelitian menemukan, perlindungan mungkin lebih baik jika waktu antara vaksinasi lebih lama dari 14 hari saat ini. Tetapi tidak memberikan indikasi yang mungkin dijadikan praktik standar," kata juru bicara Sinovac, Liu.

Catatan redaksi

Banyak kantor berita Barat yang memberitakan kabar ini. Namun sebagai catatan, Gao Fu telah mengklarifikasi bahwa ada kesalahpahaman total terkait vaksin Covid-19 China ini.

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China itu mengklarifikasi bahwa dirinya sebenarnya ingin mengusulkan visi ilmiah untuk meningkatkan kemanjuran vaksin.

Dalam wawancara eksklusif dengan Global Times, usulan yang ditawarkan Gao yakni, penyesuaian prosedur vaksinasi dan inokulasi dari jenis vaksin yang berbeda.

"Tingkat perlindungan semua vaksin di dunia beragam, terkadang tinggi dan terkadang rendah. Bagaimana meningkatkan kemanjurannya merupakan pertanyaan yang perlu dipertimbangkan para ilmuwan di seluruh dunia," kata Gao.

Baca juga: Berita Vaksin Covid-19 China Kurang Efektif Disebut Salah Total, Ini Klarifikasinya

"Dalam hal ini, saya menyarankan agar kita dapat mempertimbangkan untuk menyesuaikan proses vaksinasi, seperti jumlah dosis dan interval, juga mengadopsi vaksinasi berurutan dengan berbagai jenis vaksin," imbuhnya dilansir Global Times, Minggu (11/4/2021).

Gao menekankan, karena ini adalah pertama kalinya manusia mengenal Covid-19, ada banyak masalah ilmiah yang harus dipelajari terkait vaksinasi.

"Ini juga pertama kalinya manusia divaksinasi dengan vaksin novel coronavirus (virus corona SARS-CoV-2). Semua prosedur vaksinasi yang kami adopsi sejauh ini didasarkan pada ekstrapolasi inokulasi vaksin virus lain sebelumnya, dan ekstrapolasi itu telah bekerja dengan cukup baik," kata Gao.

"Namun ke depan, jika perlu melakukan perbaikan, kami dapat melakukan penyesuaian berdasarkan karakteristik virus corona baru dan situasi vaksinasi."

Baca klarifikasi selengkapnya di sini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X