Kompas.com - 06/04/2021, 20:29 WIB
Ilustrasi ASI perah, air susu ibu, manfaat ASI pada bayi baru lahir. shutterstockIlustrasi ASI perah, air susu ibu, manfaat ASI pada bayi baru lahir.


KOMPAS.com- Selama ribuan tahun, alkimia air susu ibu (ASI) tetap misterius. Ilmuwan masih terus meneliti manfaat ajaib ASI terhadap kesehatan usus bayi.

Satu hal yang belum diketahui adalah bagaimana kandungan dalam ASI, yang bervariasi berdasarkan pola makan dan lingkungan ibu, dapat memengaruhi kesehatan bayi.

Dalam sebuah studi yang dilansir dari Science Mag, Selasa (6/4/2021), para peneliti melakukan studi kandungan ASI pada manusia dan tikus.

Studi itu melaporkan bahwa terdapat satu bahan, sejenis asam amino dalam makanan berbiji utuh yang disebut betaine, yang tampaknya menjadi salah satu zat yang memberi keajaiban dari manfaat ASI.

Betaine, tampaknya telah meningkatkan kesehatan metabolisme jangka panjang dengan mendorong pertumbuhan bakteri baik atau bakteri menguntungkan pada kesehatan usus bayi baru lahir.

Baca juga: Apa Komposisi ASI, Makanan Terbaik Bayi Selama Periode Emas?

 

Carles Lerin, peneliti studi dari Sant Joan de Déu Barcelona Children’s Hospital, Barcelona, Spanyol yang mempelajari obesitas anak, mulai meneliti manfaat ASI karena frustasi.

Lerin merindukan cara-cara baru untuk mengatasi dan mencegah obesitas pada masa kanak-kanak.

Beberapa studi ilmuwan juga menunjukkan sedikit peningkatan risiko obesitas pada bayi yang diberi susu formula. Namun, Lerin penasaran dengan kandungan bahan yang terdapat pada ASI, sehingga membuatnya berbeda dengan susu formula.

Baca juga: Rahasia Emas ASI, Ilmuwan Ungkap Manfaatnya pada Kekebalan Bayi

 

Bersama mahasiswa pascasarjana Silvia Ribo dan peneliti obesitas David Sánchez-Infantes di institusi yang sama, Lerin mulai mengamati 34 pasangan ibu dan bayi dari Oklahoma.

Semua bayi telah disusui dengan ASI eksklusif, dan peneliti lain telah menyimpan sampai ASI dan mencatat secara rinci pertumbuhan dan kesehatan mereka pada masa awal bayi.

Lerin dan timnya mengidentifikasi zat yang mungkin terkait dengan pertumbuhan awal yang cepat, yang dikaitkan dengan obesitas di kemudian hari.

Salah satu zat yang menonjol dalam ASI, yakni betaine, yang dikaitkan dengan pertumbuhan yang tidak diinginkan itu, ketika kadar zat tersebut rendah. Betaine disebut menjadi pendorong manfaat ajaib dari ASI pada bayi.

Baca juga: Pentingnya ASI Eksklusif, Manfaatnya bagi Imunitas hingga Tumbuh Kembang Bayi

Ilustrasi Air Susu Ibu, ASI, Manfaat ASISHUTTERSTOCK Ilustrasi Air Susu Ibu, ASI, Manfaat ASI

Untuk menentukan apakah betaine benar-benar dapat mengontrol pertumbuhan pada bayi baru lahir, Lerin dan timnya beralih ke tikus. Tikus yang baru saja dilahirkan secara acak diberi diet normal atau diet dengan ekstra betaine, yang dimasukkan ke dalam ASI induknya.

Anak anjing yang mendapat susu yang diperkaya betaine memiliki lebih sedikit berat daripada hewan terkontrol, dengan perbedaannya, berat tersebut bertahan hingga masa dewasa.

Sekitar 6 bulan, mereka yang mendapat ekstra betaine memiliki berat 10 persen lebih sedikit daripada kontrol.

Studi ini telah dilaporkan pada 31 Maret 2021 di Science Translational Medicine.

Efek betaine mencegah obesitas

Efek betaine lebih tampak pada anak anjing yang induknya mengalami obesitas. Sama seperti pada bayi manusia, anak tikus yang baru lahir dari induk yang obesitas, berisiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan.

Baca juga: Ahli Tegaskan, Tidak Ada Susu Formula yang Lebih Baik dari ASI

 

Temuan ini menunjukkan bahwa betain ekstra mungkin sangat membantu anak-anak tikus tersebut, yang mengarahkan pada pertumbuhan yang lebih sehat.

Saat peneliti mencoba mencari tahu mengapa betaine mungkin baik untuk metabolisme, mereka menemukan hal menarik.

Pada anak tikus, zat tersebut menyebabkan peningkatan sementara bakteri baik pada usus sehat yang disebut Akkerrmansia.

Selanjutnya, pada kelompok kedua, yang terdiri dari 109 bayi dan ibu, dari Valencia, Spanyol, dalam studi ini menunjukkan lebih banyak betaine dalam ASI dikaitkan dengan lebih banyak Akkkerrmansia, yang ditunjukkan dari sampel tinja bayi pada usia 12 bulan.

Penelitian lain menunjukkan tingkat Akkerrmansia yang lebih rendah pada manusia dan model hewan dikaitkan dengan obesitas dan kondisi metabolisme lainnya.

Baca juga: ASI Eksklusif di Indonesia Meningkat Tajam Selama Pandemi Covid-19

Ilustrasi anak sedang menikmati Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).Philips Avent Ilustrasi anak sedang menikmati Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Hasilnya, menurut E. A. Quinn, antropolog biologi di Washington University, St. Louis, menunjukkan bahwa ASI memengaruhi semua spesies di luar menelannya, yakni mikroba dalam usus.

"Saya pikir hal yang paling menarik tentang makalah ini bagi saya adalah hal itu benar-benar mulai menunjukkan bahwa ASI adalah sistem yang kompleks. Kami berada pada tahap paling awal untuk memahami semua ini," kata dia.

Kendati demikian, Quinn juga penasaran, apakah efek nyata betaine pada Akkerrmansia ini juga bisa menjelaskan beberapa manfaat diet Mediterania pada orang dewasa, yang mengonsumsi lebih banyak biji-bijian yang kaya akan betaine seperti quinoa.

Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan betaine dapat mencegah obesitas pada tikus dewasa dengan memodulasi mikroba usus yang sehat.

Meskipun percobaan kecil itu dilakukan tahun 2018 yang kemudian menawarkan suplemen betaine kepada orang gemuk dengan pradiabetes, namun justru tidak menunjukkan banyak manfaat.

Baca juga: ASI Beku yang Dihangatkan, Bolehkah Dimasukkan Lagi ke Kulkas?

 

Bagi Lerin, pertanyaan kuncinya adalah apakah efek pada tikus bertahan pada bayi.

Baru-baru ini, Lerin memulai uji klinis kecil yang bertujuan untuk merekrut 50 ibu yang kelebihan berat badan atau obesitas dan yang sedang menyusui, bersama dengan bayinya, dan mengacak ibu untuk suplemen betaine ekstra atau plasebo.

Kendati Lerin tidak menyarankan ibu baru untuk menjalankan suplemen betaine, "Saya akan menyarankan untuk makan biji-bijian dan quinoa," katanya.

Sebab, diet ini tidak memiliki sisi negatif meskipun betaine terbukti kurang manjur daripada yang diharapkannya.

Kesimpulan lain dari studi ini, adalah apakah perlu menambahkan betaine pada susu formula. Namun, hal ini perlu penelitian lebih lanjut yang melibatkan modifikasi pola makan bayi daripada ibunya, dan ini akan lebih rumit secara etika dan logistik.

Baca juga: Seri Baru Jadi Ortu: Mengapa Bayi Tiba-tiba Enggan Menyusu ASI?

 



Sumber Science
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X