Kompas.com - 22/03/2021, 09:02 WIB
Tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) mengambil sampel dengan metode swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2020). Untuk memutus rantai penularan Covid-19, Genomik Solidaritas Indonesia (GSI Lab) membuka laboratorium tes PCR berstandar Biosafety Level (BSL) 2+. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGTenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) mengambil sampel dengan metode swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/2020). Untuk memutus rantai penularan Covid-19, Genomik Solidaritas Indonesia (GSI Lab) membuka laboratorium tes PCR berstandar Biosafety Level (BSL) 2+.

KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang terbit di jurnal Lancet pada Rabu (17/3/2021) mengungkap, kebanyakan orang yang pernah terinfeksi Covid-19 memiliki antibodi yang membuat dirinya tidak terinfeksi ulang, setidaknya selama 6 bulan.

Kendati kasus infeksi ulang tergolong langka, tapi orang lanjut usia (lansia) lebih berisiko mengalami infeksi ulang dibanding orang muda.

Studi itu menemukan bahwa hanya 0,65 persen pasien yang terinfeksi Covid-19 dua kali.

Baca juga: AstraZeneca Bantah Vaksin Covid-19 Produksinya Mengandung Tripsin Babi

Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang berusia di atas 65 tahun hanya memiliki perlindungan 47 persen terhadap infeksi berulang.

Sementara orang yang berusia lebih muda (di bawah 60 tahun) memiliki perlindungan hingga 80 persen.

"Studi kami mengkonfirmasi apa yang tampaknya dikatakan oleh sebagian orang; Infeksi ulang Covid-19 jarang terjadi pada orang yang lebih muda dan sehat, tetapi lansia berisiko lebih besar untuk tertular lagi," kata Steen Ethelberg dari Statens Serum Institut Denmark.

"Karena lansia juga lebih mungkin mengalami gejala penyakit parah, temuan kami menjelaskan betapa pentingnya menerapkan kebijakan untuk melindungi lansia selama pandemi," imbuh Ethelberg dilansir Reuters, Kamis (18/3/2021).

Para penulis penelitian tidak menemukan bukti bahwa perlindungan terhadap infeksi ulang menurun selama enam bulan setelah sembuh dari Covid-19.

Sebab itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai perlindungan terhadap infeksi ulang dari varian virus corona.

Baca juga: Dari Mana Covid-19 Berasal, WHO Ungkap Hasil Investigasinya

Data yang dianalisis dikumpulkan melalui strategi pengujian nasional Denmark, di mana 69 persen populasi, atau 4 juta orang, diuji selama tahun 2020.

Mengomentari hasil studi ini, profesor Imperial College London Rosemary Boyton dan Danny Altmann, mengatakan hasil studi ini menunjukkan perlindungan yang lebih rendah dan lebih memprihatinkan daripada penelitian sebelumnya.

“Semua data ini adalah konfirmasi untuk SARS-CoV-2. Harapan perlindungan kekebalan melalui infeksi alami mungkin tidak dapat kami jangkau dan program vaksinasi global dengan vaksin yang berkhasiat tinggi adalah solusi yang bertahan lama,” kata mereka dalam potongan komentar yang juga diterbitkan di Lancet.



Sumber Reuters
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X