Kompas.com - 09/03/2021, 16:03 WIB
Foto pertama burung Pelanduk Kalimantan (Malacocincla Perspicillata), setelah tidak terlihat selama 172 tahun, di Kalimantan Selatan, Oktober 2020. Muhammad Rizky Fauzan via BBC IndonesiaFoto pertama burung Pelanduk Kalimantan (Malacocincla Perspicillata), setelah tidak terlihat selama 172 tahun, di Kalimantan Selatan, Oktober 2020.

KOMPAS.com - Burung misterius yang hilang selama 172 tahun ditemukan di hutan Kalimantan.

Kalangan peneliti menyambut antusias penemuan itu dan dipandang bisa menjadi momentum bagi penelitian dan pelestarian satwa langka di Indonesia.

Burung itu dinamakan Pelanduk Kalimantan, yang bernama latin Malacocincla perspicillata dan secara luas dianggap oleh para ahli sebagai "teka-teki terbesar dalam ornitologi Indonesia".

Burung tersebut pada awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh dua warga di Kalimatan Selatan, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan pada Oktober 2020.

Baca juga: Berumur 70 Tahun, Burung Liar Tertua Ini Masih Produktif Bertelur

Mulanya, Suranto dan Rizky Fauzan saat itu sedang mengumpulkan hasil hutan di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Secara tidak sengaja keduanya menemukan jenis burung yang tidak dikenal. Mereka menangkap dan melepaskannya setelah mengambil beberapa foto.

Keduanya lalu menghubungi kelompok pengamat burung setempat, BW Galeatus dan Birdpacker, yang kemudian menduga burung itu mungkin Pelanduk Kalimantan yang hilang.

Hal ini kemudian dikonfirmasi setelah berkonsultasi dengan ahli ornitologi dari Indonesia dan sekitarnya.

"Rasanya tidak nyata mengetahui bahwa kami telah menemukan spesies burung yang oleh para ahli dianggap punah. Ketika kami menemukannya, kami sama sekali tidak menyangka akan seistimewa itu - kami pikir itu hanyalah burung yang belum pernah kami lihat sebelumnya," kata Rizky Fauzan, yang dikutip dari rilis Oriental Bird Club.

Sangat menakjubkan, kata ahli burung tahun 1850

Burung yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai black-browed babbler itu pernah dideskripsikan oleh ahli burung Prancis terkenal, Charles Lucien Bonaparte, pada tahun 1850 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1840-an oleh ahli geologi dan naturalis Jerman, Carl A.L.M. Schwaner selama ekspedisinya ke Hindia Timur.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X