Kompas.com - 07/03/2021, 09:30 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan Moderna berbasis teknologi genetik yang disebut mRNA (messenger RNA). SHUTTERSTOCK/Nixx PhotographyIlustrasi vaksin Covid-19 yang dikembangkan Pfizer dan Moderna berbasis teknologi genetik yang disebut mRNA (messenger RNA).


KOMPAS.com- Sejak vaksin Covid-19 mulai disuntikkan dan imunisasi massal untuk mengatasi pandemi virus corona dilakukan, banyak informasi salah terkait vaksin. Salah satunya disebut dapat menyebabkan kemandulan.

Namun, para ahli telah membantah hal itu, yang belakangan informasi tersebut ramai beredar di media sosial.

Beberapa jenis vaksin virus corona yang telah disetujui penggunaannya, diklaim dapat menyebabkan kemandulan.

Saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global pada Maret 2020, hanya sedikit upaya yang dapat mengantisipasi keparahan virus yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Bahkan, sebelum resmi diumumkan sebagai pandemi global, para ahli farmasi dan ilmuwan di seluruh duni sedang menjalani proses yang sulit untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Baca juga: FDA Resmi Setujui Penggunaan Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Dosis Tunggal

 

Hingga upaya mereka berhasil dan vaksin mulai disetujui, kemudian digunakan oleh publik. Namun, sayangnya, setiap vaksin baru menghadapi ledakan informasi yang salah atau beragam hoaks.

Akibatnya, semakin sulit bagi orang-orang untuk menemukan informasi yang dapat dipercaya untuk membantu mereka memutuskan apakah akan divaksinasi.

Dilansir dari Science Alert, Minggu (7/3/2021), delapan pakar atau ahli vaksinologi dan biologi reproduksi mencoba menjelaskan dan meluruskan pertanyaan terkait, vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan.

Cara kerja vaksin Covid-19

Pada dasarnya, semua vaksin bekerja dengan cara yang sama yakni dengan mengaktifkan respons imun atau kekebalan alami tubuh.

Baca juga: Pfizer Janjikan Vaksin Covid-19 mRNA Bisa Disimpan pada Suhu Tinggi

 

Vaksin memaparkan versi virus yang tidak berbahaya atau sebagian kecil virus ke sistem kekebalan tubuh, untuk memicunya membuat antibodi yang dapat melawan infeksi di masa mendatang.

Hanya saja, perbedaan antara vaksin terletak pada bagaimana mereka membuat virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tidak berbahaya atau bagian virus mana yang mereka gunakan.

Kebanyakan vaksin yang dikembangkan saat ini, memiliki menggunakan protein spike, bagian dari virus corona SARS-CoV-2, sebagai bahan utamanya.

Protein spike berada di permukaan virus dan merupakan target respons imun selama infeksi. Vaksin 'generasi selanjutnya' seperti yang dikembangkan Pfizer, Moderna dan AstraZeneca, menggunakan materi genetik, RNA, untuk mengkode protein spike.

Lantas, dari mana asal munculnya klaim atas kemandulan karena vaksin Covid-19?

Baca juga: Vaksin Covid-19 Ini Diujikan pada Varian Virus Corona Afrika Selatan, Apa Hasilnya?

Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo.SHUTTERSTOCK/Blue Planet Studio Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo.

Asal rumor vaksin Covid-19 sebabkan kemandulan

Ahli menjelaskan bahwa kekhawatiran akan vaksin Covid-19 yang disebut dapat menyebabkan kemandulan muncul melalui serangkaian informasi di media sosial.

Banyak informasi tanpa penjelasan yang tepat yang menunjukkan bahwa vaksin Pfizer berkaitan dengan protein yang ditemukan di dalam plasenta yang disebut syncytin-1.

Dalam suatu postingan menyebut bahwa vaksin corona yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech mengandung syncytin-1 atau protein spike yang merupakan bagian dari vaksin mirip dengan syncytin-1.

Oleh sebab itu, informasi yang salah ini menyebabkan kekhawatiran bahwa vaksin Pfizer tersebut akan melatih sistem kekebalan tubuh menyerang plasenta orang tersebut.

Baca juga: Jokowi Divaksin, Ahli: Laporkan Jika Ada Efek Samping Paska Divaksin Covid-19

 

Syncytin-1 bukanlah salah satu bahan vaksin. Dalam hal kesamaan dengan protein spike, ini tidak cukup untuk menyebabkan masalah respon auto-imun.

Semua protein terbuat dari untaian panjang asam amino yang dilipat menjadi bentuk 3D yang rumit.

Profesor Catherine Thornton dari Swansea University, Wales, Inggris menjelaskan agar antibodi salah mengenali syncytin-1 sebagai SARS-CoV-2, harus ada kemiripan asam amino yang cukup dalam string ini (yang tidak ada).

"Asam amino kritis akan perlu dikelompokkan bersama dalam molekul 3D dengan cara yang cukup mirip dan dapat diakses, padahal sebenarnya tidak," kata Profesor Thornton.

Baca juga: Usai Vaksin Covid-19, Inilah Efek Samping yang Dirasakan Warga AS

 

Berbagai studi telah menunjukkan bahwa antibodi terhadap protein spike SARS-CoV-2 tidak menyerang plasenta, karena telah ditemukan antibodi SARS-CoV-2 pada bayi yang baru lahir.

Antibodi ini telah melewati plasenta dari ibunya ketika mereka terinfeksi selama masa kehamilan.

Lalu, apakah teknologi vaksin RNA generasi mendatang akan memperhatikan kesuburan?

Alih-alih menggunakan protein spike itu sendiri untuk membuat respons imun, vaksin generasi berikutnya ini justru menggunakan sepotong kode genetik, RNA.

Baca juga: Setahun Pandemi Virus Corona, Manakah Vaksin Covid-19 Terbaik?

Ilustrasi vaksin corona, vaksin Covid-19, vaksinShutterstock/Amazein Design Ilustrasi vaksin corona, vaksin Covid-19, vaksin

RNA digunakan oleh sel-sel dalam tubuh manusia, pada kenyataannya RNA sangat penting untuk semua bentuk kehidupan yang diketahui.

"Potongan RNA, dengan cepat terdegradasi di tempat injeksi setelah rantai RNA diterjemahkan menjadi asam amino (pembangun protein). Jadi tidak ada kemungkinan bahwa RNA bisa pergi ke bagian lain dalam tubuh untuk mempengaruhi kesuburan," kata Dr Lee Riley pakar biologi reproduksi dari University of California, Amerika Serikat.

Para ahli kembali menegaskan bahwa semua vaksin Covid-19 yang dikembangkan untuk mengatasi pandemi virus corona saat ini, telah melalui tahapan pengujian pada hewan, dan tidak ditemikan efek apapun memengaruhi kesuburan.

Hingga saat ini, belum ada data dari uji klinis pada manusia yang secara khusus mempelajari efek vaksin corona terhadap kesuburan.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Mungkinkah Aman untuk Pasien Kanker? Ahli Jelaskan

 

Bahkan, pada uji coba keamanan mengecualikan wanita hamil dan peserta diminta untuk menghindari kehamilan.

Ahli vaksin lainnya, Dr William Hausdorff menambahkan pengecualian tidak didasarkan pada masalah keamanan teoritis tertentu, tetapi karena kewaspadaan yang berlebihan yang umumnya terlihat dalam uji coba vaksin.

Terlepas dari kriteria tersebut, ada 53 kehamilan terjadi selama uji klinis vaksin Pfizer, Moderna, dan AstraZeneca.

Hasil dari kehamilan ini tidak berbeda pada peserta yang menerima vaksin Covid-19 dibandingkan mereka yang tidak, menunjukkan bahwa vaksin ini tampaknya memiliki pengaruh yang kecil terhadap kesuburan atau kehamilan.

Baca juga: Ahli: Vaksin Covid-19 di Bahu Tak Mencegah Infeksi, tapi Keparahan



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X