Kompas.com - 04/03/2021, 17:28 WIB
Ilustrasi gangguan mata selama pandemi Covid-19, mata minus, miopia. SHUTTERSTOCK/kovop58Ilustrasi gangguan mata selama pandemi Covid-19, mata minus, miopia.


KOMPAS.com- Pandemi Covid-19 disebutkan turut andil dalam meningkatkan kasus miopia atau gangguan mata minus, termasuk pada anak-anak.

Studi di China baru-baru ini memperlihatkan bahwa selama 2020, anak usia 6-8 tahun ternyata 3 kali lipat lebih rawan terkena miopia dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, sebelum adanya pandemi Covid-19 sekalipun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan 40 persen dari populasi dunia yaitu sekitar 3,3 miliar orang akan menderita miopia pada 2030.

Bahkan, masih dari prediksi WHO bahwa lebih dari setengah penduduk dunia, 4,8 miliar orang, diproyeksi menderita miopia pada tahun 2050 mendatang.

Baca juga: Studi Ungkap 3 Gejala Covid-19 di Mata, Salah Satunya Fotopobia

 

Mata minus atau disebut dengan miopia terjadi karena cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh di depan retina mata.

Kondisi miopia bisa dipicu oleh panjang bola mata yang bertambah atau kemampuan mata dalam memfokuskan cahaya, sehingga objek yang jauh terlihat buram.

Ketua Layanan JEC Myopia Control Care, Dr Gusti G Suardana SpM(K) mengatakan bahwa sebenarnya faktor risiko terbesar utama seorang anak menderita miopia adalah genetik atau riwayat keturunan keluarga.

Baca juga: Bisakah Mata Minus Sembuh dengan Makan Wortel dan Pakai Kacamata?

 

Tetapi, di samping genetik, Gusti menyebutkan bahwa faktor risiko miopia lainnya adalah gaya hidup.

Salah satunya adalah lebih sedikit waktu di luar ruangan dan lebih banyak waktu menatap layar gawai menjadi pemicu.

"Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 mengubah perilaku masyarakat. Aktivitas di luar ruangan jauh berkurang, sementara kelekatan terhadap gawai berlayar semakin tinggi," kata Gusti dalam diskusi virtual JEC Media Launch: Myopia Control Care, The First Comprehensive Myopia Management in Indonesia, Selasa (23/2/2021).

Seperti diketahui, penularan transmisi virus corona SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19 yang terjadi hampir di seluruh negara di dunia menjadikan ruang gerak dan aktivitas terbatas. Kondisi ini memberi dampak pada gangguan mata minus yang mulai dialami banyak orang.

Baca juga: Sebelum Kacamata Ditemukan, Bagaimana Orang dengan Mata Minus Melihat Jauh?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X