Kompas.com - 03/03/2021, 10:00 WIB
Seorang tenaga kesehatan menunggu giliran waktu bertugas di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/3/2021). Hingga satu tahun berselang, pada 1 Maret 2021, pemerintah mencatat ada 1.341.314 kasus positif COVID-19 di Indonesia sejak pengumuman kasus pertama. Dari jumlah kasus tersebut, 1.151.915 orang diantaranya telah dinyatakan sembuh sementara 36.325 orang lainnya meninggal dunia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJASeorang tenaga kesehatan menunggu giliran waktu bertugas di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (2/3/2021). Hingga satu tahun berselang, pada 1 Maret 2021, pemerintah mencatat ada 1.341.314 kasus positif COVID-19 di Indonesia sejak pengumuman kasus pertama. Dari jumlah kasus tersebut, 1.151.915 orang diantaranya telah dinyatakan sembuh sementara 36.325 orang lainnya meninggal dunia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.


KOMPAS.com - Menurut data terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus infeksi Covid-19 global meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu.

Laporan WHO ini menjadi salah satu berita populer Sains.

Selain laporan WHO, kemarin juga bertepatan dengan satu tahun konfirmasi Covid-19 di Indonesia. Selama setahun ini, banyak teori konspirasi dan hoaks soal Covid-19 yang beredar di masyarakat.

Hingga pertanyaan terkait apakah mobil listrik lebih baik untuk Bumi?

Baca juga: [POPULER SAINS] Arti Covid-19 Jadi Endemik | Dampak Klaster Perkantoran pada Keluarga

Berikut ulasan berita populer Sains edisi 1-2 Maret 2021 yang layak Anda simak:

1. Pertama kalinya, Kasus Covid-19 Naik dalam 7 Minggu

Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mengatakan, jumlah infeksi virus corona global meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam sebuah pengarahan di Jenewa bahwa peningkatan kasus ini mengecewakan, tapi tidak mengherankan.

Tedros menambahkan, tren peningkatan kasus Covid-19 terjadi di banyak negara di dunia selain Afrika dan kawasan Pasifik Barat.

"Kenaikan kasus tampaknya terjadi karena penerapan protokol kesehatan yang dilakukan masyarakat longgar, kemudian muncul varian baru, dan orang-orang lengah (dengan Covid-19)," kata Tedros seperti dilansir Aljazeera, Selasa (2/3/2021).

Baca selengkapnya temuan WHO di sini:

WHO: Infeksi Covid-19 Global Naik untuk Pertama Kalinya dalam 7 Minggu

2. Setahun Pandemi, 6 Teori Konspirasi soal Covid-19

Setahun pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, banyak sekali teori konspirasi yang ikut mewarnai sumber-sumber informasi terkait pandemi ini di tanah air.

Teori konspirasi yang banyak beredar luas di media massa, justru membuat sebagian besar masyarakat mempercayai teori tersebut dan mengabaikan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang memang benar-benar ada.

Ironisnya, kepercayaan terhadap adanya ragam teori konspirasi ini, telah berdampak pada sebagian orang dan bahkan harus meregang nyawa.

Sedikitnya ada 6 teori konspirasi virus corona yang muncul setahun terakhir di Indonesia, yakni:

  1. Kebocoran laboratorium biologi
  2. Teknologi 5G transmisikan vrius corona
  3. Penanaman microchip vaksin
  4. Teori konspirasi dari pemerintah
  5. Klaim aliansi dokter Indonesia
  6. Plandemic, Judy Mikovits

Baca fakta teori konspirasi soal Covid-19 di sini:

Setahun Pandemi Covid-19, Ini 6 Teori Konspirasi Menyesatkan di Dunia

3. Daftar wilayah yang menyaksikan hari tanpa bayangan

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan bahwa mulai 1 Maret 2021, sejumlah daerah di Indonesia akan mengalami hari tanpa bayangan.

Peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lapan, Andi Pangerang, dalam keterangan resminya melalui laman edukasi sains Lapan menyampaikan, Matahari akan berada di atas Indonesia ketika tengah hari pada pekan keempat di bulan Februari hingga pekan pertama di bulan April.

"Ketika Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga ketika tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan Matahari," jelas dia.

Andi menuturkan, hari tanpa bayangan Matahari di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun, tepatnya di kota-kota yang terletak di antara Garis Balik Utara (23.4 derajat Lintang Utara) dan Garis Balik Selatan (23,4 derajat Lintang Selatan).

Sedangkan untuk kota-kota yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan akan mengalami hari tanpa bayangan hanya sekali dalam setahun, yaitu ketika Solstis Juni (21/22 Juni) maupun Solstis Desember (21/22 Desember).

"Di luar wilayah tersebut, Matahari tidak akan berada di atas kepala kita (zenit) ketika tengah hari sepanjang tahun," ujarnya.

Untuk mengetahui daftar wilayah dan jadwal hari tanpa bayangan di Indonesia tahun 2021 baca di sini:

Daftar Wilayah dan Jadwal Hari Tanpa Bayangan Maret-April 2021

4. Apa mobil listrik lebih baik untuk bumi?

Teknologi mobil listrik semakin berkembang. Kendaraan ini seakan diciptakan sebagai salah satu solusi untuk menyelamatkan Bumi dari polusi udara yang sebagian besar dikontribusi dari emisi bahan bakar fosil yang kebanyakan dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

Lantas, apakah mobil listrik dapat menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan?

Jika dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar gas, mungkin mobil listrik dianggap lebih baik bagi lingkungan, karena tidak memiliki knalpot, sehingga tidak mengeluarkan gas rumah kaca saat mengendarainya.

Namun, sebenarnya kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) ini tidaklah sempurna karena mereka memiliki masalah pencemaran tersendiri.

Khususnya, baterainya mengandung komponen, seperti litium, yang membutuhkan banyak energi untuk diambil dan disaring.

Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences melihat seluruh siklus hidup emisi mobil listrik.

Siklus itu dimulai dari penambangan logam yang diperlukan untuk baterai hingga menghasilkan listrik yang dibutuhkan untuk menyalakannya.

Dilansir Live Science, Minggu (28/2/2021) peneliti menemukan bahwa ketika kendaraan listrik diisi dengan listrik bertenaga batu bara, malah menjadi lebih buruk bagi lingkungan daripada mobil berbahan bakar bensin konvensional.

Ketahui alasan dan penjelasan selengkapnya di sini:

Apakah Mobil Listrik Lebih Baik untuk Bumi? Ini Faktanya



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X