Kompas.com - 02/03/2021, 12:01 WIB
Ilustrasi pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia. SHUTTERSTOCKIlustrasi pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.


KOMPAS.com- Setahun sudah pandemi Covid-19 membayangi dunia, tak terkecuali Indonesia. Virus corona telah menginfeksi jutaan orang, para ilmuwan menilai banyak hal yang harus dibenahi bangsa ini dalam menyikapi pandemi ini.

Virus corona, SARS-CoV-2 yang kali pertama muncul di akhir tahun 2019 di kota Wuhan, China, terus menyebar ke penjuru dunia sepanjang tahun 2020.

Wabah ini telah menghantui miliaran orang di planet ini, dengan terus meningkatnya angka infeksi dan kematian akibat penyakit yang kemudian disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Covid-19.

Penyakit yang menyerang organ pernapasan, membuat lebih dari 114 juta orang, data Worldometer per Selasa (2/3/2021), terinfeksi virus ini.

Covid-19 adalah pandemi baru yang bermula dari infeksi virus corona dari kerabat dekat virus SARS yang mewabah beberapa tahun silam di China. Hanya dalam waktu sebulan, virus corona terus menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Akan Jadi Endemik, Apa Bedanya dengan Pandemik?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Kasus pertama Covid-19 di Indonesia diumumkan Maret 2020, setahun lalu, dan sejak itu penularan virus SARS-CoV-2 semakin masif. Kini, tercatat lebih dari 1,3 juta orang di negeri ini terinfeksi penyakit tersebut.

Berpatokan pada sains

Setahun sudah Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 yang telah memberi mimpi buruk bagi masyarakat bangsa ini.

Lantas, menyikapi pandemi Covid-19 ini apa yang perlu dibenahi oleh Indonesia?

Ilham Akhsanu Ridlo, ilmuwan pemula dari Universitas Airlangga, Surabaya mengatakan ada beberapa kondisi yang harus dibenahi selama satu tahun ini.

Baca juga: ASI Eksklusif di Indonesia Meningkat Tajam Selama Pandemi Covid-19

 

Di antaranya memperbaiki kepemimpinan nasional terkait bagaimana menjadikan sains dengan dukungan data-driven policy.

"Artinya, keputusan-keputusan yang diambil oleh pemimpin terkait pandemi harus didasari oleh data yang lebih terbuka dan berpatokan pada sains yang benar," kata Ilham kepada Kompas.com, Selasa (2/3/2021).

Ilham mengingatkan bahwa pemerintah harus dapat memanfaatkan momen setahun pandemi Covid-19 ini untuk melakukan evaluasi besar terkait beberapa kebijakan.

Setahun berlalu dan sampai saat ini, secara faktual basis data masih tidak efektif dalam menekan dan menghentikan transmisi penularan Covid-19 di Indonesia. Oleh sebab itu, data Covid-19 perlu dibenahi untuk menyikapi pandemi di tahun kedua ini.

Baca juga: 9 Bulan Pandemi Covid-19, Apa yang Salah dengan Penanganan di Indonesia?

Ilustrasi Covid-19, pandemi virus corona, pandemi Covid-19.PEXELS/ANNA SHVETS Ilustrasi Covid-19, pandemi virus corona, pandemi Covid-19.

Upaya evaluasi, kata Ilham, terutama bisa dimulai dengan memperbaiki pola komunikasi publik yang lebih inklusif dan jujur kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi, kemudian diperkuat dengan data yang terbuka.

"Kejujuran dan transparansi, saya pandang punya peran yang signifikan untuk mempersempit gap ketidakpastian dalam penanganan pandemi terkait, 'Kapan Indonesia mampu mengendalikan pandemi?, Sampai kapan pandemi berakhir?'," ungkap Ilham.

Pentingnya sinkronisasi sistem kesehatan nasional, terutama terkait data Covid-19 pada level daerah dan nasional, juga ditekankan Ilham.

Sebab, dengan diperkuatnya sinkronisasi data sistem informasi kesehatan, maka memungkinkan pengambilan kebijakan yang lebih terukur, kata Ilham.

Baca juga: WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

 

"Masih banyak data yang dihimpun dari daerah, belum dirilis oleh pemerintah pusat, sehingga kita seperti menangani pandemi (seolah) dengan 'peta buta'. Tidak ada data yang eligible yang bisa dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan," jelas Ilham.

Memanfaatkan modal sosial

Lebih lanjut dosen di Departemen Kebijakan dan Administrasi Kesehatan Universitas Airlangga, Surabaya ini menilai selama setahun pandemi virus corona, selain respons awal yang gagal, pemerintah kurang optimal memanfaatkan modal sosial.

Kerjasama dengan koordinasi yang bagus, kata Ilham, dapat mulai dilakukan saat ini. Sebagai contoh, dia menerangkan, Indonesia memiliki struktur sosial yang terlembaga mulai dari RT, RW, Posyandu, Posbindu, organisasi masyarakat dan lain sebagainya.

"Jika (struktur sosial) ini terkelola dan terkoordinasi baik dengan bantuan pemimpin daerah, maka akan mempermudah penanganan pandemi," imbuhnya.

Baca juga: Kilas Balik Setahun Covid-19 di Indonesia, Pengumuman hingga Vaksinasi

Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.

Ilham mengatakan modal sosial juga penting untuk memperkuat lagi pusat kesehatan primer, Puskesmas dengan pendekatan preventif dan promotif.

Sebab, saat ini penanganan pandemi virus corona lebih utama hanya mengoptimalkan peningkatan kapasitas pelayanan kuratif. Hal ini, menurut Ilham, hanya akan menghabiskan banyak anggaran negara dan hasilnya tidak sustain.

"Karena kita masih dihadapkan pada situasi uncertainly (ketidakpastian). Jadi dengan memperkuat Puskesmas, maka secara langsung kita punya dua manfaat utama," jelas Ilham.

Dua manfaat utama tersebut di antaranya Puskemas dapat optimal melakukan fungsi 3T (test, tracing, treatment) dan 3M (memakai masker, menjaga jarak fisik dan mencuci tangan sesering mungkin), serta selain itu, program kesehatan dasar lainnya masih dapat berjalan secara normal.

Baca juga: Setahun Pandemi Virus Corona, Manakah Vaksin Covid-19 Terbaik?

 

Sebab, selama ini pelayanan kesehatan dasar kita terabaikan karena fokus ke penanganan pandemi Covid-19.

Pada intinya, Ilham menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin orkestra yang ulung.

Kepastian penanganan saat ini hanya bisa dijawab denagn keberpihakan pada keterbukaan, kejujuran dan sains (epidemiologi).

"Tanpa itu, situasi (pandemi virus corona) tidak akan pernah terkendali, termasuk ke depan melahirkan banyak ketidakadilan," jelas Ilham menanggapi setahun pandemi Covid-19 di Indonesia.

Baca juga: Covid-19 Indonesia Masuki Masa Kritis, Vaksin Corona bukan Solusi Hentikan Pandemi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.