Kompas.com - 01/03/2021, 18:03 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19, uji vaksin Covid-19 pada varian virus corona Afrika Selatan. Novovax dan Johnson & Johnson ujikan vaksin virus corona pada varian baru virus corona Afrika Selatan, hasilnya efikasi vaksin kurang efektif. SHUTTERSTOCK/PalSandIlustrasi vaksin Covid-19, uji vaksin Covid-19 pada varian virus corona Afrika Selatan. Novovax dan Johnson & Johnson ujikan vaksin virus corona pada varian baru virus corona Afrika Selatan, hasilnya efikasi vaksin kurang efektif.


KOMPAS.com- Sebagian besar kandidat vaksin Covid-19 yang mulai dipergunakan di dunia menganjurkan penggunaan dua dosis atau dua kali suntikan, berbeda dengan vaksin Johnson & Johnson yang hanya cukup sekali suntik.

Vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson telah mengantongi izin penggunaan di Amerika Serikat untuk menangani penularan virus corona di negara tersebut.

Namun, berbeda dengan dua vaksin virus corona sebelumnya yang telah dipergunakan di AS, yakni vaksin Pfizer dan Moderna yang menyarankan penggunaan dua dosis.

Vaksin Johnson & Johnson hanya membutuhkan satu kali suntikan untuk memberikan perlindungan dari infeksi Covid-19 yang kini di AS telah menginfeksi hampir 30 juta penduduk.

Pemberian dua dosis vaksin Covid-19 ini tak hanya dianjurkan Pfizer dan Moderna. Beberapa vaksin seperti Sinovac dari China yang digunakan di Indonesia juga digunakan dalam dua suntikan.

Baca juga: Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

 

Serta vaksin Novovax, vaksin Oxford-AstraZeneca, Sputnik dari Rusia hingga Sinopharm juga menggunakan dua dosis penyuntikan.

Jadi, apa bedanya vaksin Johnson & Johnson dengan vaksin satu suntikan lainnya?

Tak hanya vaksin Johnson & Johnson yang menggunakan satu kali suntik saja. Vaksin virus corona yang dikembangkan CanSino Biologics China juga hanya memerlukan satu dosis suntikan saja.

Dilansir dari ABC, Senin (1/3/2021), vaksin buatan perusahaan Amerika Serikat, Johnson & Johnson menunjukkan hasil yang lebih efektif dibandingkan vaksin satu dosis yang dibuat oleh China.

Baca juga: FDA Resmi Setujui Penggunaan Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Dosis Tunggal

 

FDA AS mengatakan bahwa satu suntikan vaksin Johnson & Johnson memberikan perlindungan kuat terhadap penyakit serius, serta potensi perawatan di rumah sakit serta risiko kematian akibat Covid-19.

Dalam uji klinis vaksin tersebut yang dilakukan besar-besaran di tiga benua, satu dosis vaksin ini diketahui 85 persen melindungi dari Covid-19 parah.

Bahkan, vaksin ini juga masih memberikan perlindungan kuat di negara dengan varian baru virus corona seperti Afrika Selatan, yang mana strain baru tersebut telah menyebabkan penyebaran Covid-19 yang sangat cepat.

Sementara itu, vaksin Covid-19 dosis satu kali dari China, yang dikembangkan CanSino Biologics menunjukkan hasil lebih rendah dengan tingkat kemanjuran atau efikasi 68,83 persen.

Kendati efikasi jauh lebih rendah dari vaksin Johnson & Johnson, vaksin CanSino disebut telah dapat mencegah penyakit yang ditimbulkan Covid-19 setelah diberikan dalam masa dua minggu, turun ke angka 65,28 persen dalam empat minggu setelah vaksinasi dilakukan.

Baca juga: Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson Efektif 66 Persen Hanya dengan Sekali Penyuntikan

Halaman:


Sumber ABC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X