Kompas.com - 01/03/2021, 12:43 WIB
Ilustrasi virus corona, Covid-19 Shutterstock/Ongsa SIlustrasi virus corona, Covid-19

KOMPAS.com - Survei dari Nature menunjukkan, banyak ilmuwan memperkirakan virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menjadi endemik, tetapi dampaknya berkurang seiring waktu.

Lantas, apa artinya jika Covid-19 menjadi endemik?

Pada bulan Januari, Nature bertanya kepada lebih dari 100 ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virologi yang menangani virus corona apakah virus itu dapat dibasmi.

Hampir 90 persen ilmuwan berpendapat bahwa virus corona akan menjadi endemik.
Artinya, Covid-19 akan terus beredar dan hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun mendatang.

Baca juga: WHO Peringatkan, Pandemi Covid-19 Kemungkinan Besar Bakal Jadi Endemik

"Memberantas virus ini (virus corona penyebab Covid-19) dari dunia saat ini sama seperti mencoba merencanakan pembangunan jalur batu loncatan ke Bulan. Itu mustahil," kata Michael Osterholm, seorang ahli epidemiologi di University of Minnesota di Minneapolis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, para ahli juga percaya bahwa dampak risiko dari Covid-19 seperti kematian, kasus infeksi, atau lockdown akan menurun seiring waktu.

Peneliti mengatakan, masa depan akan sangat bergantung pada jenis kekebalan yang diperoleh orang melalui infeksi atau vaksinasi dan bagaimana virus berevolusi.

Jika Covid-19 jadi endemik, ini akan seperti influenza dan empat penyakit yang disebabkan virus corona lainnya yang juga endemik.

Data menunjukkan, kombinasi vaksin tahunan dan kekebalan yang didapat dari infeksi penyakit membantu manusia menoleransi kematian dan penyakit musiman tanpa memerlukan lockdown, masker, dan jaga jarak.

Di sisi lain, lebih dari sepertiga responden dalam survei Nature berpendapat bahwa SARS-CoV-2 dapat dihilangkan dari beberapa wilayah dan akan terus beredar di wilayah lain.

Di wilayah tanpa Covid-19, akan ada risiko wabah penyakit terus-menerus muncul. Namun, hal ini diyakini dapat hilang dengan cepat berkat herd immunity, asal banyak orang telah divaksinasi.

"Saya kira Covid-19 akan menghilang dari beberapa negara, tetapi dengan risiko reintroduksi berkelanjutan (dan mungkin musiman) dari tempat-tempat di mana cakupan vaksin dan tindakan kesehatan masyarakat belum cukup baik,” kata Christopher Dye, seorang ahli epidemiologi di Universitas Oxford, Inggris.

ilustrasi anak sakitShutterstock ilustrasi anak sakit

“Kemungkinan besar virus menjadi endemik, tetapi pola yang diperlukan sulit untuk diprediksi,” kata Angela Rasmussen, ahli virologi dari Universitas Georgetown, yang berbasis di Seattle, Washington.

Ini akan menentukan biaya sosial dari SARS-CoV-2 selama 5, 10, atau bahkan 50 tahun ke depan.

Virus yang ditemui di masa kanak-kanak

Lima tahun dari sekarang, ketika orangtua mengetahui anak mereka mengalami pilek dan demam, pandemi Covid-19 mungkin tampak seperti kenangan. Tak ada lagi ketakutan seperti sekarang.

Ini adalah salah satu skenario yang diramalkan oleh para ilmuwan untuk SARS-CoV-2.

Virus tetap ada, tetapi begitu orang mengembangkan kekebalan terhadapnya - baik melalui infeksi alami maupun vaksinasi - mereka tidak akan terinfeksi dengan gejala yang parah.

"Virus itu akan menjadi musuh yang pertama kali ditemui pada masa kanak-kanak, ketika biasanya menyebabkan infeksi ringan atau tidak sama sekali," kata Jennie Lavine, peneliti penyakit menular di Emory University di Atlanta, Georgia, dilansir Nature.

Para ilmuwan menganggap hal ini mungkin terjadi karena empat virus corona endemik yang ada di dunia, yaitu OC43, 229E, NL63, dan HKU1, memiliki perilaku seperti itu.

Setidaknya tiga dari virus ini mungkin telah beredar di populasi manusia selama ratusan tahun, dua di antaranya bertanggung jawab atas sekitar 15 persen infeksi saluran pernapasan.

Menggunakan data dari penelitian sebelumnya, Lavine dan rekannya mengembangkan model yang menunjukkan bagaimana kebanyakan anak pertama kali terjangkit virus ini sebelum usia enam tahun dan mengembangkan kekebalan terhadapnya.

Pemuka agama menjalani vaksinasi Covid-19 Sinovac di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (25/2/2021). Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan ini menargetkan vaksinasi 10 ribu tokoh agama.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Pemuka agama menjalani vaksinasi Covid-19 Sinovac di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (25/2/2021). Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan ini menargetkan vaksinasi 10 ribu tokoh agama.

"Pertahanan itu menyusut cukup cepat sehingga tidak cukup untuk memblokir infeksi ulang sepenuhnya, tetapi tampaknya melindungi orang dewasa agar tidak sakit," kata Lavine.

Bahkan pada anak-anak, infeksi pertama relatif ringan.

Sejauh ini, belum jelas apakah kekebalan terhadap SARS-CoV-2 akan berperilaku dengan cara yang sama.

Sebuah penelitian besar terhadap orang yang pernah terjangkit Covid-19 menunjukkan bahwa tingkat antibodi penetral - yang membantu memblokir infeksi ulang - mulai menurun setelah 6-8 bulan terinfeksi.

"Tetapi tubuh mereka juga membuat sel B memori, yang dapat memproduksi antibodi jika infeksi baru muncul. Juga sel T yang dapat menghilangkan sel yang terinfeksi virus," kata Daniela Weiskopf, ahli imunologi di La Jolla Institute for Immunology di California, yang ikut menulis riset.

Belum dapat dipastikan apakah memori kekebalan dapat memblokir infeksi ulang virus - meskipun kasus infeksi ulang telah dicatat - dan varian virus baru mungkin membuatnya lebih mungkin terjadi, namun masih dianggap langka.

Pengiriman vaksin Covid-19 yang didistribusikan oleh Fasilitas COVAX tiba di Abidjan, Pantai Gading, Jumat 25 Februari 2021.AP PHOTO/DIOMANDE BLE BLONDE Pengiriman vaksin Covid-19 yang didistribusikan oleh Fasilitas COVAX tiba di Abidjan, Pantai Gading, Jumat 25 Februari 2021.

Weiskopf dan rekan-rekannya masih melacak memori kekebalan orang yang terinfeksi Covid-19 untuk melihat apakah itu berlanjut.

Jika kebanyakan orang mengembangkan kekebalan seumur hidup terhadap virus, baik melalui infeksi alami atau vaksinasi, maka virus itu tidak mungkin menjadi endemik, katanya.

Tetapi kekebalan mungkin berkurang setelah satu atau dua tahun - dan sudah ada petunjuk bahwa virus dapat berevolusi untuk menghindarinya.

Lebih dari separuh ilmuwan yang menanggapi survei Nature berpendapat penurunan kekebalan akan menjadi salah satu pendorong utama virus menjadi endemik.

Karena virus tersebut telah menyebar ke seluruh dunia, tampaknya virus tersebut sudah dapat digolongkan sebagai endemik.

Baca juga: Covid-19 Diprediksi Jadi Endemik, Ini Maksudnya dan Tanggapan Ilmuwan

Tetapi karena infeksi terus meningkat di seluruh dunia, dan dengan begitu banyak orang yang masih rentan, para ilmuwan secara teknis masih mengklasifikasikannya sebagai fase pandemi.

Pada fase endemik, jumlah infeksi menjadi relatif konstan selama bertahun-tahun, memungkinkan terjadinya kekambuhan.

Kondisi ini bisa memakan waktu beberapa tahun atau dekade, tergantung pada seberapa cepat masyarakat mengembangkan herd immunity.

Membiarkan virus menyebar tanpa terkendali akan menjadi cara tercepat untuk sampai ke titik itu - tetapi itu akan mengakibatkan jutaan kematian.

“Jalan itu memiliki biaya yang sangat besar. Jalur yang paling cocok adalah melalui vaksinasi," jelasnya.



Sumber Nature
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Parosmia, Penyebab, Risiko, dan Perawatannya

Mengenal Parosmia, Penyebab, Risiko, dan Perawatannya

Oh Begitu
Fakta Gempa Tojo Una-Una, 36 Kali Susulan hingga Sejarah Panjangnya

Fakta Gempa Tojo Una-Una, 36 Kali Susulan hingga Sejarah Panjangnya

Fenomena
Studi: Minum 6 Gelas Kopi Sehari Bisa Sebabkan Penyusutan Volume Otak

Studi: Minum 6 Gelas Kopi Sehari Bisa Sebabkan Penyusutan Volume Otak

Kita
Tak Selalu Buruk, Ini 3 Macam Interaksi Obat yang Bisa Terjadi

Tak Selalu Buruk, Ini 3 Macam Interaksi Obat yang Bisa Terjadi

Kita
Butuh Banyak Energi Untuk Lomba, Begini Diet Sehat Ala Atlet Olimpiade

Butuh Banyak Energi Untuk Lomba, Begini Diet Sehat Ala Atlet Olimpiade

Oh Begitu
Ahli Swedia Kembangkan Vaksin Covid-19 Berbentuk Bubuk atau Pil

Ahli Swedia Kembangkan Vaksin Covid-19 Berbentuk Bubuk atau Pil

Oh Begitu
Delta Lebih Mampu Menginfeksi Orang yang Sudah Divaksin Dibanding Varian Lain

Delta Lebih Mampu Menginfeksi Orang yang Sudah Divaksin Dibanding Varian Lain

Kita
POPULER SAINS: Varian Alpha Disebut Menyebar Lewat Pembibitan di Inggris | Apa Jadinya Jika Bumi Berhenti Berputar?

POPULER SAINS: Varian Alpha Disebut Menyebar Lewat Pembibitan di Inggris | Apa Jadinya Jika Bumi Berhenti Berputar?

Oh Begitu
Ahli: Covid-19 pada Wanita Hamil Bisa Pengaruhi Kesehatan Janin

Ahli: Covid-19 pada Wanita Hamil Bisa Pengaruhi Kesehatan Janin

Kita
Rekor, Helikopter Nasa Ingenuity Selesaikan Penerbangan Ke-10 di Mars

Rekor, Helikopter Nasa Ingenuity Selesaikan Penerbangan Ke-10 di Mars

Oh Begitu
Ahli: Waspada Titik Lengah Penularan Covid-19 di Tempat Kerja

Ahli: Waspada Titik Lengah Penularan Covid-19 di Tempat Kerja

Oh Begitu
Lagi, Gempa M 6,5 Guncang Sulawesi Tengah, Warga Diimbau Jauhi Pantai

Lagi, Gempa M 6,5 Guncang Sulawesi Tengah, Warga Diimbau Jauhi Pantai

Fenomena
Belum Dapat Izin BPOM, Begini Bukti Penelitian Ivermectin di Indonesia

Belum Dapat Izin BPOM, Begini Bukti Penelitian Ivermectin di Indonesia

Oh Begitu
Masih Jadi Kontroversi, Ahli Sebut Ivermectin Belum Terbukti sebagai Antiviral

Masih Jadi Kontroversi, Ahli Sebut Ivermectin Belum Terbukti sebagai Antiviral

Oh Begitu
Meteorit Langka Berusia 4,6 Miliar Tahun Ditemukan di Bekas Jejak Kuda

Meteorit Langka Berusia 4,6 Miliar Tahun Ditemukan di Bekas Jejak Kuda

Fenomena
komentar
Close Ads X