Kompas.com - 24/02/2021, 18:00 WIB
Plt Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf mendapatkan vaksin untuk lansia pertama di Kota Tasikmalaya meski memiliki komorbid di RSUD Soekardjo Tasikmalaya, Sabtu (20/2/2021). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHAPlt Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf mendapatkan vaksin untuk lansia pertama di Kota Tasikmalaya meski memiliki komorbid di RSUD Soekardjo Tasikmalaya, Sabtu (20/2/2021).

KOMPAS.com - Indonesia mulai masuk tahap kedua program vaksinasi Covid-19 yang menyasar orang lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun dan pekerja publik.

Seperti diberitakan Kompas.com, Rabu (17/2/2021), Kemenkes telah menyetujui pemberian vaksinasi Covid-19 pada kelompok lansia dan orang dengan komorbid.

Hal itu tertuang dalam surat edaran (SE) nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang pelaksanaan vaksinasi Covid-19 pada kelompok sasaran lansia, komorbid, penyintas Covid-19, dan sasaran tunda.

Surat tersebut ditujukan kepada kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota itu yang menjelaskan screening vaksinasi bagi kelompok komorbid dan penyakit kronik lainnya dengan ketentuan atau aturan vaksinasi Covid-19 lansia yang harus dipenuhi.

Tapi, apa itu komorbid dan bagaimana pengaruhnya terhadap Covid-19?

Baca juga: Kisah Lansia yang Dapat Vaksin Covid-19, Bagaimana Keamanannya?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengertian komorbid

"Komorbid atau komorbiditas adalah adanya dua atau lebih penyakit pada orang yang sama," ujar Jooby Babu, MD, ahli paru dan spesialis perawatan kritis di RS Providence St, Joseph di California Selatan.

Sebagai contoh, seseorang bisa dikatakan komorbid jika menderita diabetes dan hipertensi, atau diabetes dan gagal ginjal.

Seperti dilansir Health, Rabu (17/2/2021), istilah komorbid pertama kali dipakai pada tahun 1970-an oleh dokter dan ahli epidemiologi terkenal A. R. Feinsteins.

Feinsteins mengunakan istilah itu untuk merujuk pada orang-orang yang mengalami demam rematik dan berbagai penyakit lain.

Bagaimana komorbid memengaruhi Covid-19?

Pada Juni 2020, sebuah penelitian yang diterbitkan di SN Comprehensive Clinical Medicine menemukan bahwa orang yang terinfeksi Covid-19 dan memiliki penyakit penyerta yang mendasari akan meningkatkan perkembangan infeksi menjadi semakin cepat dan parah. Sering kali bahkan menyebabkan kematian.

Para peneliti melihat semua data yang tersedia dan menemukan bahwa memiliki komorbid juga meningkatkan kemungkinan infeksi virus corona.

 

Perbandingan angka kematian Covid-19 dengan komorbid diabetes.oleh Prof Dr dr Ketut Suastika, SpPd-KEMD Perbandingan angka kematian Covid-19 dengan komorbid diabetes.

Tim ahli juga menyimpulkan bahwa pasien dengan riwayat hipertensi, obesitas, penyakit paru-paru kronis, diabetes, atau penyakit kardiovaskular memiliki prognosis terburuk dan paling sering berakhir dengan hasil yang memburuk, seperti cedera paru-paru yang mengancam jiwa ARDS (sindrom gangguan pernapasan akut) dan pneumonia.

"Komorbid adalah masalah kesehatan yang serius, karena adanya dua kondisi atau lebih meningkatkan kemungkinan rawat inap dan risiko kematian serta memengaruhi kualitas hidup," kata Dr. Babu.

Ketika seseorang mengalami kondisi komorbid, mereka mungkin memiliki sistem kekebalan yang terganggu atau membutuhkan perawatan tambahan.

Selain itu, mereka mungkin sudah mengalami komplikasi dari kondisi mendasar yang membuat tubuh mereka stres.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Annals of Family Medicine, komorbid dikaitkan dengan hasil kesehatan yang lebih buruk, manajemen klinis yang lebih kompleks, dan peningkatan biaya perawatan kesehatan.

Daftar kondisi komorbid dari CDC

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memberikan daftar kondisi komorbid pada pasien Covid-19, meliputi kanker, penyakit ginjal kronis, penyakit jantung, down sindrom, obesitas, kehamilan, dan diabetes melitus tipe 2.

 

Ilustrasi diabetes. Penderita diabetes di Indonesia berada di peringkat 7 dunia. Indonesia waspada diabetes, terutama di masa pandemi Covid-19.SHUTTERSTOCK/Proxima Studio Ilustrasi diabetes. Penderita diabetes di Indonesia berada di peringkat 7 dunia. Indonesia waspada diabetes, terutama di masa pandemi Covid-19.

Karena Covid-19 adalah penyakit baru, belum banyak data tentang bagaimana kondisi bawaan lainnya memengaruhi keparahan Covid-19.

Tetapi CDC mengatakan, mungkin ada peningkatan risiko penyakit parah dari Covid-19 jika pasien juga menderita asma sedang hingga berat, fibrosis kistik, hipertensi (tekanan darah tinggi), demensia, atau diabetes mellitus tipe 1.

Baca juga: Indonesia Masuki Tahap Kedua Vaksinasi Covid-19, Ini Syarat Penerima Vaksin

Komorbid dan vaksin Covid-19

Kesempatan untuk mendapatkan vaksin Covid-19 bagi orang dengan komorbid adalah kabar gembira.

Bagi Dr. Babu, itu perkembangan penting. "Pasien dengan penyakit penyerta harus divaksinasi sedini mungkin," katanya.

Baik Anda yang telah divaksinasi atau tidak, jika Anda hidup dengan kondisi kesehatan kronis, lebih penting lagi Anda mengikuti pedoman kebersihan dan keselamatan yang sudah ditetapkan.

Dengan kata lain lakukan 5 M yakni, menjaga jarak dengan orang lain, memakai masker di tempat umum, mencuci tangan dengan sabun, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Penting juga untuk mengurangi risiko interaksi obat, jadi jika Anda hidup dengan berbagai kondisi atau gangguan, pastikan dokter Anda mengetahui semua obat yang diresepkan dan obat bebas yang Anda pakai.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Sumber Health
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.