Kompas.com - 23/02/2021, 10:05 WIB

KOMPAS.com - Gambar di atas mungkin terlihat seperti langit malam normal yang bertaburan bintang.

Namun, masing-masing titik-titik putih tersebut ternyata bukanlah bintang, melainkan lubang-lubang hitam supermasif yang aktif.

Seperti dikutip dari Science Alert, Senin (22/2/2021) peneliti menggunakan Low Frequency Array (LOFAR), jaringan interferometri yang terdiri dari sekitar 20.000 antena radio yang tersebar di 52 lokasi di seluruh Eropa untuk mendeteksi lubang-lubang hitam tersebut.

Baca juga: Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Ini Membuat Ilmuwan Bingung

LOFAR merupakan satu-satunya jaringan teleskop radio yang mampu melakukan pencitraan dalam dan beresolusi tinggi pada frekuensi di bawah 100 megahertz.

Hasil dari deteksi yang menggunakan panjang gelombang radio ultra rendah itu cukup mengejutkan, karena peneliti ternyata menemukan setidaknya 25.000 lubang hitam supermasif.

Saat tak beraktifitas, lubang hitam tak mengeluarkan radiasi yang dapat dideteksi. Hal tersebut membuat lubang hitam menjadi lebih sulit ditemukan.

Namun, ketika lubang hitam secara aktif mengakresi materi atau mengeluarkan cakram debu dan gas yang mengelilinginya, kekuatan itu menghasilkan radiasi di beberapa panjang gelombang yang dapat kita deteksi melintasi luasnya ruang.

Sehingga dengan temuan tersebut, astronom pun berhasil menciptakan peta lubang hitam paling rinci pada frekuensi radio rendah, sebuah pencapaian yang membutuhkan waktu bertahun-tahun dan kompilasi teleskop radio.

"Ini adalah hasil kerja bertahun-tahun dengan data yang sangat sulit. Kami harus menemukan metode baru untuk mengubah sinyal radio menjadi gambar langit," jelas Francesco de Gasperin, astronom dari Universitas Hamburg Jerman.

Sementara peta tersebut hanya mencakup empat persen langit Utara. Tetapi peneliti selanjutnya berencana untuk memetakan seluruh langit utara.

Lebih lanjut, pengamatan menggunakan LOFAR bukan berarti tak memiliki rintangan sama sekali. Peneliti menyebut jika LOFAR mendapatkan gangguan dari ionosfer.

Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menggunakan superkomputer yang menjalankan algoritma untuk mengkoreksi gangguan ionosfer setiap empat detik.

Baca juga: Nobel Fisika 2020 Diraih 3 Ilmuwan Penemu Lubang Hitam

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.