Kompas.com - 17/02/2021, 10:02 WIB
Gernot Groemer, pendiri dan direktur administrasi OeWF, menguji Robot Bulan, Puli Rover di Gurun Sahara, dekat Erfoud, Maroko, 1 Februari 2013. Pelacak air yang dikembangkan ilmuwan Hungaria akan melacak keberadaan air di Bulan. Katja Zanella-Kux/OeWF via REUTERSGernot Groemer, pendiri dan direktur administrasi OeWF, menguji Robot Bulan, Puli Rover di Gurun Sahara, dekat Erfoud, Maroko, 1 Februari 2013. Pelacak air yang dikembangkan ilmuwan Hungaria akan melacak keberadaan air di Bulan.


KOMPAS.com- Misi eksplorasi ke Bulan kian menarik banyak ilmuwan dunia. Termasuk upaya para ilmuwan untuk mencari keberadaan air di Bulan.

Seolah ingin turut meramaikan misi penjelajahan ke Bulan, ilmuwan Hungaria mulai mempersiapkan diri untuk turut serta dalam misi luar angkasa tersebut.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (17/2/2021), ilmuwan Hungaria mengatakan bahwa saat ini, miniatur rover sedang dikembangkan.

Rencananya, miniatur penjelajah tersebut akan digunakan untuk melakukan misi eksplorasi permukaan Bulan dan akan bergabung dalam misi pencarian air di Bulan.

Baca juga: Ada Bukti Air Lagi di Bulan, NASA Bisa Bangun Pangkalan Bulan

 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Miniatur rover tersebut dikembangkan para ilmuwan dengan perangkat yang beratnya kurang dari sekantong gula dan dinamai dengan jenis anjing Hungaria Puli.

Puli rover adalah platform berbiaya rendah yang dirancang untuk membawa muatan yang berbeda, termasuk misi pelacakan air di Bulan.

Perangkat tersebut telah memenangi tantangan bertajuk Honey, I Shrunk the NASA Payload pada tahun 2020 lalu, yakni sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh badan antariksa Amerika Serikat (NASA).

Baca juga: Eksplorasi Luar Angkasa Pertama, Turki akan Capai Bulan pada 2023

 

Berat perangkat rover ini kurang dari 400 gram. Dikembangkan untuk menyelidiki es air di Bulan dengan mengidentifikasi dan memetakan kandungan hidrogen di bawah permukaan tanah Bulan.

"Alat ini mencari radiasi dasar dan selanjutnya radiasi dasar yang menginduksi radiasi sekunder yang keluar dari Bulan," kata Matyas Hazadi, kepala teknik di Puli Space Technologies Ltd yang berbasis di Budapest, Hungaria yang mengembangkan perangkat penjelajah tersebut.

Hazadi menambahkan perangkat ini akan membandingkan energi berbeda dari spektrum radiasi dasar untuk menemukan air di satelit Bumi itu.

Pada tahun lalu, para ilmuwan dalam misi Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA) NASA mengonfirmasi keberadaan air di Bulan untuk pertama kalinya.

Baca juga: Sampel Bulan yang Diambil China Beratnya Kurang dari Target

Astronot Analog OeWF, Inigo Munoz dan Carmen Kohler menguji Robot Bulan, Puli Rover di Gletser Kaunertaler, Austria, 3 Agustus 2015. Pelacak air yang dikembangkan ilmuwan Hungaria akan melacak keberadaan air di Bulan.Claudia Stix/OeWF via REUTERS Astronot Analog OeWF, Inigo Munoz dan Carmen Kohler menguji Robot Bulan, Puli Rover di Gletser Kaunertaler, Austria, 3 Agustus 2015. Pelacak air yang dikembangkan ilmuwan Hungaria akan melacak keberadaan air di Bulan.

 

Keberadaan air di Bulan akan menjadi sumber potensial untuk bahan bakar roket, rehidrasi dan oksigen.

Penemuan ini menunjukkan bahwa air dapat didistribusikan ke seluruh permukaan bulan, dan tidak terbatas pada tempat-tempat yang dingin dan berbayang, dikutip dari situs resmi NASA.

SOFIA NASA telah mendeteksi molekul air (H20) di Kawah Clavius, salah satu kawah terbesar yang terlihat dari Bumi dan berada di belahan selatan Bulan.

Pada pengamatan sebelumnya dari permukaan Bulan mendeteksi beberapa bentuk hidrogen, tetapi tidak dapat membedakan antara air dan kerabat dekatnya, hidroksil (OH).

Baca juga: NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

 

"Kami memiliki indikasi bahwa H20, air yang kami kenal, mungkin ada di sisi Bulan yang diterangi matahari," kata Paul Hertz, direktur Divisi Astrofisika di Direktorat Misi Sains di Markas Besar NASA di Washington.

"Sekarang kami tahu itu (air) ada di sana. Penemuan ini menantang pemahamam kita tentang permukaan bulan dan menimbulkan pertanyaan menarik tentang sumber daya relevan untuk misi eksplorasi luar angkasa yang dalam," imbuhnya.

Dalam studi air di Bulan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy ini, potensi air di satelit Bumi itu dikomparasikan dengan gurun Sahara yang memiliki jumlah air 100 kali lipat dari yang dideteksi SOFIA.

Baca juga: Misteri Hilangnya Bulan dari Langit 1 Milenium Lalu, Apa Penyebabnya?



Sumber NASA,Reuters
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erick Thohir Sebut akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Erick Thohir Sebut akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Oh Begitu
Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Kita
Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Kita
Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Fenomena
6 Manfaat Brokoli, Sayur yang Termasuk Super Food

6 Manfaat Brokoli, Sayur yang Termasuk Super Food

Oh Begitu
Tak Hanya Varian Delta, Mutasi Virus Corona Lain Juga Mengkhawatirkan

Tak Hanya Varian Delta, Mutasi Virus Corona Lain Juga Mengkhawatirkan

Oh Begitu
Epidemiolog Tegaskan Indonesia Butuh PSBB Ketat, Bukan PPKM Mikro

Epidemiolog Tegaskan Indonesia Butuh PSBB Ketat, Bukan PPKM Mikro

Kita
Hiu Terus Berenang Sepanjang Hidup, Begini Cara Mereka Istirahat

Hiu Terus Berenang Sepanjang Hidup, Begini Cara Mereka Istirahat

Oh Begitu
Studi: Varian Alpha dan Beta Tidak Sebabkan Viral Load Virus Corona Tinggi

Studi: Varian Alpha dan Beta Tidak Sebabkan Viral Load Virus Corona Tinggi

Fenomena
Bumi Terjebak Panas pada Tingkat Mengkhawatirkan, Studi Ini Jelaskan

Bumi Terjebak Panas pada Tingkat Mengkhawatirkan, Studi Ini Jelaskan

Fenomena
LIPI Deteksi 44 Kasus Covid-19 Varian Delta dari Sampel Karawang

LIPI Deteksi 44 Kasus Covid-19 Varian Delta dari Sampel Karawang

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Tercapainya Herd Immunity di Indonesia Masih Sangat Jauh | Cara Membersihkan Ginjal

[POPULER SAINS] Tercapainya Herd Immunity di Indonesia Masih Sangat Jauh | Cara Membersihkan Ginjal

Oh Begitu
Meski Jarang Terjadi, Sindrom Peradangan Bisa Menyerang Orang Dewasa Pasca Covid-19

Meski Jarang Terjadi, Sindrom Peradangan Bisa Menyerang Orang Dewasa Pasca Covid-19

Oh Begitu
Bahan Alami untuk Mengembalikan Indera Penciuman

Bahan Alami untuk Mengembalikan Indera Penciuman

Oh Begitu
Peneliti Sebut Pola Makan Bisa Pengaruhi Risiko Covd-19 Gejala Parah

Peneliti Sebut Pola Makan Bisa Pengaruhi Risiko Covd-19 Gejala Parah

Oh Begitu
komentar
Close Ads X