Kompas.com - 13/01/2021, 10:30 WIB
Ilustrasi perubahan iklim berdampak pada suhu di Kutub Utara yang kian menghangat. Ilmuwan menemukan dampaknya terhadap satwa liar di Arktik, salah satunya pada kawanan karibu (caribou), spesies rusa kutub di salah satu benua terdingin di Bumi. SHUTTERSTOCK/Dmitry ChulovIlustrasi perubahan iklim berdampak pada suhu di Kutub Utara yang kian menghangat. Ilmuwan menemukan dampaknya terhadap satwa liar di Arktik, salah satunya pada kawanan karibu (caribou), spesies rusa kutub di salah satu benua terdingin di Bumi.

KOMPAS.com – Di pengujung tahun lalu, majalah Time memberi predikat 2020 sebagai tahun terburuk sepanjang sejarah. Time mengklaim, banyak tahun-tahun buruk yang terjadi sebelumnya, tapi kini manusia menghadapinya tanpa latihan.

Hal itu terlihat dari payahnya umat manusia menghadapi bencana alam, kerusuhan dan krisis politik di berbagai negara, hingga pandemi Covid-19.

Seakan belum cukup, kita juga diingatkan bahwa musuh terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah krisis iklim.

Seperti kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Covid-19 dan krisis iklim membawa umat manusia berada di ujung tanduk.

Untuk itu, Antonio menyerukan, aksi melawan krisis iklim menjadi prioritas utama umat manusia pada abad ke-21.

Menurutnya, sudah saatnya manusia memencet tombol “hijau” dengan membangun sistem berkelanjutan lewat energi terbarukan dan pekerjaan yang ramah lingkungan.

Baca juga: Saffron, Rempah Termahal Asal Kashmir, Rusak karena Perubahan Iklim

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Melansir BBC, Senin (11/1/2020), BBC Future merangkum posisi krisis iklim pada awal 2021. Apa saja yang akan kita hadapi? Berikut poin-poin krusialnya.

Level CO2

Jumlah karbon dioksida (CO2) yang ada di atmosfer menyentuh rekor baru pada Mei 2020, dengan konsentrasi 417 parts per million (ppm). Angka ini terhitung sangat tinggi karena terakhir kali CO2 mencapai 400 ppm sekitar 4 juta tahun yang lalu.

Co-director dari Graham Institute untuk perubahan iklim dan lingkungan dari Imperial College London, Martin Siegert mengatakan, manusia telah menghasilkan 100 ppm CO2 dalam 60 tahun terakhir.

Siegert mengatakan, penambahan konsentrasi CO2 itu 100 kali lebih cepat ketimbang penambahan secara alami. Penambahan drastis seperti itu terakhir kali terjadi pada akhir zaman es, atau lebih dari 10.000 tahun lalu.

Baca juga: Survei: 90 Persen Anak Muda Indonesia Khawatirkan Dampak Krisis Iklim

“Bila kita terus memainkan skenario buruk seperti sekarang, pada akhir abad ini, konsentrasi CO2 akan mencapai 800 ppm. Kita belum pernah mengalaminya selama 55 juta tahun. Saat itu, tidak ada es di bumi dan suhu 12 derajat Celsius lebih hangat,” terang Siegert.

Rekor panas

Satu dekade terakhir menjadi waktu terpanas dalam sejarah umat manusia. Pada 2020, misalnya, bumi mencatatkan kenaikan sebesar 1,2 derajat Celsius. Angka ini menunjukkan suhu yang lebih panas ketimbang rata-rata per tahun abad ke-19.

Tahun lalu, Eropa mengalami tahun terpanas sepanjang sejarah. Secara global, panas yang terjadi pada 2020 sama panasnya dengan 2016.

Rekor suhu pada 2016 berbarengan dengan adanya El Niño (fenomena iklim panas yang terbentuk di Samudera Pasifik setiap beberapa tahun sekali). Namun, 2020 jadi tidak biasa karena adanya La Niña (kebalikan El Niño, yaitu fenomena iklim dingin).

Baca juga: Gelombang Panas Bisa Terjadi di Dalam Laut, Dampaknya Sangat Buruk

Dengan kata lain, tanpa La Niña yang menurunkan suhu bumi, 2020 akan lebih panas. Bahkan, panas pada 2020 sendiri mampu memicu kebakaran hutan terbesar di California, Colorado, dan daerah timur Australia.

Es Arktik

Rekor suhu terpanas terjadi di lingkar Arktik, tepatnya di Siberia yang mencapai 38 derajat Celcius pada Juni, 2020.

Gelombang panas itu mencairkan laut es Arktik di Siberia Timur dan menunda proses pembekuan di Arktik selama dua bulan.

Ilmuwan dari University College London, Julienne Stroeve mengatakan, bagian Eurasia dari lingkar Arktik tidak membeku sampai Oktober. Julienne menegaskan, hal tersebut merupakan dampak dari hangatnya temperatur bumi.

Sebagai gejala krisis iklim, memanasnya Arktik dua kali lebih cepat membuat es terus berkurang. Padahal, lautan es yang berwarna putih punya peranan penting dalam memantulkan panas matahari ke luar angkasa.

Baca juga: Tahun 2020 Rekor Suhu Terpanas Kedua bagi Arktik, Ini Dampaknya...

Ibun abadi

Ibun abadi (permafrost) atau lapisan tanah beku yang berada di bawah suhu 0 derajat Celcius juga semakin memanas. Ketika udara mencapai 38 derajat Celcius di Siberia pada musim panas 2020, suhu daratan di beberapa bagian Arktik juga mencapai 45 derajat Celcius.

Hal itu dapat memicu melelehnya ibun abadi di daerah tersebut. Padahal, ibun abadi menahan gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah yang cukup besar ketika membeku. Jumlah GRK yang ditahan ibun abadi sebesar dua kali banyaknya karbon yang ada di atmosfer.

Tak hanya itu, mencairnya ibun abadi juga dapat merusak infrastruktur dan menghilangkan mata pencaharian kelompok adat yang menggantungkan hidupnya di tanah yang membeku.

Hutan

Sejak 1990, dunia telah kehilangan 178 hektar hutan, atau setara dengan luas keseluruhan negara Libya.

Baca juga: Makin Gundul, Hutan Amazon Alami Deforestasi Terparah dalam 12 Tahun Terakhir

Tren deforestasi memang menurun dalam tiga dekade terakhir, namun ilmuwan menilai hal itu belum cukup. Sebab, hutan memegang peran penting dalam menekan pemanasan global.

Menghadapi hal itu, World Economic Forum mencanangkan penanaman satu triliun pohon untuk menyerap karbon.

Meski menanam pohon dapat menarik emisi karbon selama 10 tahun terakhir, hal itu tidak cukup untuk melawan krisis iklim.

Pengajar di Grantham Institute Bonnie Waring mengatakan, melindungi hutan yang masih ada lebih penting. Sebab, setiap kali ekosistem terganggu, emisi karbon akan terlepas.

Menurutnya, regenerasi secara alami menjadi cara paling efektif dan produktif untuk menangkap CO2 dan meningkatkan keragaman hayati.

Baca juga: Apa Itu Krisis Iklim, Penyebab Banjir di Indonesia sampai Kebakaran di Australia?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber BBC,Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

Oh Begitu
Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Oh Begitu
Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Oh Begitu
10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

Oh Begitu
Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Oh Begitu
Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Fenomena
Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Oh Begitu
Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Oh Begitu
Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Fenomena
5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

5 Saran Epidemiolog untuk Pemerintah dalam Respons Omicron, Tingkatkan Surveillance Genomic

Oh Begitu
Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Bagaimana Cara Menghitung Umur Bintang? Begini 3 Caranya

Oh Begitu
Epidemiolog: Aturan Karantina Pelaku Internasional 7 Hari Bagus, tapi...

Epidemiolog: Aturan Karantina Pelaku Internasional 7 Hari Bagus, tapi...

Oh Begitu
Masker Katup Disebut Dalang Penularan Omicron di Hong Kong, Kok Bisa?

Masker Katup Disebut Dalang Penularan Omicron di Hong Kong, Kok Bisa?

Oh Begitu
Negara dengan Zona Waktu Terbanyak, Memiliki 12 Zona Waktu

Negara dengan Zona Waktu Terbanyak, Memiliki 12 Zona Waktu

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.