Bisa Picu Indonesia Alami Tahun Basah 2021, Ini Manfaat Baik La Nina

Kompas.com - 05/01/2021, 17:32 WIB
Ilustrasi musim hujan yang dipengaruhi La Nina. BMKG merilisi anomali iklim La Nina sedang berkembang di Samudera Pasifik, dampaknya pada Indonesa dapat menyebabkan curah hujan yang tinggi dan berakibat pada bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. SHUTTERSTOCK/CHOKCHAI POOMICHAIYAIlustrasi musim hujan yang dipengaruhi La Nina. BMKG merilisi anomali iklim La Nina sedang berkembang di Samudera Pasifik, dampaknya pada Indonesa dapat menyebabkan curah hujan yang tinggi dan berakibat pada bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.


KOMPAS.com- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) meminta agar masyarakat bersiap dan mengambil manfaat terhadap adanya gangguan anomali fenomena La Nina di Indonesia pada periode musim tahun 2021 ini.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, kuartal akhir tahun 2020 hingga awal 2021, kondisi iklim global dihadapkan pada gangguan anomali berupa fenomena La Nina dengan level intensitas mencapai moderate di Samudera Pasifik ekuator.

Dijelaskan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati bahwa fenomena La Nina telah lama diketahui memiliki dampak yang bersifat global.

Secara garis besar, ada dua dampak La Nina ini yaitu penurunan dan peningkatan curah hujan di berbagai wilayah.

Sementara itu, sebagai bagian dari variabilitas sistem iklim global, La Nina dan El Nino terjadi berulang dan memiliki siklus 2-8 tahun.

Baca juga: Apa Dampak Fenomena La Nina bagi Indonesia? Ini Penjelasan BMKG

 

Dwikorita mengatakan, La Nina terakhir pada 2010, di mana untuk wilayah Indonesia dikenal sebagai tahun basah karena hampir terkesan tidak ada kemarau sepanjang tahun akibat curah hujan yang berlebih.

"La Nina lebih dipandang sisi negatifnya saja yang berdampak pada bencana hidrometeorologi," kata Dwikorita dalam diskusi bertajuk La Nina: Manfaatkan Air Hujan Berlimpah untuk Kesejahteraan dan Pengurangan Risiko Bencana Hidrometeorologi, Selasa (29/12/2020).

Padahal, dalam enam kali La Nina dalam periode 30 tahun terakhir, telah terjadi surplus air tanah tahunan di Waeapo-Pulau Buru sebesar 755 mm atau setara dengan 222 persen dari kondisi normalnya.

Oleh karena itu, sebenarnya kata Dwikorita, hal tersebut mengindikasikan, fenomena La Nina selain memiliki sisi ancaman, ternyata juga punya peluang positif yang dapat dimanfaatkan.

Baca juga: Waspadai Hujan Lebat Sepekan Mendatang Akibat La Nina, Ini Wilayahnya

 

Apa saja potensi manfaat dari fenomena La Nina Indonesia?

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pakar Ekohidrolik dan pelopor restorasi sungai Indonesia, Agus Maryono mengatakan bahwa seharusnya tahun basah bisa dimanfaatkan.

1. Mengisi dan menyimpan banyak air cadangan

Dalam upaya memanfaatkan tahun basah ini, daerah yang kering dan semi kering juga dapat memanfaatkan air berlimpah. Air tanah bisa maksimal terisi begitu pula dengan danau, situ, telaga, serta alur aliran sungai juga bisa sempurna terbentuk.

"Memang ada ancaman bencana tapi harus dijadikan pengungkit kemajuan dalam segala bidang misalnya pengetahuan, penemuan rekayasa teknologi dan industri, penyediaan sandang, papan dan pangan, daya juang dan motivasi bangsa, sikap tanggap dan peduli serta menjaga alam dan lingkungan," kata Agus.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X