Kompas.com - 05/01/2021, 12:05 WIB
Ilustrasi Kekerasan pada anak ShutterstockIlustrasi Kekerasan pada anak

KOMPAS.com - Seorang bayi di Korea Selatan bernama Jeongin dikabarkan meninggal dunia setelah mengalami kekerasan dari orangtua angkatnya.

Kasus ini menjadi trending di media sosial dan menarik perhatian netizen dunia. Menurut informasi, bayi berusia 16 bulan ini diadopsi ketika berusia tujuh bulan.

Kasus kekerasan ini kemudian diketahui oleh guru-gurunya di tempat penitipan anak karena Jeongin tak mau menerima makanan apa pun. Kemudian, Jeongin dibawa ke rumah sakit dan saat diperiksa ditemukan beberapa tulangnya rusak, termasuk bagian kepala.

Baca juga: Kekerasan Verbal Tak Selalu Makian atau Kata Kasar

Belajar dari kasus tersebut, praktisi psikolog asal Solo, Hening Widyastuti, mengatakan, normalnya orangtua angkat yang mengadopsi anak mampu merawat dengan penuh kasih sayang karena keinginan memiliki anak.

Apalagi, Jeongin baru berusia 16 bulan, yang idealnya mendapat limpahan kasih sayang dari orangtua.

Menurut Hening, orangtua angkat Jeongin kemungkinan memiliki gangguan mental karena mampu melakukan sesuatu di luar batas normal sebagai seorang ibu, dengan menyiksa anak secara fisik dan psikis hingga anak meninggal dunia.

“Sepertinya orangtua angkatnya penuh amarah terpendam, hingga tega menyiksa dan menganiaya bayi 16 bulan yang lemah dan tak berdaya,” kata Hening.

“Ia melakukan itu dengan sadar, berarti pikirannya sadar tapi jiwanya sakit,” lanjutnya.

Bayi Jeongin, berusia 16 bulan meninggal dunia karena disika orangtua angkatnya.repro bidik layar via allkpop Bayi Jeongin, berusia 16 bulan meninggal dunia karena disika orangtua angkatnya.
Ada berbagai faktor yang bia menjadi pemicu kemarahannya, misalnya masalah dengan suami, masalah finansial, dan sebagainya.

Karena itu, kata Hening, sangat penting bagi panti asuhan memiliki regulasi ketat dalam memilih orangtua angkat, termasuk dengan melihat riwayat hidup calon orangtua angkat yang berniat mengadopsi anak.

Selain itu, menurutnya, kasus seperti ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk peduli dan tidak menutup mata dengan lingkungan sekitar. Jangan enggan melaporkan hal yang janggal kepada pihak berwenang.

Baca juga: Kekerasan di Rumah Berdampak Permanen pada Mental Anak

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X