Tidak Ada Perubahan Waktu Subuh

Kompas.com - 28/12/2020, 10:02 WIB
Bulan purnama tampak setengah gepeng diabadikan dari cakrawala stasiun antariksa internasional ISS pada Mei 2019. Efek gepeng ini merupakan implikasi sifat optis lapisan-lapisan atmosfer Bumi yang membiaskan cahaya Bulan. Sifat optis yang sama bertanggung jawab atas munculnya cahaya fajar setiap hari, menjadi penentu waktu subuh. NASA, 2019Bulan purnama tampak setengah gepeng diabadikan dari cakrawala stasiun antariksa internasional ISS pada Mei 2019. Efek gepeng ini merupakan implikasi sifat optis lapisan-lapisan atmosfer Bumi yang membiaskan cahaya Bulan. Sifat optis yang sama bertanggung jawab atas munculnya cahaya fajar setiap hari, menjadi penentu waktu subuh.


APAKAH waktu Subuh di Indonesia harus berubah?

Pertanyaan ini telah mengemuka sejak sedasawarsa terakhir. Namun, dalam paruh kedua Desember 2020, seakan memperoleh tambahan amunisi manakala satu unsur pembantu pimpinan sebuah organisasi masyarakat (ormas) Islam besar mengusulkan mengubah awal waktu Subuh di Indonesia.

Meski masih berupa usulan yang harus di–tanfiz oleh pimpinan pusat ormas bersangkutan, namun usulan tersebut cukup membuat sejumlah ahli falak di Indonesia mendapatkan pertanyaan bertubi–tubi. Ada apa sebenarnya dengan waktu Subuh?

Cahaya fajar dan cahaya zodiak

Waktu shalat bergantung pada kedudukan Matahari, atau lebih tepatnya lagi waktu shalat untuk suatu titik di paras Bumi ditentukan oleh paparan berkas cahaya Matahari yang diterima pada titik tersebut.

Untuk kelima waktu shalat wajib, paparan berkas cahaya Matahari itu harus bersifat langsung. Bukan hasil pemantulan atau hamburan dari obyek lain yang terpapar sinar Matahari.

Awal waktu Dhuhur didasarkan pada berkas cahaya Matahari dalam kondisi transit tengah hari, sehingga tepat membentuk garis lurus utara–selatan sejati.

Awal waktu Ashar ditentukan oleh berkas cahaya Matahari yang memapar sebuah benda tegak sedemikian rupa, sehingga panjang bayang–bayangnya tepat sama dengan panjang bendanya sendiri setelah dikoreksi panjang bayang–bayang saat transit tengah hari.

Awal waktu Maghrib didasarkan pada mulai hadirnya cahaya senja. Awal waktu Isya ditentukan oleh mulai menghilangnya cahaya senja dan awal waktu Subuh didasarkan pada mulai munculnya cahaya fajar.

Pada awal waktu Isya dan Subuh, bundaran Matahari tidak terlihat langsung seperti halnya pada awal waktu–waktu shalat lainnya. Hanya pendar cahayanya saja yang menjadi penanda, sebagai konsekuensi dari melintasnya berkas cahaya Matahari melalui lapisan demi lapisan atmosfer.

Dalam hal waktu Subuh, pendar cahaya tersebut mewujud sebagai cahaya fajar atau fajar shadiq (eastern twilight).

Salah satu kurva dari data Banyuwangi tertanggal 25 Agustus 2020 yang menggambarkan persistensi cahaya zodiak (berpola linear) dan cahaya fajar (berpola eksponensial). Pada kurva ini awal munculnya cahaya fajar terjadi di tinggi Matahari minus 20 derajat. LF PCNU Gresik/Hasan & Muid, 2020 Salah satu kurva dari data Banyuwangi tertanggal 25 Agustus 2020 yang menggambarkan persistensi cahaya zodiak (berpola linear) dan cahaya fajar (berpola eksponensial). Pada kurva ini awal munculnya cahaya fajar terjadi di tinggi Matahari minus 20 derajat.

Ada narasi sains luar biasa dibalik kemunculan cahaya fajar setiap hari.

Bumi kita adalah sebuah benda langit yang berbentuk geoida dan diselimuti oleh lapisan molekul–molekul udara yang disebut atmosfer.

 

Kerapatan udara tertinggi terdapat di lapisan terbawah (troposfer), yang merentang hingga ketinggian 20 km di atas khatulistiwa. Di lapisan ini lah terselenggara proses–proses cuaca. Kerapatan udara kian menurun seiring dengan bertambahnya ketinggian, dan pada ketinggian 120 km, kerapatan udara telah demikian rendah sehingga hampir menyerupai ruang hampa.

Di atas batas ketinggian ini, molekul–molekul udara masih tetap ditemukan namun dengan kerapatan yang sangat rendah.

Udara memiliki karakter yang mirip air sebagai fluida. Karena itu, atmosfer Bumi pun memiliki sifat optis, dapat membiaskan berkas cahaya dengan mematuhi hukum Snellius.

Jika dilihat dari satu titik di paras Bumi, maka sifat optis atmosfer akan paling kuat saat berada di cakrawala. Setiap benda langit yang kita lihat di cakrawala pada dasarnya telah terbenam sempurna.

Namun mereka masih bisa dilihat karena atmosfer Bumi membiaskan cahaya benda langit tersebut demikian rupa, sehingga kedudukannya ‘diangkat’ lebih dari setengah derajat dari semula dalam jurus menuju titik zenith.

Sifat optis serupa bertanggung jawab atas hadirnya cahaya fajar. Jauh sebelum Matahari terbit, berkas cahayanya telah menyentuh pucuk lapisan atmosfer tepat di bawah cakrawala timur dari sebuah titik di paras Bumi.

Maka, berkas cahaya itu pun terbiaskan demikian rupa di setiap lapisan. Hingga akhirnya saat melewati lapisan terbawah, pembiasan membuat berkas cahaya itu mengarah ke titik tersebut.

Kita akan melihatnya sebagai pendar cahaya keputih–putihan yang membentang mendatar (horizontal) di cakrawala timur.

Awalnya sangat tipis lalu kian menebal secara gradual seiring berjalannya waktu. Penebalan cahaya fajar diikuti terjadinya perubahan ketampakan menjadi berwarna kemerah–merahan dan kemudian kebiru–biruan. Perubahan ini akibat terjadinya hamburan Rayleigh oleh partikulat–partikulat mikron di atmosfer.

Sebelum cahaya fajar merembang di cakrawala timur, langit timur terlebih dahulu dihiasi cahaya zodiak. Dalam lingkungan yang betul–betul gelap dan bebas dari sumber cahaya pengganggu, cahaya zodiak akan terdeteksi sejak 2 jam sebelum kehadiran cahaya fajar.

Cahaya zodiak juga merupakan cahaya Matahari, namun tiba di paras Bumi setelah melalui proses pemantulan/hamburan oleh debu–debu antarplanet berskala mikro yang bertebaran dimana–mana di penjuru Tata Surya. Dari Bumi, konsentrasi terpadat debu–debu antarplanet itu nampak berada di sekitar garis ekliptika.

Struktur cahaya zodiak cukup khas sehingga mudah dibedakan dengan cahaya fajar. Cahaya zodiak seakan membentuk sebuah segitiga raksasa di langit timur. Alas segitiga tepat berimpit dengan sebagian kecil cakrawala timur.

Sementara garis tingginya tepat berimpit dengan ekliptika. Gerak semu tahunan Matahari menyebabkan sikap garis tinggi segitiga cahaya zodiak turut berubah seiring waktu, meskipun sifatnya siklik. Maka ia bisa tegak lurus terhadap cakrawala timur, namun juga bisa bersikap miring.

Cahaya zodiak selalu berwarna keputih–putihan dengan intensitas begitu lemah. Sehingga dapat disetarakan dengan intensitas selempang putih Bima Sakti yang mudah dilihat pada malam–malam musim kemarau di Indonesia. Ahli falak menyebut cahaya zodiak sebagai fajar semu, kebalikan dari cahaya fajar yang merupakan fajar nyata.

Tinggi Matahari

Hanya ketampakan cahaya fajar yang menentukan waktu Subuh. Bangunan fikihnya berlandaskan pada sabda Rasulullah SAW yang dituturkan sayyidah Aisyah RA, di mana seseorang yang menunaikan shalat Subuh di Masjid Nabawi kala itu belum bisa mengenali wajah orang–orang di sebelah kiri dan kanannya begitu shalat usai (kondisi ghalas).

Konstruksi Masjid Nabawi kala itu adalah bangunan persegi yang tak beratap, kecuali di sekitar mihrab dan mimbar, dengan penerangan obor (pelepah kurma kering yang dibakar). Maka, kondisi ghalas tersebut memang terjadi akibat masih gelapnya langit secara umum meski di cakrawala timur cahaya fajar mulai merembang.

Hadirnya cahaya di langit timur sebelum terbitnya Matahari adalah persisten, tak terputus cahaya zodiak ke cahaya fajar. Maka, tantangan penyelidikan dari masa ke masa adalah menentukan batasan tepat munculnya cahaya fajar dan membedakannya dengan cahaya zodiak.

Batasan tersebut tentunya mempertimbangkan sejumlah variabel. Misalnya kedudukan garis lintang, ketinggian tempat, zona iklim (misalnya menurut klasifikasi Koppen), suhu udara, kelembaban udara, eksistensi partikulat pengotor, cuaca, gerak semu tahunan Matahari, perubahan fase Bulan hingga tingkat polusi cahaya buatan manusia.

Guna mempermudah klasifikasi dan mengikuti tatacara penentuan waktu–waktu shalat lainnya, maka saat tepat munculnya cahaya fajar dinyatakan sebagai kedudukan tinggi Matahari di bawah cakrawala timur, yang selalu bernilai negatif.

Penelitian terkait cahaya fajar sudah berlangsung sejak berabad–abad silam dan kerap tak terpisahkan dari upaya manusia memahami selimut udara Bumi. Dari upaya tersebut kini diketahui ada 12 pendapat terkait tinggi Matahari untuk saat tepat munculnya cahaya fajar. Yakni dari tinggi Matahari minus 12 derajat hingga minus 20 derajat.

Salah satu pendapat itu berasal dari ibn Yunus (wafat di Kairo tahun 1009), ahli falak terbesar pada masanya.

Risetnya menarik perhatian, dialah salah satu pionir riset atmosfer Bumi yang menguak sifat optisnya. Ibn Yunus menemukan refraksi atmosfer bernilai 0,67 derajat yang tak jauh berbeda dengan nilai modern (0,58 derajat).

Penelitiannya juga menyimpulkan saat tepat munculnya cahaya fajar terjadi pada tinggi Matahari minus 19 derajat. Berabad kemudian muncul Ibn Syatir (wafat di Damaskus tahun 1375) yang mengonfirmasi ibn Yunus melalui risetnya di Suriah.

Ia juga menghasilkan tinggi Matahari minus 19 derajat. Sedangkan al–Hasan al–Marrakushi (wafat di Marrakesh tahun 1262) melalui risetnya di Maroko mendapatkan tinggi Matahari untuk munculnya cahaya fajar yang lebih rendah, yakni minus 20 derajat.

Masih banyak karya–karya ahli falak pada era itu yang mendeskripsikan kapan cahaya fajar mulai muncul. Dengan nilai tinggi Matahari yang berbeda–beda. Misalnya al–Biruni (wafat di Ghazni tahun 1048), salah satu ahli falak terbesar pada masanya pula.

Lewat risetnya di daratan Persia, al–Biruni mendapat tinggi Matahari minus 18 derajat. Namun karya trio ibn Yunus, ibn Syatir dan al–Hasan al–Marrakushi menunjukkan bahwa tinggi Matahari minus 19 derajat hingga minus 20 derajat sebagai awal waktu Subuh sudah dikenal sejak masa imperium Abbasiyah. Bukan hasil introduksi kolonial Inggris manakala menguasai Mesir di abad ke–19, sebagaimana klaim satu kelompok.

Bagaimana di era modern?

Jika dulu riset cahaya fajar semata mengandalkan ketajaman mata manusia yang subyektif, kini mulai bisa dikuantifikasi lewat aneka instrumen pengindra terang gelapnya langit.

Mulai dari SQM (sky quality meter), fotometer dan tabung pengganda (photomultiplier tube) yang langsung mengubah hasil bacaannya ke dalam besaran angka–angka.

Hingga pemanfaatan kamera digital yang memproduksi citra di mana setiap citra dapat diubah menjadi angka–angka data melalui proses pengolahan tertentu memanfaatkan perangkat lunak pengolahan citra, sehingga lebih obyektif.

Riset berbasis perangkat tersebut dirintis misalnya oleh Abdul Haq Sulthan pada dataran tinggi di Yaman (2003). Menggunakan fotometer, Sulthan mendapatkan tinggi Matahari di saat cahaya fajar tepat muncul pada 24 November 2003 adalah minus 19,4 derajat.

Cahaya fajar berkembang menebal selama 71 menit kemudian hingga terbitnya Matahari. Sebaliknya sejak 120 menit sebelum Matahari terbit, Sulthan mendeteksi kemunculan cahaya zodiak. Riset semi–kuantitatif ini mengonfirmasi persistensi cahaya zodiak–cahaya fajar.

Data Indonesia

Di Indonesia, di antara ratusan data riset cahaya fajar modern yang dihasilkan dalam satu dasawarsa terakhir terdapat sedikitnya 16 data yang mendemonstrasikan persistensi cahaya zodiak–cahaya fajar.

Data–data itu adalah produk kerja keras Gus Basthoni, KH Muhyidin Hasan, KH Abdul Moeid dkk di dataran rendah Pulau Bawean (2019) dan Banyuwangi (2020). Hasil riset mereka cukup mengesankan, cahaya zodiak terdeteksi dengan baik dalam instrumen SQM sebagai penurunan kecerlangan langit malam gradual mengikuti pola linear.

Sebaliknya cahaya fajar terdeteksi sebagai penurunan kecerlangan langit malam yang terjal dan membentuk pola eksponensial.

Analisis ke–16 data tersebut juga menunjukkan penurunan kecerlangan berpola eksponensial mulai terjadi di sekitar tinggi Matahari minus 20 derajat. Kerja keras mereka juga menunjukkan betapa polusi cahaya lingkungan, kehadiran Bulan dan tutupan awan berdampak pada tidak terdeteksinya cahaya zodiak.

Jika faktor–faktor tersebut terdapat di sebuah lokasi, maka kondisi ideal untuk riset cahaya fajar tak terpenuhi.

Ada ratusan data hasil riset cahaya fajar di Indonesia yang diakumulasi dalam satu dasawarsa terakhir. Mereka menyajikan nilai tinggi Matahari dalam rentang sangat lebar, mulai dari yang terkecil minus 26,7 derajat hingga yang terbesar minus 13,5 derajat.

Lebarnya rentang nilai itu menunjukkan mungkin terdapat kekeliruan metodologi pada sebagian riset. Evaluasi pada mayoritas riset yang memproduksi nilai ekstrim, yakni tinggi Matahari di antara minus 23 derajat hingga minus 26,7 derajat, mengindikasikan lokasi riset terganggu sumber polusi cahaya non–konsisten.

Sebaliknya pada ujung ekstremitas yang lain, yakni pada riset yang menghasilkan nilai tinggi Matahari minus 13,5 derajat atau sedikit lebih kecil, faktor–faktor lingkungannya tidak dipublikasikan.

Padahal hasil riset inilah yang mengklaim awal waktu Subuh di Indonesia terlalu cepat hingga 26 menit. Faktor–faktor lingkungan itu krusial untuk diketahui mengingat riset independen menunjukkan nilai tinggi Matahari sebesar itu dapat saja diperoleh pada lokasi yang diterangi cahaya Bulan purnama maupun terpolusi cahaya hingga tingkat sedang.

Jelas meskipun telah banyak peneliti yang terjun dalam lapangan riset cahaya fajar, belum ada sebuah satu kesatuan terkait bagaimana riset tersebut dilaksanakan. Mulai dari pemilihan lokasi ideal, penggunaan instrumen beserta kalibrasinya, perlu tidaknya mengkorelasikan pembacaan instrumen dengan sensitivitas mata manusia, prosedur standar riset hingga pada metode analisis data.

Tanpa satu kesatuan prosedur standar, maka sebuah instrumen yang sama namun digunakan oleh dua peneliti berbeda pada lokasi berbeda dengan metodologi berbeda pula hanya akan menghasilkan nilai yang berpotensi saling berbantah.

Tak perlu berubah

Jadwal resmi waktu shalat di Indonesia dihitung dengan menggunakan tinggi Matahari minus 20 derajat sebagai awal waktu Subuh, yang masih berada dalam rentang nilai tersebut. Dari ratusan data hasil penelitian cahaya fajar di Indonesia, 22 data mengonfirmasi tinggi Matahari minus 20 derajat atau lebih rendah lagi sebagai saat awal cahaya fajar muncul.

Di antaranya termasuk seluruh 16 data persistensi cahaya zodiak–cahaya fajar dari pulau Bawean dan Banyuwangi di atas. Sehingga awal waktu Subuh di Indonesia memiliki landasan ilmiahnya, bukan semata asumsi sebagaimana dipahami 10 tahun silam.

Bila waktu Subuh dalam jadwal resmi waktu shalat Indonesia diperbandingkan dengan sejumlah negara lainnya, tidak nampak perbedaan yang berarti. Mari bandingkan waktu Subuh di Indonesia (diwakili Jakarta) dengan Malaysia (Kuala Lumpur), Mesir (Cairo), Turki (Istanbul) dan Saudi Arabia (Makkah) untuk perhitungan 27 Desember 2020.

Tabel perbandingan waktu Subuh di lima kota besar negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas Muslim. Nampak dari sisi durasi dan tinggi Matahari untuk awal waktu Subuh relatif tak jauh berbeda. Sudibyo, 2020 dari berbagai sumber Tabel perbandingan waktu Subuh di lima kota besar negara Islam atau negara berpenduduk mayoritas Muslim. Nampak dari sisi durasi dan tinggi Matahari untuk awal waktu Subuh relatif tak jauh berbeda.

 

Terlihat durasinya (sejak awal waktu Subuh hingga terbitnya Matahari) bagi kelima kota tersebut relatif tidak banyak berbeda, mencerminkan tinggi Matahari yang digunakan pun tak banyak berbeda.

Bahwa waktu Subuh di kota Jakarta dalam ukuran waktu lokal terkesan lebih dini, hal tersebut disebabkan oleh zona waktu yang digunakan dan hemisfer. Kota Jakarta menjadi satu–satunya kota yang berada di kawasan lintang selatan dibanding keempat kota lainnya.

Pada Desember 2020 ini, Matahari sedang berada di atas hemisfer selatan dalam gerak semu tahunannya. Sehingga belahan Bumi selatan akan mengalami fajar lebih dini dengan durasi siang lebih panjang.

Jadi hingga saat ini tidak perlu ada perubahan waktu Subuh di Indonesia. Karena dasarnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Di sisi lain, riset cahaya fajar di negeri ini masih tetap berlu digelar. Mengingat data–data yang telah diperoleh sejauh ini baru berasal dari sebagian kecil wilayah Indonesia, sehingga belum mencerminkan karakter negara kepulauan ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X