Kompas.com - 22/12/2020, 20:05 WIB
Ilustrasi hipertensi. thinkstockphotosIlustrasi hipertensi.

KOMPAS.com - Meski bosan, ahli mengingatkan agar pasien hipertensi dan dislipidemia tetap berupaya untuk patuh dalam mengonsumsi obat.

Pakar Kardiovaskular di Rumah Sakit Siloam sekaligus Kepala Departemen Kardiovaskular di Universitas Pelita Harapan, Dr dr Antonia Anna Lukito SPJP(K) mengatakan, hipertensi (tekanan darah tinggi) dan dislipidemia (kadar kolesterol tinggi) adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara instan, tetapi melalui kontrol yang ketat.

Antonia berkata, hipertensi kemungkinan berkaitan dengan kolesterol tinggi. Bahkan, dilaporkan 50-75 persen pasien hipertensi juga memiliki masalah kolesterol tinggi.

Baca juga: Hipertensi Bisa Picu Gagal Jantung, Begini Cara Mengelola Tekanan Darah

Seperti diketahui, hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak menular yang paling banyak di derita masyarakat dunia. 

Seseorang dikatakan memiliki hipertensi atau tekanan darah yang tinggi, jika mempunyai tekanan darah yang terukur pada angka 130/80 mmHg atau lebih tinggi.

Berdasarkan data, setidaknya didapatkan 1 dari 2 individu berusia di atas 50 tahun menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Sementara itu, Dislipidemia adalah kondisi di mana kolesterol atau lemak (lipid) tidak normal di dalam darah.

Tidak jauh berbeda dengan hipertensi, dislipedemia ini dapat meningkatkan kemungkinan penyumbatan arteri dan serangan jantung, stroke, atau masalah sirkulasi darah lainnya.

"Sehingga, jika seseorang mengidap hipertensi ditambah juga dislipidemia, maka bisa memicu stres oksidatif dan disfungsi endotel," kata Antonia dalam diskusi daring bertajuk Daweoong Pharmatceutical Memperkenalkan Obat Kombinasi Inovatif untuk Menangani Hipertensi dan Dislipidemia, Kamis (17/12/2020).

Untuk diketahui, disfungsi endotel adalah proses awal terjadinya berbagai masalah kardiovaskular seperti penyakit stroke, jantung koroner, penyakit arteri perifer, dan lain sebagainya.

Sedangkan, stres oksidatif adalah kondisi kadar antioksidan dan radikal bebas di dalam tubuh tidak seimbang.

Oleh karena itu, kata Antonia, untuk menjaga kesehatan jantung, penting juga melakukan pengendalian terhadap kolesterol dan hipertensi.

"Karena, tekanan darah itu merupakan indikator utama atas terjadinya stroke pada individu hipertensi usia lanjut," jelasnya.

Salah satu cara pengendalian atau pengobatan hipertensi yang telah dilakukan sejak dulu adalah memberikan dosis obat yang harus diminum oleh pasien dengan konsekuensi kepatuhan minum obat, agar tekanan darah benar-benar terkendali.

Baca juga: Cegah Kematian, Ini Daftar Obat dan Cara Mengendalikan Hipertensi

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X