800 Tahun Sekali: Jangan Lewatkan Fenomena Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus

Kompas.com - 21/12/2020, 19:31 WIB
Ilustrasi Jupiter dan Ganymede beserta auroranya. NASA/ESAIlustrasi Jupiter dan Ganymede beserta auroranya.

KOMPAS.com - Malam hari ini, Senin (21/12/2020), Anda bisa sedikit meluangkan waktu untuk mengamati fenomena sangat langka, yaitu Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus.

Apa itu Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus?

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo menjelaskan bahwa Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus adalah peristiwa langit, di mana Planet Jupiter dan Planet Saturnus bersama-sama menempati satu garis bujur ekliptika, meski sedikit berbeda dalam hal kedudukan garis lintang ekliptikanya.

"Sehingga, kedua planet ini terlihat berdekatan atau memiliki elongasi kecil secara astronomi," kata Marufin kepada Kompas.com, Senin (21/12/2020).

Baca juga: Cara Melihat Fenomena Langka Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus Nanti Malam

Konjungsi Jupiter-Saturnus merupakan konsekuensi dari gerak kedua planet mengelilingi Matahari, di mana Planet Jupiter memiliki periode revolusi 10.86 tahun, sementara Planet Saturnus berperiode revolusi 29.46 tahun.

Pada peristiwa konjungsi agung Jupiter–Saturnus, selain menempati garis bujur ekliptika yang satu maka kedua planet juga menempati garis lintang ekliptika yang hampir sama. 

"Sehingga nilai elongasinya sangat kecil," jelasnya.

Secara umum konjungsi agung terjadi, manakala elongasinya lebih kecil dari 10 menit busur (seperenam derajat). 

Untuk menggambarkan kecilnya elongasi ini, angka seperenam derajat itu setara dengan sepertiga ukuran-nampak Bulan bila dilihat dari Bumi. 

Maka, apabila Bulan ditempatkan di hadapan dua benda langit yang sedang menjalani peristiwa konjungsi agung, kedua benda langit tersebut akan nampak tertutupi Bulan, jika dilihat dari lingkungan Bumi.

Menurut Marufin, konjungsi Jupiter-Saturnus 2020 tergolong istimewa, karena kedua planet nampak sangat berdekatan (dengan jarak sudut/elongasi) hanya 7 menit busur, sehingga bagi mata khalayak umum akan terlihat sebagai titik tunggal sangat terang.

Elongasi ini adalah elongasi terkecil antara kedua planet dalam 8 abad terakhir, tepatnya sejak peristiwa sejenis di tahun 1226 silam.

Fenomena sangat langka

Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Emanuel Sungging mengatakan, bahwa fenomena konjungsi kali ini disebut agung karena jaraknya yang sangat dekat ketampakannya dari Bumi dan sangat jarang terjadi.

Untuk diketahui, Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus disebut langka, karena hanya akan terjadi setiap 19 hingga 20 tahun sekali.

"Kalau Konjungsi Jupiter-Saturnus terjadi setiap sekitar 19-20 tahun, tapi yang sedekat sekarang hanya terjadi sekitar 800 tahun lalu, makanya ramai disebut konjungsi agung," jelas Emanuel, Senin (12/12/2020).

Dalam catatan Lapan, konjungsi Agung ini terakhir kali terjadi pada 31 Mei 2000, dan akan terjadi kembali pada 5 November 2040, serta 10 April 2060 dan 15 Maret 2080 mendatang.

Senada dengan Emanuel, Marufin juga mengatakan bahwa Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus memang peristiwa langit yang sangat langka.

"Konjungsi Jupiter-Saturnus terjadi tiap 19.85 tahun sekali. Namun, untuk sekelas konjungsi agung, periode perulangannya jauh lebih lama," tuturnya.

Baca juga: 2 Fenomena Langit Hari Ini: Solstis dan Konjungsi Agung Jupiter-Saturnus

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X