Kompas.com - 21/12/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi virus corona (Covid-19) KOMPAS.com/NURWAHIDAHIlustrasi virus corona (Covid-19)

KOMPAS.com - Baru-baru ini, varian baru Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang ditemukan di London (United Kingdom/UK) kembali menggelisahkan banyak pihak.

Pada hari Sabtu (19/12/2020), Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengumumkan pembatasan baru karena munculnya varian baru tersebut.

Beberapa negara Uni Eropa dan Kanada, melarang atau membatasi beberapa penerbangan dari Inggris untuk mencegah penyebaran yang diduga lebih cepat akibat varian baru ini.

Baca juga: Ada Varian Baru Virus Corona, Hong Kong Larang Kedatangan Pesawat dari Inggris

Lantas apakah varian baru virus corona ini membuat virus SARS-CoV-2 lebih cepat menginfeksi manusia?

Menyangkut persoalan varian baru virus corona yang memicu kekhawatiran masyarakat secara global ini, Pakar Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD angkat bicara.

Ia mencoba menjelaskan, apa yang dimaksud dengan ditemukannya varian baru.

Ahmad mengatakan, bahwa melihat dari penjelasan ahli mikrobiologi yaitu Prof Nick Loman di University of Birmingham UK, varian baru virus SARS-CoV-2 ini diberi nama VUI 202012/01.

"Jadi, VUI adalah varian under investigatin (VUI), jadi variasi ini masih dipelajari," kata Ahmad dalam akun sosial media resmi instagramnya.

Sementara itu, pemberian nama angka 202012/01 tersebut dimaknakan varian baru pertama ini ditemukan pada bulan 12 atau Desember 2020.

Dalam varian ini, ditemukan mutasi asparigine pada pos 501 (N501Y) yang menjadi tirosin pada protein spike.

Untuk diketahui, protein spike virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 adalah protein yang penting bagi virus untuk menginfeksi tubuh manusia, karena berlekatan dengan reseptor ACE2.

"Apakah ini membuat virus tersebut menjadi lebih efektif (menginfeksi)? Kita tidak tahu saat ini," ujarnya.

Akan tetapi, kata Ahmad, memang di UK sendiri angka peningkatan atau penambahan kasus infeksi Covid-19 saat ini sedang tinggi.

Di saat bersamaan, varian baru ini ditemukan, sehingga frekuensinya lebih meningkat.

"Jadi, yang mereka mau katakan adalah adanya asosiasi tipe varian ini (mutasi N501Y) dengan naiknya angka penularan- angka kasus Covid-19 di UK," ucap dia.

Namun, terkait apakah asosiasi ini menjadi penyebab meningkatnya penularan virus corona, menurutnya itu adalah hal yang berbeda.

Baca juga: Varian Baru Covid-19 Ditemukan di Inggris, Apa Saja yang Kita Ketahui?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X