Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/12/2020, 13:05 WIB


KOMPAS.com - Bukti baru menunjukkan, virus corona juga menimbulkan efek buruk pada otak, menyebabkan orang yang etrinfeksi menderita efek kognitif, seperti kabut otak – gejala yang memengaruhi kemampuan berpikir – dan kelelahan.

Para peneliti menemukan, bahwa protein lonjakan, yang sering digambarkan sebagai lengan merah virus, dapat melewati sawar darah otak – jembatan antara sirkulasi darah dan otak – pada tikus.

Ini menunjukkan, bahwa SARS –CoV-2 penyebab Covid-19 memang bisa masuk ke otak.

Melansir Science Daily, penulis utama penelitian, William A. mengatakan, protein lonjakan, yang sering disebut protein S1, menentukan sel mana yang dapat dimasuki virus. Biasanya, virus melakukan hal yang sama dengan protein pengikatnya.

Baca juga: Varian Baru Mutasi Virus Corona Ditemukan di Inggris, Apa Kata Ahli?

Senada dengan William, Banks, profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Washington juga menyebut, protein pengikat seperti S1 dengan sendirinya menyebabkan kerusakan karena terlepas dari virus dan menyebabkan peradangan.

"Protein S1 kemungkinan menyebabkan otak melepaskan sitokin dan produk inflamasi," kata Banks yang juga seorang dokter dan peneliti.

Di kalangan sains, peradangan hebat yang disebabkan oleh infeksi Covid-19 disebut badai sitokin. Di mana, sistem kekebalan, setelah melihat virus dan proteinnya, bereaksi berlebihan untuk membunuh virus corona yang menyerang.

Sehingga, orang yang terinfeksi akan mengalami kabut otak, kelelahan, dan masalah kognitif lainnya.

Banks dan timnya melihat reaksi ini terhadap virus HIV dan ingin melihat apakah hal yang sama terjadi pada SARS CoV-2.

Menurut Banks, protein S1 pada SARS-CoV-2 atau virus corona dan protein gp 120 pada HIV-1 berfungsi serupa. Mereka adalah glikoprotein, yaitu protein yang mengandung banyak gula - ciri khas protein yang mengikat reseptor lain.

Kedua protein tersebut berfungsi sebagai lengan dan tangan virus untuk meraih reseptor lain. Keduanya melewati sawar darah-otak dan S1, seperti protein gp120, kemungkinan besar beracun bagi jaringan otak.

“Itu seperti de ja vu,” kata Banks, yang telah melakukan penelitian ekstensif pada HIV-1, gp120, dan sawar darah-otak.

Baca juga: Waspadai, Gejala Virus Corona pada Anak yang Paling Sering Muncul

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+