Kompas.com - 11/12/2020, 07:02 WIB
Jejak yang menunjukkan bagaimana 40.000 bintang di galaksi akan bergerak melintasi langit dalam 400.000 tahun mendatang. ESA/Gaia/DPACJejak yang menunjukkan bagaimana 40.000 bintang di galaksi akan bergerak melintasi langit dalam 400.000 tahun mendatang.


KOMPAS.com- Observatorium Luar Angkasa Gaia berhasil memperbarui peta galaksi Bima Sakti menjadi lebih baik. Pembaruan tersebut tidak hanya berhasil melacak lebih dari 1 miliar bintang di galaksi.

Seperti dilansir dari Nature, Kamis (10/12/2020, observatorium ini juga memberikan gambar bergerak tentang bagaimana bintang akan bergeser seiring waktu. Data tersebut disebut dapat mendukung studi tentang asal-usul dan evolusi galaksi hingga lokasi materi gelapnya.

"Saya belum melihat proyek astronomi lain, atau sains apapun, yang memiliki dampak seperti itu pada skala waktu yang begitu singkat," kata Amina Helmi, astronom di University of Groningen di Belanda.

Tim studinya, kata Helmi, semakin bersemangat untuk bisa mencari tahu apa yang dapat ditemukan dan dipelajari tentang galaksi Bima Sakti dengan menggunakan data Gaia Space Observatory.

Baca juga: Salah Satu Planet Paling Hitam di Galaksi Menuju Kematian

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Data yang digunakan yakni yang dirilis Gaia pada tahun 2018 lalu, Helmi dan timnya telah mempelajari pergerakan sejumlah besar bintang untuk mengungkapkan bukti penggabungan galaksi yang terjadi miliaran tahun yang lalu.

Gaia lepas landas pada akhir 2013, dan mulai mengamati bintang pada Juli 2014 dari ketinggian 1,5 juta km dari Bumi.

Wahana antariksa milik badan antariksa Eropa (ESA) terus memindai langit saat perlahan berputar, dan sekarang telah mengukur posisi bintang yang sama beberapa kali.

Ini memungkinkan ilmuwan melacak gerakan bintang yang hampir tak terlihat di galaksi dari tahun ke tahun.

Baca juga: Google Map Alam Semesta, Ilmuwan Gunakan Teleskop Ini Petakan Jutaan Galaksi

Saat Gaia mengorbit Matahari, perubahan perspektifnya juga membuat perubahan posisi nyata bintang-bintang dalam jumlah kecil. Offset tersebut dapat digunakan untuk menghitung jaraknya dari Tata Surya, teknik itu disebut dengan paralaks.

Kendati demikian, informasi yang diberikan Gaia tanpa menggunakan pengukuran jarak yang andal, sehingga sulit untuk menebak ukuran, usia dan kecerahan bintang.

Data yang diteliti para ilmuwan menggunakan kumpulan data misi sebelumnya, yang dirilis pada tahun 2016 dan 2018.

Saat ini, menurut Floor van Leeuwen, astronom di University of Cambridge, Inggris, data tersebut dikutip dalam literatur dengan sebanyak 3.000 kali per tahun.

Halaman:


Sumber Nature
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.