Waspada Bencana Hidrometeorologi, BMKG Beri 3 Saran Mitigasi

Kompas.com - 04/12/2020, 08:02 WIB
ilustrasi hujan lebat Wavebreakmedia Ltdilustrasi hujan lebat

KOMPAS.com - Akibat curah hujan yang intens dan berdurasi lama, BMKG meminta sejumlah wilayah Indonesia untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi.

Kepala Sub-bidang Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Agie Wandala, menjelaskan, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya.

Beberapa paramater di antaranya adalah peningkatan curah hujan, penurunan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca esktrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang serta kilat atau petir, dan lain sebagainya.

Secara umum, bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi saat musim hujan saja, melainkan juga bisa terjadi di musim kemarau.

Baca juga: Apa Itu Bencana Hidrometeorologi yang Harus Diwaspadai di Musim Hujan?

Namun, saat musim hujan seperti ini, Agie mengingatkan ada banyak kejadian bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi.

Oleh sebab itu, Agie mengatakan, dalam kondisi cuaca seperti apa pun, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana merupakan hal yang penting.

Ancaman bencana hidrometeorologi itu ada banyak, baik di musim kemarau maupun musim hujan. Sebagai contoh, kekeringan, banjir, tanah longsor, genangan, banjir bandang, angin kencang, pohon tumbang, jalan licin, serta cuaca ekstrem.

Nah, menurut Agie, di masa periode musim hujan seperti saat ini, masyarakat terutama di wilayah-wilayah rentan, sebaiknya mewaspadai adanya ancaman bencana hidrometeorologi banjir, longsor, banjir bandang serta gelombang tinggi.

Mitigasi bencana hidrometeorologi

Agie menjelaskan, mitigiasi bencana hidrometeorologi ini bisa dilakukan dengan banyak cara, beberapanya sebagai berikut.

1. Mitigasi secara nomenklatur

Mitigasi secara nomenklatur ini sering dimaknakan sebagai rangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana.

"Bentuknya (mitigasi nomenklatur) melalui pembangunan fisik atau infrastruktur, ini interfensi maupun penyadaran masyarakat," kata Agie kepada Kompas.com, Kamis (3/12/2020).

Ruas jalan provinsi di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tergenang banjir akibat luapan Sungai Serayu, Kamis (3/12/2020).KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN Ruas jalan provinsi di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tergenang banjir akibat luapan Sungai Serayu, Kamis (3/12/2020).

2. Edukasi (penyadartahuan) kepada masyarakat

Penyadartahuan kepada masyarakat ini tentunya adalah bentuk edukasi tentang bencana hidrometeorologi dan peningkatan kemampuan mereka dalam menghadapi ancaman bencana.

Penyadartahuan atau edukasi ini harulah dilakukan mulai dari kelompok inti di dalam masyarakat, yaitu keluarga.

"Dari keluarga dulu, orang tua harus mulai mau belajar baik dari literatur atau video bagaimana memitigasi bencana hidrometeorologi," jelasnya.

Selain itu, edukasi mitigasi bencana ini juga bisa dilakukan dan diajarkan melalui kurikulim di sekolah-sekolah.

"Karena anak cucu kita yang akan meneruskan legacy. Kalau mereka bisa menjaga lingkungan maka dampak bencana dapat ditekan," ucap dia.

Baca juga: Apa Itu Bencana Hidrometeorologi yang Harus Diwaspadai di Musim Hujan?

3. Aktivitas yang tidak merusak lingkungan

Berkaitan dengan pengurangan risiko bencana secara fisik-infrastruktur maupun edukasi kepada masyarakat secara umum, Agie menegaskan, kita sendiri secara pribadi masing-masing sedari sekarang juga harus memulai langkah-langkah untuk tidak merusak lingkungan dalam berbagai aktivitas kehidupan kita.

Beberapa kegiatan yang tidak merusak lingkungan yakni;

  • Tidak membuang sampah sembarangan, terutama aliran air (drainase) dan sungai; berpotensi banjir dan sarang nyamuk
  • Menebang pohon tua rapuh di sekitar lingkungan
  • Menyimpan air di musim hujan, cadangan di musim kemarau
  • Bijak dalam penggunaan air
  • Kurangi kegiatan menghasilkan emisi gas rumah kaca
  • Beri ruang serapan air untuk lahan yang akan dibangun
  • Tidak menebang pohon atau mengeruk tanah terutama di wilayah lereng gunung atau perbukitan; potensi longsor
  • Waspada daerah cekungan ketika musim hujan; potensi banjir



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X