Google Map Alam Semesta, Ilmuwan Gunakan Teleskop Ini Petakan Jutaan Galaksi

Kompas.com - 02/12/2020, 19:02 WIB
Teleskop radio Australian Square Kilometre Array Pathfinder (ASKAP) yang dikembangkan dan dioperasikan lembaga sains CSIRO berhasil memetakan sekitar 3 juta galaksi di alam semesta. Peta tersebut disebut ilmuwan sebagai Google Map of the Universe. CSIROTeleskop radio Australian Square Kilometre Array Pathfinder (ASKAP) yang dikembangkan dan dioperasikan lembaga sains CSIRO berhasil memetakan sekitar 3 juta galaksi di alam semesta. Peta tersebut disebut ilmuwan sebagai Google Map of the Universe.


KOMPAS.com- Untuk pertama kalinya, sekitar 3 juta galaksi di alam semesta berhasil dipetakan para ilmuwan dengan menggunakan teleskop canggih dalam waktu yang sangat cepat.

Teleskop ini memecahkan rekor tercepat dalam memetakan sekitar 3 juta galaksi dalam waktu 300 jam atau sekitar 12,5 hari.

Dengan rekor kecepatan yang dicapai, para ilmuwan menyebut hasil pemetaan galaksi tersebut sebagai Google Map of the Universe atau peta alam semesta, seperti dikutip dari CNN, Rabu (2/12/2020).

Australian Square Kilometer Array Pathfinder (ASKAP) adalah sebuah teleskop radio yang berada di pedalaman Australia Barat, dikembangkan dan dioperasikan oleh lembaga sains Australia CSIRO.

Baca juga: Teleskop Radio Terbesar, Sistem Radar Bumi Ini Akan Dihancurkan, Kenapa?

 

"ASKAP menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru untuk (menjawab) pertanyaan kuno tentang misteri alam semesta dan melengkapi astronom di seluruh dunia dengan terobosan baru untuk memecahkan tantangan tersebut," kata CSIRO Larry Marshall.

Untuk pertama kalinya, ASKAP diuji secara keseluruhan. Peta alam semesta baru yang berhasil dibuat teleskop ini mencakup 83 persen dari seluruh langit dan menunjukkan detail galaksi Bima Sakti yang belum terjadi sebelumnya.

Dengan teleskop canggih ini, astronom CSIRO David McConnell mengatakan para ilmuwan berharap dapat menemukan lebih puluhan juta galaksi baru dalam survei ASKAP di masa depan.

Perangkat teleskop ASKAP ini dilengkapi 36 antena parabola, yang saling terintegrasi untuk mengambil foto panorama langit.

Halaman:


Sumber CNN,Guardian
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sensor BMKG Tangkap Suara Dentuman di Bali, tapi Bukan Aktivitas Gempa

Sensor BMKG Tangkap Suara Dentuman di Bali, tapi Bukan Aktivitas Gempa

Fenomena
Peneliti Oxford Bersiap Rancang Vaksin Covid-19 Khusus Varian Baru

Peneliti Oxford Bersiap Rancang Vaksin Covid-19 Khusus Varian Baru

Oh Begitu
4 Faktor Pemicu Banjir Manado, Cuaca Ekstrem hingga Labilitas Atmosfer

4 Faktor Pemicu Banjir Manado, Cuaca Ekstrem hingga Labilitas Atmosfer

Fenomena
[POPULER SAINS] Testing Covid-19 Indonesia Salah | Terinfeksi Covid-19 Usai Vaksin | Semut TV Bukti Big Bang

[POPULER SAINS] Testing Covid-19 Indonesia Salah | Terinfeksi Covid-19 Usai Vaksin | Semut TV Bukti Big Bang

Oh Begitu
Keempat Kalinya dalam 42 Tahun, Salju Turun di Sahara

Keempat Kalinya dalam 42 Tahun, Salju Turun di Sahara

Oh Begitu
LIPI Kembangkan Metode Kristalisasi untuk Mengelola Sampah Medis

LIPI Kembangkan Metode Kristalisasi untuk Mengelola Sampah Medis

Oh Begitu
Banjir Manado, Masyarakat Diimbau Waspada Potensi Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Manado, Masyarakat Diimbau Waspada Potensi Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Varian Baru Virus Corona Brasil Ditemukan di Kota Amazon

Varian Baru Virus Corona Brasil Ditemukan di Kota Amazon

Fenomena
Bupati Sleman Positif Covid-19, Virus Corona Kemungkinan sudah Berinkubasi

Bupati Sleman Positif Covid-19, Virus Corona Kemungkinan sudah Berinkubasi

Oh Begitu
Epidemiolog Desak Sistem Testing Covid-19 Diperbaiki Sebelum Pandemi Makin Memburuk

Epidemiolog Desak Sistem Testing Covid-19 Diperbaiki Sebelum Pandemi Makin Memburuk

Oh Begitu
Bisa Ular Kobra Semburan Racunnya Tidak untuk Membunuh, Studi Jelaskan

Bisa Ular Kobra Semburan Racunnya Tidak untuk Membunuh, Studi Jelaskan

Oh Begitu
3 Cara Mengatasi Hipertensi untuk Mencegah Kematian Dini

3 Cara Mengatasi Hipertensi untuk Mencegah Kematian Dini

Oh Begitu
5 Kesalahan Saat Makan Siang yang Bisa Gagalkan Penurunan Berat Badan

5 Kesalahan Saat Makan Siang yang Bisa Gagalkan Penurunan Berat Badan

Oh Begitu
Pengurutan Genom Mutasi Virus Corona Baru CDC Tak Capai Target

Pengurutan Genom Mutasi Virus Corona Baru CDC Tak Capai Target

Oh Begitu
Panggilan Kawin Tak Terdengar, Katak Ini Pilih Lambaikan Tangan

Panggilan Kawin Tak Terdengar, Katak Ini Pilih Lambaikan Tangan

Oh Begitu
komentar
Close Ads X