The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

9 Bulan Pandemi Covid-19, Apa yang Salah dengan Penanganan di Indonesia?

Kompas.com - 02/12/2020, 13:06 WIB
Petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri saat memberikan berkas pasien Covid-19 saat tiba di pos pemeriksaan IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2020). Gubernur Anies Baswedan pada Sabtu pekan lalu mengatakan saat ini pasien terpapar Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala atau OTG akan dirawat di RSD Wisma Atlet, sebanyak 1.740 pasien Covid-19 yang dirawat inap hingga Rabu, 16 September 2020. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri saat memberikan berkas pasien Covid-19 saat tiba di pos pemeriksaan IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2020). Gubernur Anies Baswedan pada Sabtu pekan lalu mengatakan saat ini pasien terpapar Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala atau OTG akan dirawat di RSD Wisma Atlet, sebanyak 1.740 pasien Covid-19 yang dirawat inap hingga Rabu, 16 September 2020.

Oleh: I Nyoman Sutarsa, I Md Ady Wirawan dan Putu Ayu Swandewi Astuti

SETELAH sembilan bulan berjuang melawan pandemi Covid-19, upaya penanggulangan di Indonesia - negara dengan penduduk terpadat di Asia Tenggara - belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Setelah kasus Covid-19 pertama diumumkan pada Maret 2020, situasi pandemi di Indonesia terus memburuk.

Jumlah kasus harian mengalami peningkatan dan Indonesia terus mencatatkan rekor-rekor baru terlepas dari upaya penanggulangan yang telah dilakukan oleh pemerintah mulai dari pembatasan sosial sampai pada pelaksanaan parsial lockdown di beberapa wilayah di Indonesia.

Minggu lalu, Indonesia kembali mencatat rekor jumlah kasus harian yaitu 6.267 kasus. Rekor tersebut hanya berselang lima hari dari rekor sebelumnya, 5.534 kasus.

Saat ini, total kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 534.266 orang, dan tersebar di lebih dari 95% kabupaten/kota di Indonesia. Angka tersebut diprediksi masih lebih rendah dibandingkan dengan situasi riil di lapangan karena terbatasnya jumlah tes. Namun demikian, jumlah kasus di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.

Angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia telah mencapai 3,1%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka kematian dunia yang 2,4%.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kami mengkaji tiga kelemahan utama dalam upaya penanggulangan Covid-19 di Indonesia dalam rentang sembilan bulan terakhir, dan merekomendasikan langkah-langkah yang dapat dilakukan.

1. Respons yang lambat

Respons yang cepat, khususnya pada fase awal pandemi, telah terbukti efektif di berbagai negara.

Respons cepat yang dilakukan oleh pemerintah China, Mongolia, Selandia Baru, dan Uruguay pada fase awal pandemi telah berhasil menekan laju penularan Covid-19. Langkah-langkah yang mereka ambil termasuk membatasi penerbangan internasional, menutup fasilitas umum, mengisolasi kasus positif, penelusuran kontak dan tes, serta kampanye besar-besaran penggunaan masker dan praktik cuci tangan.

Upaya penanggulangan dari negara-negara tersebut menunjukkan bahwa respons yang cepat dapat melandaikan kurva pandemi dan mencegah peningkatan kasus secara eksponensial. Hal ini memungkinkan pemerintah untuk menyiapkan sistem kesehatan untuk mengatasi lonjakan kasus pada hari-hari berikutnya.

Indonesia gagal dalam melakukan upaya penanggulangan cepat pada fase-fase awal pandemi. Pada saat berbagai negara telah menerapkan penutupan wilayah dan pembatasan sosial sejak awal pandemi, pemerintah Indonesia memilih untuk mengabaikan ancaman Covid-19. Pemerintah Indonesia lebih mengutamakan langkah-langkah penyelamatan ekonomi.

Selanjutnya, ketika banyak negara tengah bersiap secara hati-hati untuk kembali membuka diri dari fase lockdown, pemerintah Indonesia justru secara prematur membuka ekonomi melalui implementasi kenormalan baru.

Namun demikian, ekonomi Indonesia tetap terpukul keras. Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia, pandemi Covid-19 mengguncang keras ekonomi Indonesia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.