Akankah Semeru Meletus Lagi dalam Waktu Dekat? Ini Kata Mbah Rono

Kompas.com - 02/12/2020, 08:03 WIB
Kejadian Awan Panas Guguran di Semeru (1/12/2020) dok. PVMBG NiaKejadian Awan Panas Guguran di Semeru (1/12/2020)

KOMPAS.com - Gunung Semeru di Jawa Timur meletus dan mengeluarkan awan panas, Selasa (1/12/2020) dini hari. Luncuran awan panas Gunung Semeru terjadi selama hampir tiga jam.

Berkaitan dengan aktivitas gunung ini, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), menetapkan tingkat aktivitas Gunung Semeru dalam status Waspada Level II.

Penetapan status Waspada Level II itu berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahaya yang ada. 

Baca juga: 5 Fakta Gunung Semeru Meletus dan Rekomendasi PVMBG

Kendati hanya berstatus Waspada Level II, tetapi aktivitas Gunung Semeru ini sudah cukup aktif. Dengan beberapa kejadian sebagai berikut:

  • Asap kawah berwarna putih dan kelabu teramati dari puncak
  • Suhu udara sekitar tercatat sekitar 19-32 derajat celsius
  • Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga kencang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, barat daya, dan barat juga terjadi di gunung api tersebut dan sekitarnya
  • Erupsi yang terjadi terus-menerus menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 meter dari atas kawah atau puncak
  • Guguran batu dan kejadian awan panas guguran yang berasal dari ujung lidah lava, dengan jarak luncur maksimum 1 kilometer ke sektor tenggara lereng
  • Gempa letusan dengan rata-rata 40 kejadian per hari tercatat yang paling mendominasi kejadian di Gunung Semeru.

Lantas, dengan kondisi kejadian tersebut akankah Gunung Semeru meletus besar dalam waktu dekat?

Ahli vulkanologi, Surono, mengatakan bahwa kemungkinan letusan besar itu belum bisa dipastikan berdasarkan status Waspada Level II dan aktivitas di gunung api Semeru yang terjadi itu. 

"Saya kira sudah cukup, letusan dini hari tadi yang dihasilkan awan panas, letusan sejauh 11 kilometer dari puncak," kata Surono yang akrab disapa Mbah Rono kepada Kompas.com, Selasa (1/12/2020).

Berdasarkan pantauan Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), pada Selasa, 1 Desember 2020, mulai pukul 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 kilometer ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.

"Untung dini hari, jika siang hari, ada aktivitas di sungai, enggak kebayang saya," kata dia.

Terkait potensi semburan panas dari kawah Gunung Semeru, Mbah Rono menegaskan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Fakta Suara Dentuman di Bali, Mirip Kejadian di Bone 2009

5 Fakta Suara Dentuman di Bali, Mirip Kejadian di Bone 2009

Oh Begitu
Apakah Kucing dan Anjing Butuh Vaksin Covid-19 Khusus?

Apakah Kucing dan Anjing Butuh Vaksin Covid-19 Khusus?

Oh Begitu
Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Fenomena
WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Oh Begitu
Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Fenomena
Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Fenomena
Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Oh Begitu
Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Oh Begitu
Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

Oh Begitu
BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

Fenomena
Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Fenomena
SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

Fenomena
Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Fenomena
komentar
Close Ads X