9 Bulan Pandemi Covid-19, Pentingnya Mencari Makna Hidup di Tengah Penderitaan

Kompas.com - 28/11/2020, 12:06 WIB
Ilustrasi Covid-19 Shutterstock/PetovargaIlustrasi Covid-19

Oleh Anastasia Heni

PANDEMI  Covid-19 di Indonesia telah melewati sembilan bulan dan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Sepanjang waktu ini, banyak orang - baik orang yang terinfeksi virus corona maupun mereka yang berisiko terinfeksi dan orang-orang yang terdampak dalam berbagai sektor kehidupan - mengalami depresi dan kecemasan.

Seseorang yang dikonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 awalnya mengalami berbagai perasaan negatif seperti tidak percaya, marah, menolak, bahkan mungkin depresi.

Sebuah riset menunjukkan depresi saat pandemi naik tiga kali lipat dibanding sebelum masa pandemi. Riset lainnya juga berkesimpulan kecemasan dan depresi juga dialami oleh para penderita penyakit seperti jantung dan darah tinggi yang menunda ke rumah sakit karena keadaan pandemi Covid-19.

Walau tidak mudah, kita perlu menemukan makna hidup di tengah keadaan pandemi. Makna hidup ini akan mendorong kita tetap produktif walau ada banyak hambatan dan kesulitan.

Logoterapi, terapi makna hidup

Salah satu teori psikologi yang kerap dipakai untuk terapi menemukan makna hidup di tengah penderitaan adalah logoterapi (penyembuhan). Teori dari Viktor E Frankl ini menyediakan panduan untuk menjalani hidup secara bermakna meski dalam penderitaan.

Viktor Frankl, psikiater berkebangsaan Austria, menemukan logoterapi tersebut saat ia berada di kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz Polandia. Kamp konsentrasi seolah menjadi “laboratorium hidup” karena fasilitas sangat minim, manusia dalam keadaan kelaparan, dan sakit.

Salah satu kegiatan rutin para tahanan adalah kerja paksa seperti memasang rel kereta api bahkan mengubur mayat-mayat sesama tahanan. Frankl sebagai dokter psikiatri, selain ditugaskan di poliklinik juga menjalani kerja paksa seperti tahanan lainnya.

Berdasarkan pengalaman penderitaan tersebut, Frankl menyatakan meski dalam penderitaan dan tak dapat melihat indahnya dunia, masih tersisa sesuatu yang memberi makna pada eksistensi manusia: memikul penderitaan hidup dengan penuh keberanian dan harga diri.

Frankl, korban yang selamat dari penyiksaan itu, menyaksikan ada dua kecenderungan manusia dalam menghadapi situasi kamp konsentrasi. Kelompok pertama, mereka berperilaku serakah, beringas, mementingkan diri dan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Mereka putus asa dan bahkan bunuh diri saat menghadapi penderitaan.

Sebaliknya ada kelompok kedua yang berperilaku seperti orang kudus. Dalam puncak penderitaan, mereka masih dapat membagikan makanan, membantu sesama tahanan, merawat orang sakit, berbagi kue terakhir, menghibur mereka yang putus asa, dan mendoakan sesama tahanan yang menanti ajal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Kucing dan Anjing Butuh Vaksin Covid-19 Khusus?

Apakah Kucing dan Anjing Butuh Vaksin Covid-19 Khusus?

Oh Begitu
Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Fenomena
WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Oh Begitu
Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Fenomena
Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Fenomena
Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Oh Begitu
Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Oh Begitu
Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

Oh Begitu
BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

Fenomena
Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Fenomena
SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

Fenomena
Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Fenomena
IBD, Penyakit Autoimun di Saluran Cerna dari Gejala hingga Komplikasi

IBD, Penyakit Autoimun di Saluran Cerna dari Gejala hingga Komplikasi

Kita
komentar
Close Ads X