Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Kompas.com - 27/11/2020, 17:00 WIB
Ilustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo. SHUTTERSTOCK/Blue Planet StudioIlustrasi vaksin Pfizer 90 persen efektif berdasarkan pengamatan dari sekitar 43.000 relawan di Amerika Serikat (AS), hanya 94 orang yang terkonfirmasi Covid-19, sejak pemberian dosis kedua vaksin Covid-19 atau plasebo.


KOMPAS.com - Hasil sementara uji klinis fase 3 vaksin Covid-19 Sinovac sejauh ini aman dan tidak menunjukkan efek samping berat pada sukarelawan.

Jika uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac dapat berjalan dengan baik, Bio Farma berencana menyediakan 340 juta dosis vaksin pada tahun 2021.

Terkait kerja sama dengan perusahaan biotek lain, AstraZeneca dan Pfizer, Direktur Operasi Bio Farma Rahman Roestan mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan vaksin seluruh masyarakat Indonesia, tidak bisa hanya mengandalkan satu sumber.

"Namun, untuk potensi kerja sama, kita harus kaji betul, karena ada beberapa parameter yang harus dipertimbangkan," kata Rahman dalam konferensi pers bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) RI serta peneliti uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac dari Universitas Padjajaran, Kamis (26/11/2020).

Baca juga: Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac Aman

 

Lebih lanjut Rahman menjelaskan beberapa parameter pertimbangan kerja sama vaksin selain Sinovac, di antaranya bukan hanya masalah kecepatan dan kecukupan.

Akan tetapi, aspek kepraktisan di lapangan. Artinya, vaksin-vaksin tersebut secara teknis apakah dapat didistribusikan ke semua provinsi di Indonesia atau tidak.

"Sebab, kita ini negara kepulauan dengan kondisi iklim tropis, jadi tentu akan ada penyesuaian (ketahanan vaksin) yang harus dikaji betul, dikaji secara komprehensif," jelas Rahman.

Rahman menambahkan, kebutuhan vaksinasi untuk melindungi masyarakat dari pandemi ini tidak hanya diperlukan dari satu sumber dan untuk saat ini, yang diutamakan adalah kemandirian pengembangan vaksin Covid-19 sendiri. Hal itu sudah direncanakan bersama dengan konsorsium nasional.

Baca juga: WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

 

"Tetapi, itu butuh waktu, sedangkan untuk kecepatan, kita membutuhkan partner global yang sudah siap dengan uji klinis fase 3 dan beberapa parameter lainnya," jelas Rahman.

Kepala BPOM DR Penny K Lukito MCP juga menyampaikan bahwa suatu vaksin harus memenuhi beberapa aspek penting agar dapat memperoleh izin edar atau izin penggunaan.

Di antaranya aspek mutu, keamanan, dan efikasi atau kemanjuran dari vaksin atau obat yang dikembangkan.

Tentunya, setelah data hasil uji klinis fase 3 vaksin Covid-19 dapat diselesaikan dan menunjukkan bukti ketiga aspek tersebut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Dentuman di Bali, LAPAN Menduga Berasal dari Meteor Jatuh

Fenomena
WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

WHO: Tak Ada Bukti 33 Lansia di Norwegia Tewas Akibat Vaksin Covid-19

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Peneliti Ungkap Alasan Pneumonia Akibat Covid-19 Lebih Merusak Paru-paru

Oh Begitu
Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Menyingkap Meteor-Sangat Terang di Balik Dentuman Misterius Bali

Fenomena
Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Teka-teki Kumbang Bercahaya, Fosil 99 Juta Tahun Ini Beri Petunjuknya

Fenomena
Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Kenapa Sayap Kupu-kupu Lebih Besar dari Badan? Ahli Temukan Jawabannya

Oh Begitu
Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

Oh Begitu
Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Astronom Temukan Danau Terbesar di Salah Satu Satelit Saturnus

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

[POPULER SAINS] Bangkai Paus Terbesar Ditemukan | Ahli Bikin Tikus Lumpuh Berjalan | BMKG Ingatkan Potensi Awan Cumulonimbus

Oh Begitu
BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

BMKG: Jawa Barat Banyak Sesar Aktif, Masyarakat Perlu Waspada Potensi Gempa Bumi

Fenomena
Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Pestisida Bikin Lebah Kurang Tidur, Ini Dampak untuk Lingkungan

Fenomena
SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

SpaceX Cetak Rekor Dunia Luncurkan Satelit ke Luar Angkasa Terbanyak

Fenomena
Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Keren, Petir Biru Terekam dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Fenomena
IBD, Penyakit Autoimun di Saluran Cerna dari Gejala hingga Komplikasi

IBD, Penyakit Autoimun di Saluran Cerna dari Gejala hingga Komplikasi

Kita
Puncak Musim Hujan Indonesia, Ini Wilayah Waspada Risiko Bencana Hidrometeorologi

Puncak Musim Hujan Indonesia, Ini Wilayah Waspada Risiko Bencana Hidrometeorologi

Fenomena
komentar
Close Ads X