Ahli: Jangan Anggap Tabu Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi

Kompas.com - 25/11/2020, 19:30 WIB
. Shutterstock.

KOMPAS.com - Pembicaraan ataupun pendidikan terkait kesehatan seksual dan reproduksi, seringkali dianggap tabu atau tidak patut untuk diperbincangkan.

Namun, dr Sandeep Nanwani MMSc dari United Nations Population Fund (UNFPA) mengatakan, bahwa sebenarnya, banyak pemahaman yang keliru tentang pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi, dan harusnya dipahami oleh semua orang tidak hanya kalangan medis saja.

Hal ini disampaikan Sadeep dalam diskusi daring Webinar 1: Let's Talk About Sex dalam rangkain series #HarusDibahas oleh Reprodukasi, Jumat (20/11/2020).

Baca juga: Edukasi Seks Bisa Dilakukan Sejak Anak 2 Tahun, Bagaimana Caranya?

Untuk diketahui, Reprodukasi oleh Seribu Tujuan adalah sebuah komunitas Australia-Indonesia, yang menjadi wadah edukasi kesehatan seksual dan reproduksi (Kespro) untuk Indonesia.

Berdasarkan catatan BKKBN (2014) dan Survei Demografis dan Kesehatan (DHS Program -2017), 94 persen pria tidak tahu ke mana harus mencari informasi atau diskusi mengenai Kespro.

Berikutnya data terkait kesehatan seksual reproduksi menunjukkan 14,87 persen dilaporkan kebutuhan untuk mendapatkan kontrasepsi tidak terpenuhi, 12 persen kelahiran tidak diinginkan atau tidak pada waktunya, dan bahkan 53 persen masyarakat tidak mendapatkan informasi mengenai HIV/AIDS di bangku sekolah menengah.

Persepsi terkait Kesehatan Reproduksi

Umumnya ada banyak hal yang menjadikan pembelajaran atau pemberian materi tentang Kespro ini dianggap menjadi hal yang tabu atau tidak layak diperbincangkan. Di antaranya sebagai berikut:

- Pendidikan seksual mengajarakan seks

- Pendidikan seks tidak ada gunanya dan justru membahayakan anak muda

- Seks bebas akan meningkat jika pendidikan seks diberikan

Masalah utama yang mendasari banyaknya polemik persepsi tentang Kespro ini adalah penyalahgunaan materi seksual dan reproduksi yang berujung pada seks bebas oleh remaja dan pemuda.

Namun, sebenarnya pemuda dan remaja memiliki peran yang sangat krusial dalam meluruskan pemahaman-pemahaman yang keliru seperti ini.

Baca juga: Akan Tiba, Masa di Mana Seks untuk Beranak Usang, Bayi-bayi Akan Dibuat di Lab

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X