Kekebalan Virus Corona Bertahan Lebih Lama, Ini Efeknya pada Vaksin...

Kompas.com - 19/11/2020, 13:32 WIB
Ilustrasi vaksinasi yang diperoleh sebelumnya, menurut penelitian dapat melatih sistem kekebalan tubuh, sehingga di saat pandemi virus corona memberikan risiko infeksi Covid-19 yang lebih rendah. SHUTTERSTOCK/Africa StudioIlustrasi vaksinasi yang diperoleh sebelumnya, menurut penelitian dapat melatih sistem kekebalan tubuh, sehingga di saat pandemi virus corona memberikan risiko infeksi Covid-19 yang lebih rendah.

Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa sel B memori terdeteksi pada hampir semua kasus Covid-19 yang tampaknya seiring waktu memori sel tersebut terus mengalami peningkatan.

"Memori sel B untuk beberapa infeksi lain telah diamati dan ternyata berumur panjang, termasuk 60+ tahun setelah vaksinasi cacar, atau 90+ tahun setelah infeksi influenza," tulis peneliti dalam makalah tersebut.

Peneliti mengidentifikasi dua jenis sel T dan menurut data mereka menunjukkan bahwa memori sel T mungkin mencapai tingkatan yang lebih stabil.

Atau fase pembusukan cenderung lebih lambat, bahkan lebih lambat dari 6 bulan pertama pascainfeksi.

Baca juga: Covid-19 Mematikan Beberapa Orang, Studi Ungkap Sistem Kekebalan bisa Melawan Balik

 

Kendati demikian, studi ini masih memiliki keterbatasan, termasuk diperlukannya lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah temuan serupa juga akan muncul di antara kelompok kasus yang lebih besar di lebih banyak titik waktu.

"Secara keseluruhan, ini adalah studi yang sangat penting yang mengkonfirmasi keberadaan memori kekebalan terhadap virus corona, tetapi dengan variasi dari orang ke orang," kata Lawrence Young, profesor onkologi molekuler di University of Warwick.

Dalam sebuah pernyataan yang didistribusikan oleh Science Media Center yang berbasis di Inggris, Young mengungkapkan variasi tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa orang yang memiliki tingkat infeksi asimtomatik yang sangat rendah.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Taktik Cerdik Virus Hindari Sistem Kekebalan

 

"Mungkin diharapkan bahwa orang yang sebelumnya terinfeksi dengan respons kekebalan yang rendah akan rentan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2," imbuh Young yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Namun, Young menggarisbawahi bahwa ada informasi penting dalam studi tersebut, yakni respons kekebalan virus corona tersebut bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Ini memungkinkan kami terus berharap bahwa vaksin yang efektif akan mampu mendorong sistem kekebalan perlindungan yang berkelanjutan," jelas Young.

 

Halaman:


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X