Lubang Misterius di Es Laut Antartika, Ilmuwan Menduga Ini Penyebabnya

Kompas.com - 15/11/2020, 18:03 WIB
Polynya, lubang terbentuk di es laut di lepas pantai Antartika. Studi baru ungkap lubang misterius yang muncul pertama kali tahun 1973, diduga disebabkan siklon parah sebagai dampak dari sirkulasi atmosfer yang ekstrem. NASA EOSDIS/LANCE and GIBS/WorldviewPolynya, lubang terbentuk di es laut di lepas pantai Antartika. Studi baru ungkap lubang misterius yang muncul pertama kali tahun 1973, diduga disebabkan siklon parah sebagai dampak dari sirkulasi atmosfer yang ekstrem.


KOMPAS.com- Sebuah lubang misterius diketahui berada di antara es laut di lepas pantai Antartika yang pertama kali muncul tahun 1973.

Lubang tersebut berukuran sangat besar, bahkan diperkirakan bisa menelan California.

Dilansir dari Science Alert, Minggu (15/11/2020), hingga selama tiga musim dingin, lubang misterius itu masih tetap di tempatnya.

Namun, tampaknya sebagian besar telah menghilang sebelum muncul lagi pada tahun 2017, dengan mulut lubang yang semakin besar.

Mulut lubang raksasa ini terkadang berukuran seluas sebuah negara bagian yang disebut polynya, yakni area perairan terbuka yang dikelilingi oleh es laut.

Baca juga: Asal-usul Lubang Misterius Siberia, Ilmuwan Menduga Terbentuk oleh Ledakan Gas

 

Akan tetapi Weddell Polynya yang misterius, yang terjadi di atas daratan tinggi samudera Maud Rise, di perairan Laut Weddel di Samudra Selatan adalah contoh yang paling ekstrem dari fenomena lingkungan ini.

Lubang ini telah muncul sejak lama, bahkan jarang terjadi, namun cukup membingungkan para ilmuwan.

Pada tahun lalu, para peneliti menduga lubang itu terjadi akibat anomali iklim yang semuanya datang bersamaan dan menyebabkan polynya tersebut.

Studi lain yang dilakukan pada 2019 diketuai ilmuwan atmosfer Diana Francis, menyebut sebagai anomali yang terjadi sebagai dampak dari siklon parah yang dihasilkan oleh sirkulasi atmosfer.

Baca juga: NASA Potret 3 Lubang Misterius di Samudra Arktik

 

Siklon ini kemudian menarik es laut yang mengapung ke arah berlawanan dan menjauh dari mata badai, selanjutnya menciptakan lubang raksasa.

Francis, ilmuwan senior di Khalifa University, Uni Emirat Arab baru saja memimpin studi yang menjelaskan penyumbang lain terkait fenomena yang diabadikan sampai seakrang, yakni sungai atmosfer yang hangat, udara lembab.

Dalam studi baru, Francis dan timnya meneliti data atmosfer sejak tahun 1970-an. Mereka menemukan bahwa ada 'sungai di langit' dalam pembentukan peristiwa Weddell Polynya tahun 1973 dan 2017, yang sangat kuat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Kita
Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fenomena
Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Oh Begitu
10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

Kita
Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Fenomena
Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Fenomena
Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Oh Begitu
Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Oh Begitu
CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

Fenomena
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Oh Begitu
Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Oh Begitu
komentar
Close Ads X