Seri Baru Jadi Ortu: Cara Membedakan Anak Aktif dan Hiperaktif

Kompas.com - 11/11/2020, 12:05 WIB
Ilustrasi anak bermain di luar bersama teman Thinkstock/JupiterimagesIlustrasi anak bermain di luar bersama teman


KOMPAS.com - Anak yang aktif secara fisik tentu baik untuk kesehatan. Namun, ketika anak tampak terlalu aktif dan memiliki energi yang tak habis-habis, orangtua mulai khawatir apakah anak mereka termasuk hiperaktif.

Menurut dr. Catharine Mayung Sambo Sp.A (K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial RS Pondok Indah, secara umum tidak ada panduan atau perangkat yang mengukur kadar aktivitas anak dengan tepat untuk menyatakan apakah seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan, aktif atau hiperaktif.

Attention deficit hyperactivity disorder ( ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah gangguan perkembangan saraf kompleks yang dapat memengaruhi kesuksesan anak di sekolah.

Selain itu, anak dengan ADHD juga cenderung tidak percaya diri dan sulit membangun relasi yang baik dengan sekitarnya.

Baca juga: Studi Ungkap Bukti Kaitan Asupan Gula dengan ADHD hingga Gangguan Bipolar

Hal itu karena, ADHD mencakup kombinasi masalah yang terus-menerus, seperti kesulitan memertahankan perhatian, hiperaktif, dan perilaku impulsif.

Melansir Mayo Clinic, ADHD lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan, dan perilaku dapat berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Misalnya, anak laki-laki mungkin lebih hiperaktif dan anak perempuan cenderung lalai.

Meski sulit dikenali, gejala ADHD bisanya dimulai sebelum usia 12 tahun, dan pada beberapa anak, gejala tersebut mulai terlihat sejak usia 3 tahun.

Gejala ADHD bisa ringan, sedang atau berat, dan bisa berlanjut hingga dewasa.

“Skrining untuk gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) bisa dilakukan pada usia tiga tahun apabila ada keluhan dari orangtua, pengasuh, guru, atau orang terdekat lainnya,” kata Catharine.

Namun demikian, Catharine menambahkan, skrining dilakukan untuk menentukan tingkat risiko atau kemungkinan anak tersebut mengalami GPPH, sehingga masih mungkin anak yang tampaknya sangat aktif, hasil skriningnya masih normal.

Sebagian besar anak yang sehat di waktu tertentu juga mungkin tidak memerhatikan, hiperaktif, atau impulsif.

Apalagi, anak-anak prasekolah memang memiliki rentang perhatian yang pendek pada satu aktivitas.

Bahkan pada anak-anak yang lebih besar dan remaja, rentang perhatian sering kali bergantung pada tingkat minat.

Baca juga: Jangan Membentak Anak Hiperaktif untuk Diam, Ini Saran Ahli

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Kita
Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fenomena
Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Oh Begitu
10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

Kita
Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Fenomena
Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Fenomena
Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Oh Begitu
Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Oh Begitu
CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

Fenomena
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Oh Begitu
Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Oh Begitu
komentar
Close Ads X