Status Siaga, Apakah Gunung Merapi Akan Meletus dalam Waktu Dekat?

Kompas.com - 06/11/2020, 17:05 WIB
Gunung Merapi meletus dan mengeluarkan kolom abu, Minggu (17/11/2019). WhatsAppGunung Merapi meletus dan mengeluarkan kolom abu, Minggu (17/11/2019).

KOMPAS.com - Berdasarkan pantauan Badan Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, aktivitas Gunung Merapi menunjukkan peningkatan.

BPPTKG menaikkan status Gunung Merapi dari tingkat waspada ke siaga (level III), yang berlaku mulai 5 November 2020 sejak pukul 12.00 WIB.

Dengan demikian, apakah Gunung Merapi ini berpotensi meletus dalam waktu dekat?

Ahli vulkanologi, Surono mengatakan bahwa sebenarnya status siaga tersebut bukanlah untuk meramal apakah gunung akan meletus atau tidak.

"Walah, saya bukan tukang ramal letusan gunung api, karena status gunung bukan untuk meramal kapan dan berapa besar letusan gunung api yang dipantau, menurut saya loh," kata Surono yang akrab disapa Mbah Rono kepada Kompas.com, Jumat (6/11/2020).

Baca juga: Gunung Merapi Siaga, Ahli Prediksi Tak Akan Sedahsyat Letusan 2010

Berdasarkan data kegempaan yang diperhatikan Mbah Rono, meskipun data tersebut belum cukup kuat, jika terjadi letusan dalam waktu dekat, maka letusannya tidak sebesar erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010.

"Karena tidak tercatat gempa vulkanik dalam, sangat dominan kegempaan vulkanik dangkal," jelasnya.

Namun, apabila benar-benar akan terjadi letusan dalam waktu dekat, maksimum kejadian letusan itu seperti pada tahun 2006, di mana akan ada guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran.

Mbah Rono menjelaskan, letusan eksplosif dapat terjadi jika kegempaan guguran menurun tajam dan berhenti, maka gempa vulkanik dalam tetap seperti saat ini atau meningkat.

Akan tetapi, bila gempa bumi guguran terus berlangsung dengan jumlah yang signifikan di atas 10 kejadian per 6 jam, sedang kegempaan vulkanik dangkal cenderung menurun, maka Gunung Merapi bisa menuju keseimbangan baru.

Kondisi menuju keseimbangan baru tersebut terjadi dengan banyaknya embusan asap, tetapi bisa tanpa letusan.

"Dari mana fenomena ini dapat diketahui? Dari hasil pengamatan day by day (hari demi hari), jam demi jam," tegasnya.

"Saya tidak tahu ukuran waktu dekat yang dimaksud, jam, hari, minggu atau bulan. Tapi, semoga Gunung Merapi ini mandali- aman dan terkendali. Merapi sangat jujur, meletus atau tidak meletus," imbuhnya.

Baca juga: Erupsi Gunung Merapi di Level Waspada, Ini 5 Rekomendasi KESDM

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Obesitas Bisa Jadi Pemicu Penyakit, Ketahui Penyebab dan Cara Mengukurnya

Kita
Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fosil Dinosaurus di Argentina Berasal dari Keluarga Titanosaurus Tertua

Fenomena
Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Vaksin Anhui China Berbasis Rekombinan Segera Digunakan di Uzbekistan

Oh Begitu
10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

10 Pertanyaan Awam soal Vaksin Covid-19 dan Penyakit yang Dimiliki, Ini Jawaban IDI

Kita
Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Sejarah Kehidupan Komodo, Ahli Sebut Asalnya Justru dari Australia

Fenomena
Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Varian Virus Corona Brasil Disebut Ilmuwan Lebih Mudah Menular

Fenomena
Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Setahun Pandemi Covid-19, Layanan Telemedis Masih Dibutuhkan Masyarakat Indonesia

Oh Begitu
Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Lukisan Perjamuan Terakhir Abad 16 Diyakini Potret Keluarga, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Gejala Mirip Varian Asli

Oh Begitu
CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

CDC: 7 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dan Mempertahankannya

Oh Begitu
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk Indonesia, Ini Macam Varian Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

[POPULER SAINS] Kasus Covid-19 Global Naik | Mobil Listrik Lebih Baik?

Fenomena
Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Indonesia, Ini 4 Hal yang Perlu Diketahui

Oh Begitu
Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Setahun Covid-19 Indonesia Ini Inovasi Karya Anak Bangsa Lawan Pandemi Corona

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Penyebab dan Cara Mengatasi Cegukan, Tahan Napas hingga Kompres Dingin

Oh Begitu
komentar
Close Ads X