5 Fakta Masalah Psikologis Masyarakat Indonesia Selama Pandemi

Kompas.com - 20/10/2020, 20:02 WIB
Ilustrasi cemas kitzcornerIlustrasi cemas

KOMPAS.com - Di masa awal pandemi Covid-19 hadir di Indonesia, banyak masyarakat di Indonesia yang merasa cemas dan panik.

Sehingga, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia) sengaja berkolaborasi untuk mengadakan penelitian dalam melakukan layanan pada masyarakat, terkait masalah psikologis masyarakat selama pandemi Covid-19.

Data gambaran masalah psikologis masyarakat tersebut dihimpun melalui layanan Swaperiksa Web. 

Baca juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia, Ini 5 Saran Psikologis Hadapi Pandemi Covid-19

"Sejak ditemukan kasus Covid-19 pertama kali (di Indonesia), PDSKJI segera meluncurkan Swaperiksa Web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam, sekaligus untuk membantu masyarakat menangani perasaan tidak nyaman," kata DR. Dr. Diah Setia Utami SpKJ MARS selaku Ketua umum PDSKJI.

Hal itu disampaikan dalam diskusi daring bertajuk Peran Psikolog Klinis dan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dalam Mendukung Kesehatan Jiwa Mayarakat di Masa Pandemi Covid-19, Rabu (14/10/2020).

Berikut 5 fakta masalah psikologis masyarakat yang mengakses Swaperiksa Web PDSKJI:

1. Masalah psikologis

Selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5661, yang berasal dari 31 provinsi.

Temuan yang didapatkan adalah 68 persen di antara mereka mengalami masalah psikologis dan 32 persen tidak ada masalah psikologis.

2. Gejala cemas

Berikut dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67,4 persen yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas.

Gejala kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia di bawah 30 tahun, dengan uraian sebanyak 75,9 persen terjadi pada kategori di bawah 20 tahun dan 71,5 persen pada usia 20-29 tahun. 

Ternyata untuk usia di atas 30 tahun juga tidak jauh berbeda tingkat masalah psikologis berupa gejala kecemasan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Pada usia partisipan 30-39 tahun, sebanyak 58,8 persen mengalami gejala cemas. Diikuti sebanyak 48,7 persen pada usia 40-49 tahun, 42 persen untuk usia 50-59 tahun dan 47,1 peren adalah mereka yang berusia di atas 60 tahun.

Baca juga: Hadapi New Normal, Jangan Abaikan Rasa Cemas yang Anda Rasakan

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X