Yurianto: Sekalipun Ada Vaksin, Protokol Kesehatan Tetap Harus Jalan

Kompas.com - 19/10/2020, 18:03 WIB
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang juga Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menjawab pertanyaan saat wawancara di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (18/6/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak ADirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang juga Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menjawab pertanyaan saat wawancara di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (18/6/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.


KOMPAS.com- Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 belum juga berakhir, dan tidak diketahui pasti kapan akan berakhir.

Sementara itu, jumlah kasusnya juga terus meningkat baik secara global maupun di Indonesia ini sendiri.

Update data terakhir pada pukul 16.18 WIB, Minggu (18/10/2020), tambahan kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia mencapai 4.105 kasus. Sehingga akumulasi total kasus sejak 2 Maret 2020 hingga kemarin mencapai 361.867 kasus orang terkonfirmasi positif di Indonesia.

Bersamaan dengan jumlah kasus yang terus meningkat tersebut, para ahli dan pakar di bidangnya tengah melakukan banyak penelitian yang dapat membantu menanggulangi pandemi Covid-19 ini, termasuk penemuan obat-obatan dan vaksin khusus Covid-19.

Baca juga: 132 Dokter Meninggal karena Covid-19, Vaksin Terbaik Protokol Kesehatan

 

Namun, menanggapi persoalan vaksin ini, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Achmad Yurianto mengatakan, meskipun nanti vaksin sudah bisa diberikan dan didistribusikan secara merata di seluruh Indonesia, protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan.

Yuri mengatakan, kita harus memahami bahwa vaksinasi itu bukanlah lini pertama penanggulangan Covid-19 ini.

"Juga vaksin tidak boleh dianggap sebagai penyelesaian akhir dari pandemi Covid-19 ini,"  kata Yuri dalam press briefing Update Kesiapan Vaksin Covid-19 di Indonesia, Senin (19/10/2020).

Oleh sebab itu, persepsi bahwa kalau sudah ada vaksin, maka boleh mengucapkan selamat tinggal atau tidak lagi melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak aman fisik dan cuci tangan, itu adalah keliru.

Baca juga: Abai dengan Protokol Pencegahan Covid-19? Bisa Jadi Anda Narsistik atau Psikopat

 

"Ini persepsi yang salah. Tetap harus menggunakan masker, tetap menjaga jarak, tetap mencuci tangan sekalipun sudah divaksin," ujarnya.

Mengapa vaksin corona bukan penyelesaian pandemi Covid-19?

Menurut Yuri, dengan vaksinasi kita sangat berharap memberikan perlindungan terhadap kondisi individu agar tidak kemudian jatuh sakit jika virus SARS-CoV-2 mulai menginfeksi tubuh.

"Tapi (vaksin) tidak melindungi paparan atau terkena virusnya," tuturnya.

Ada satu hal yang tetap harus diingat bahwa lini pertama penanggulangan pandemi ini adalah melaksanakan protokol kesehatan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X