Inovasi Baru, Bungkus Saus Ini Bisa Dimakan dan Ramah Lingkungan

Kompas.com - 17/10/2020, 12:04 WIB
Wadah saus ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut. NotPlaWadah saus ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut.

KOMPAS.com - Perusahaan rintisan bernama Notpla baru-baru ini menciptakan bungkus saus alternatif yang terbuat dari rumput laut.

Inovasi ini menjadi kabar menggembirakan karena bungkus tersebut nantinya dapat terurai secara alami dan bahkan bisa dimakan.

Seperti dikutip dari Science Alert, Jumat (16/10/2020); terobosan tersebut diharapkan bisa mengurangi 300 juta ton sampah plastik yang dihasilkan manusia setiap tahun.

Baca juga: Habitat Penguin di Ujung Dunia Terancam Sampah Plastik

Bungkus saus Notpla disebut dapat terurai secara alami dalam waktu empat hingga enam minggu. Durasi tersebut jauh lebih cepat dibandingkan dengan plastik sintetis yang butuh waktu hingga beberapa ratus tahun.

Bahan pembuat plastik rumput laut ini dibudidayakan di Prancis utara. Rumput laut kemudian dikeringkan dan digiling menjadi bubuk. Setelah diberi cairan kental, adonan itu pun membentuk zat seperti plastik.

Pendiri Notpla menyebut rumput laut layak menjadi bahan alternatif karena lebih ramah lingkungan dan tak membutuhkan lahan atau waktu untuk tumbuh.

Baca juga: Mahasiswa Unpad Gagas Kafan Jenazah Covid-19 dari Plastik Pati Singkong

"Ini salah satu sumber daya yang paling melimpah. Rumput laut yang kami gunakan bahkan tumbuh hingga 1 meter per hari tanpa pupuk dan penyiraman sehingga bisa kami gunakan sebagai sumber daya untuk waktu yang lama," ungkap Rodrigo Garcia, salah satu pendiri Notpla.

Selama ini, plastik sekali pakai merajalela dalam kehidupan sehari-hari kita dan pandemi telah memperburuk masalah limbah plastik.

Survei yang dilakukan oleh pendiri Everyday Plastic, Daniel Webb, mengungkap bahwa 8 juta ton plastik berakhir di laut setiap tahun.

Sementara selama karantina wilayah, survei menyebut setiap rumah tangga membuang sekitar 128 potongan plastik dalam satu minggu. Artinya, ada kenaikan hingga 25 persen dibanding sebelum dilakukannya karantina wilayah.

Baca juga: Peneliti Prediksi 14 Juta Ton Plastik Mengendap di Dasar Lautan

"Ini semua tentang dampak. Kami memulai proyek karena ingin menjadi bagian dari solusi untuk krisis plastik," tambah Pierre Paslier, salah satu pendiri Notpla lainnya.

Tak hanya wadah saus, perusahaan rintisan ini juga menyiapkan wadah makanan dan minuman sekali pakai, pakaian, dan sekrup untuk furnitur yang lebih ramah lingkungan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X