Kompas.com - 14/10/2020, 10:03 WIB
Ilustrasi kandidat vaksin corona yang masih dalam proses uji klinis. SHUTTERSTOCK/SCOTT CORNELLIlustrasi kandidat vaksin corona yang masih dalam proses uji klinis.

KOMPAS.com - Perusahaan farmasi raksasa AS Johnson & Johnson menghentikan sementara uji klinis vaksin Covid-19 tahap akhirnya setelah seorang partisipan didiagnosis dengan penyakit yang tidak dijelaskan.

Penghentian ini pertama kali dilaporkan pada hari Senin (12/10/2020) oleh situs berita layanan kesehatan Stat, yang mendapatkan dokumen yang dikirim perusahaan itu kepada para peneliti luar.

Johnson & Johnson baru meluncurkan tes skala luas terhadap vaksin eksperimental dosis tunggalnya. Uji tersebut melibatkan 60 ribu sukarelawan di lebih dari 200 lokasi di dalam dan di luar Amerika Serikat, termasuk Argentina, Brazil, Chili, Meksiko dan Afrika Selatan.

Perusahaan itu mengemukakan dalam suatu pernyataan bahwa apa yang disebut “kejadian tidak menguntungkan” seperti sakit dan kecelakaan merupakan bagian yang diperkirakan terjadi dalam suatu uji klinis, khususnya dengan partisipan dalam jumlah besar.

Disebutkan pula bahwa penghentian itu merupakan “jeda penelitian” dan bukan “penangguhan klinis” yang diberlakukan oleh badan regulator kesehatan resmi.

Baca juga: 5 Fakta Vaksin Covid-19 di Indonesia, dari Sasaran hingga Harga

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Karena dapat diberikan dalam dosis tunggal, vaksin Johnson & Johnson memiliki keunggulan signifikan atas tiga vaksin potensial lainnya, yang memerlukan dua dosis.

Vaksin dosis tunggal tidak perlu harus dibekukan dalam suhu sangat dingin, membuatnya mudah digunakan dalam kampanye imunisasi massal.

Uji coba vaksin Johnson & Johnson ini adalah yang kedua yang dihentikan setelah seorang sukarelawan jatuh sakit usai mendapat vaksin itu.

Perusahaan farmasi raksasa berbasis di AS, AstraZeneca, menghentikan uji tahap akhir vaksin yang dikembangkan dengan Universitas Oxford awal bulan lalu setelah seorang sukarelawan di Inggris didiagnosis dengan myelitis transversa, suatu sindrom peradangan yang mempengaruhi sumsum tulang belakang dan kerap dipicu oleh infeksi virus.

Uji tahap akhir vaksin itu telah dimulai kembali di Inggris, Brazil, India dan Afrika Selatan, tetapi masih ditangguhkan di AS.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X